Riau

Kreatif! Narapidana Lapas Kuansing Produksi Batik Asli Kota Jalur

Raja Adil Siregar - detikSumut
Rabu, 29 Jun 2022 22:27 WIB
Potret pembuatan batik oleh warga binaan di Lapas Kuantan Singingi (dok Humas Kemenkumham Riau)
Foto: Potret pembuatan batik oleh warga binaan di Lapas Kuantan Singingi (dok Humas Kemenkumham Riau)
Pekanbaru -

Kreatifitas Narapidana Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kuantan Singingi (Kuansing), Riau sangat layak diacungi jempol. Bagaimana tidak, belasan narapidana mampu memproduksi batik khas Kota Jalur.

Adalah DK (30), narapidana yang divonis 8 tahun itu awalnya merasa hancur usai jadi narapidana. DK merasa tertimpa musibah besar atas kasus yang menjeratnya.

"Saya menyanggka masuknya ke penjara adalah musibah besar. Tapi ternyata ada hikmah dan berkah dibalik itu semuanya," kata DK, Rabu (29/6/2022).


Semangatnya bangkit setelah dia dan 19 warga binaan dari Lapas Kelas IIB Teluk Kuantan terpilih mengikuti pelatihan untuk membuat batik Khas Kuansing.

"Saya bersyukur setelah terpilih dari 380 penghuni Lapas dan mengikuti pelatihan membuat batik Khas Kuansing. Apalagi ada perjanjian kerjasama antara Lapas, Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan," kata DK.

Selama ikut pelatihan, DK akhirnya busa membuat batik khas Kuansing yang saat ini sedang viral. Tentu saja, kreativitas lahir berkat bantuan instruktur yang juga didatangkan dari Asosiasi Batik Kuantan Singingi.

Batik Kuansing sendiri saat ini sedang melejit namanya. Banyak pejabat Riau mulai dari gubernur dan wagub, bupati serta ibu-ibu pejabat lain memakainya.

Belum lagi sejak ada surat edaran Bupati Kuansing untuk pakaian dinas batik yang mengutamakan motif Batik Kuansing pada akhir Tahun 2021 lalu. Permintaan di pasar semakin membludak.

"Batik Kuansing saat ini semakin diminati semua kalangan, baik itu kalangan anak muda, masyarakat ataupun eksekutif dan perkantoran. Ini peluang dan modal usaha juga bagi kami nantinya," kata DK.

Kepala Lapas Kuansing, Bejo yang selalu mendampingi saat pelatihan juga sangat puas dengan kreatifitas warga binaannya. Sependapat dengan DK, membuat batik dapat dijadikan modal dan bekal setelah narapidana menghirup udara bebas.

"Pada dasarnya sesuai dengan sistem pemasyarakatan setiap warga binaan berhak mendapat pembinaan. Binaan ini berupa pembinaan mental kerohanian, skil, keterampilan dan olahraga. Tidak tekecuali membatik ini," katanya.

Bejo optimis keterampilan membatik yang digeluti warga binaan dapat menjadi bekal mencari nafkah. Terutama setelah selesai menjalani masa hukumannya.

"Harapan kita ini menjadi bekal mencari nafkah setelah selesai masa hukuman. Ini jadi modal," katanya.

Khusus kerjasama dengan berbagai pihak, pihak lapas dan warga binaan tidak perlu lagi pusing-pusing memikirkan modal dan pemasaraan. Sebab semua akan dibantu mulai dari produksi sampai penjualan hasil karya kain batik tersebut.

"Dalam kesempatan ini mereka diajarkan buat beberapa motif seperti motif Jalur, motif perahu baganduang, motif takuluak berembai, motif dayung, motif randai dan sebagainya. Masing-masing motif memiliki filosofi yang berbeda," katanya.



Simak Video "Temuan Komnas HAM soal Lapas Yogya: Napi Dipukul Pakai Kelamin Sapi"
[Gambas:Video 20detik]
(ras/bpa)