Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengancam kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS). Petugas menemukan pola kebakaran berulang di sejumlah lokasi, termasuk lahan yang setelah terbakar telah ditanami jagung.
Kepala Balai TN Berbak dan Sembilang Yunaidi mengatakan karhutla di kawasan tersebut bukan persoalan baru. Beberapa lokasi yang kini terbakar disebut pernah mengalami kejadian serupa pada 2015 dan 2019.
"Kebakaran di kawasan TN Berbak dan Sembilang merupakan peristiwa yang berulang di lokasi yang sama," katanya, Rabu (23/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan pemantauan aplikasi Sipongi pada 23 September, masih terdapat 11 titik panas level sedang. Sebanyak 9 titik berada di kawasan Berbak, sedangkan 2 titik lainnya terpantau di wilayah TN Sembilang.
Yunaidi mengatakan keberadaan hotspot tidak selalu menggambarkan kondisi api di permukaan. Pada lahan gambut, bara dapat bertahan di bawah tanah dan mengeluarkan asap meski api tidak lagi terlihat.
Kondisi itu membuat penanganan karhutla di kawasan taman nasional membutuhkan waktu panjang. Petugas harus melakukan pendinginan berulang untuk memastikan bara di dalam gambut benar-benar mati.
"Karakter gambut memang membutuhkan proses pendinginan. Bisa sampai 13 hari secara terus-menerus untuk memastikan api di lapisan dalam benar-benar padam," ujarnya.
Selain karakter lahan, petugas menghadapi persoalan akses. Sejumlah titik kebakaran sulit dijangkau melalui jalur darat, sementara sumber air di sekitar lokasi juga terbatas.
Karhutla juga cepat berkembang karena kawasan yang terbakar banyak ditumbuhi alang-alang dan paku-pakuan yang mengering selama musim kemarau.
Namun, Yunaidi menyebut faktor alam bukan penyebab utama kebakaran. Dia mengatakan hasil penelitian menunjukkan sekitar 99 persen kejadian karhutla berkaitan dengan aktivitas pembakaran.
"Berdasarkan hasil penelitian, 99 persen itu dibakar. Kalau alam kecil sekali kemungkinan terbakar kecuali petir," katanya.
Salah satu indikasi aktivitas pembakaran ditemukan di Desa Rantau Rasau, Kecamatan Berbak. Petugas mendapati lokasi bekas kebakaran telah ditanami jagung ketika dilakukan pengecekan.
"Buktinya saat tim datang lokasi bekas kebakaran sudah ditanam jagung," ungkapnya.
Sementara itu, kebakaran di Dusun Sungai Palas, Kecamatan Nipah Panjang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, memiliki kronologi berbeda. Api disebut berasal dari luar kawasan taman nasional sebelum akhirnya merembet masuk akibat tiupan angin.
Yunaidi menegaskan kawasan yang pernah terbakar tetap membutuhkan pengawasan. Selain mencegah api kembali muncul, pemantauan juga diperlukan untuk memastikan tidak ada bara yang masih bertahan di bawah permukaan gambut.
"Yang terlihat padam di atas belum tentu selesai di bawah. Karena itu pemantauan tetap dilakukan sampai kondisi kawasan benar-benar aman," ujarnya.
