Pemilik Klaim Petani Rugi Rp 153,6 M Akibat Kapal Ditahan TNI AL

Tim detikSumut - detikSumut
Minggu, 15 Mei 2022 19:54 WIB
Kapal membawa 34 kontainer bahan baku minyak goreng diamankan di Medan
Foto: Kapal membawa 34 kontainer bahan baku minyak goreng diamankan di Medan (Datuk/detikSumut)
Medan -

Kapal MV Mathu Bhum ditahan TNI AL karena kedapatan membawa 34 kontainer bahan baku minyak goreng (migor) yang akan diekspor ke Malaysia. Pemilik kapal menyebut petani yang akan melakukan ekspor mengalami kerugian hingga ratusan miliar lantaran barang yang ada di kapal mulai membusuk.

Sudah lebih dari sepekan kapal tersebut ditahan oleh personel TNI AL. "Barang di kapal itu bukan hanya bahan baku migor, tapi banyak barang hasil pertanian. Sudah lebih dari seminggu barang tidak bisa dikirim lantaran ikut ditahan," kata Landen Marbun, pengacara PT Regional Container Lines-perusahaan pemilik kapal MV Mathu Bhum kepada wartawan, Minggu (15/4/2022).

Saat memberikan keterangan dia turut didampingi Hisar M Sitompul, Sunari, Sahat Sinaga, Bornok Simanjuntak Rinaldo, Budi Baik, Polmar dan Ian Tambunan yang juga tergabung di Kantor Hukum Landen Marbun.


Landen menambahkan ada 114 teus barang di kapal MV Mathu Bhum yang rusak akibat membusuk. Di mana 36 teus merupakan muatan sayur dari petani Berastagi senilai Rp 3,6 miliar serta 78 teus berisikan udang dan ikan beli dari penghasil tambak senilai Rp 100 miliar.

Di sisi lain, menurut Landen masih ada 453 teus lainnya yang berisikan komoditas andalan agrobisnis di Sumut seperti kopi, pinang, kayu olahan, sapu lidi, rokok dan sebagainya.

"Sekitar 100 teus dari 453 teus itu nilainya sekitar Rp 50 miliar lebih. Ini akan menjadi total lost adalah biji kopi, buah biji pinang, sapu lidi, dan daun nipah. Bayangkan saja 100 teus hasil agribisnis petani kecil juga menjadi busuk hanya karena informasi salah," bebernya.

"Total estimasi kerugian langsung dari petani sayur dan petani tambak Sumatera Utara mencapai Rp 153,6 miliar," ungkapnya.

Selain itu kerugian lain adalah kepercayaan dari pihak yang akan membeli barang dari Indonesia yang akan berkurang. Sebab, tidak menepati janji pengiriman.

"Ini kerugian yang tidak kalah besar, kepercayaan dari pembeli di luar negeri. Akibatnya merek dagang akan hancur, nilainya bahkan lebih dari ratusan miliar. Ini barang ekspor dan pemerintah sedang serius mendorong agar ekspor negara kita bisa meningkat," kata Landen.

Landen pun mempertanyakan kepada pihak TNI AL siapa yang akan bertanggung jawab perihal kerugian yang dialami oleh petani sayur maupun petani tambak.

"Dalam waktu dekat kami akan layangkan surat permohonan perlindungan hukum ke KSAL (Kepala Staf Angkatan Laut). Kami yakin ini ada yang salah informasi dan laporan kepada pimpinannya, di mana laporan yang diberikan tidak utuh sehingga informasinya yang sampai kepada KSAL tidak benar," ungkapnya.

Kami meyakini bahwa KSAL dan mabes AL sangat objektib dan taat Hukum dalam masalah ini. Kembali eks anggota DPRD Medan ini menegaskan bahwa 34. kontainer bahan baku migor yang dipersoalkan oleh TNI AL belawan telah mengantongi seluruh dokumen perizinan yang dibutuhkan untuk ekspor.

Sementara itu TNI AL dalam hal ini Danlantamal memastikan proses penyidikan terhadap Kapal MV Mathu Bhum yang kedapatan membawa 34 bahan baku migor terus berjalan. TNI AL tidak mengindahkan keberatan pemilik kapal.

"Sementara masih proses penyelidikan, jika proses penyelidikan sudah selesai nanti akan disampaikan keterangan pers oleh Komandan Lantamal I," ujar Kadispen Lantamal I Belawan Letkol Laut (KH) Rully Ramadhiansyah.

Rully belum menjelaskan status awak kapal yang membawa MV Mathu Bhum, apakah masih ditahan bersama kapal atau justru telah dilepas.

"Mohon waktu ya, saya koordinasikan dulu dengan yang di lapangan," ungkapnya.



Simak Video "Momen TNI Selamatkan PMI Ilegal Berlumpur yang Hendak ke Malaysia"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)