Bengkulu

Anggota DPRD: Penurunan Harga TBS di Bengkulu Tidak Transparan

Hery Supandy - detikSumut
Kamis, 28 Apr 2022 15:31 WIB
A worker transports palm oil fresh fruit bunches during harvest at a plantation in Kampar regency, Riau province, Indonesia April 26, 2022. Picture taken April 26, 2022. Picture taken April 26, 2022. REUTERS/Willy Kurniawan
Ilustrasi TBS (Foto: REUTERS/WILLY KURNIAWAN)
Bengkulu -

Komisi II DPRD Provinsi Bengkulu melakukan inspeksi mendadak atau sidak ke PT Agrindo Indah Persada (AIP) dan PT Bengkulu Sawit Lestari (BSL) II, dua pabrik crude palm oil (CPO).

Dari hasil sidak tersebut, Komisi II membuat kesimpulan sementara yakni pabrik CPO diduga tidak transparan dalam melakukan penurunan harga tandan buah segar (TBS).

"Untuk sementara kita berkesimpulan, penurunan harga TBS terkesan dilakukan sepihak oleh perusahaan," ujar anggota Komisi II DPRD Provinsi Bengkulu, Usin Abdiputra Sembiring, Kamis (28/4/2022).


Sidak itu dilakukan, kata dia, setelah pihaknya mendapat keluhan dari masyarakat khususnya petani terkait turunnya harga TBS.

"Kita sengaja menyidak dua pabrik CPO guna mengetahui secara pasti alasan hingga diturunkannya harga TBS, yang berdampak terhadap perekonomian petani kelapa sawit. Apalagi saat ini sama-sama kita ketahui jika, penurunan harga TBS itu bertentangan dengan Surat Edaran (SE) Direktorat Jendral Perkebunan Kementerian Pertanian," katanya.

Menurut dia, dua pabrik CPO yang dikunjungi Komisi II sama sekali tidak memiliki kebun inti, sehingga hanya mengandalkan TBS dari kebun masyarakat.

"Silakan pemerintah daerah mengevaluasi pabrik CPO yang bisa merusak kesejahteraan para petani dan tidak membuat perekonomian masyarakat tumbuh," ujar Usin.

Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah sudah meminta agar pabrik CPO tidak menurunkan harga TBS secara sepihak. Dia mengimbau petani sawit melapor jika ada pabrik CPO yang nakal.

"Kita minta pabrik CPO tidak menurunkan harga TBS secara sepihak. Jika ada silakan sampaikan dan akan ada sikap tegas nantinya," kata Rohidin Mersyah.

Sebelumnya sejumlah petani sawit di Bengkulu membiarkan sawit mereka membusuk dan memilih tidak panen. Hal ini karena harga kelapa sawit di pabrik anjlok hingga Rp 950 per kilogram.

Salah seorang petani sawit Bengkulu Tengah, Aminas, mengatakan sejak anjloknya harga kelapa sawit menyentuh harga Rp 950 per kilogram membiarkan buah kelapa sawit membusuk tidak dipanen.

"Harga anjlok hanya Rp 950 per kilogram, kalau dipanen tidak mencukupi biaya panen dan angkutnya, jadi saya biarkan membusuk saja," kata Aminas, Selasa (26/4/2022).

Aminas menjelaskan, harga kelapa sawit anjlok berlangsung dalam seminggu terakhir. Padahal pada Maret dan awal April harga sawit sempat menyentuh harga tertinggi Rp 3.200 per kilogram.

Jatuhnya harga buah sawit itu sangat disayangkan petani terlebih saat menjelang lebaran Idul Fitri 1443 Hijriah.



Simak Video "Gempa 5,4 M Guncang Perairan Bengkulu"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)