Hujan 3 Hari Berturut-turut Redam Karhutla di Muratara, Nihil Titik Panas

Sumatera Selatan

Hujan 3 Hari Berturut-turut Redam Karhutla di Muratara, Nihil Titik Panas

M Rizky Pratama - detikSumbagsel
Selasa, 22 Sep 2026 21:40 WIB
Ilustrasi hujan di Makassar
Foto: Ilustrasi hujan (Nur Ainun/detikSulsel)
Muratara -

Hujan mengguyur sejumlah wilayah di Sumatera Selatan selama tiga hari berturut-turut. Kondisi ini berdampak pada penurunan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara).

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Muratara, Mugono mengatakan hujan yang turun sejak Sabtu (19/9/2026) hingga Selasa (22/9/2026) membuat kondisi karhutla di Muratara mereda. Untuk hari ini, Mugono mengatakan belum ditemukan adanya hotspot di Muratara.

"Alhamdulillah tiga hari ini hujan dan hari ini belum ada laporan. Kalau terakhir terdata kemarin sempat ada 41 titik, untungnya hari ini belum ada, mudah-mudahan tidak ada lagi. Namun kita tetap standby memantau perkembangan di lapangan," kata Mugono, Selasa (22/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mugono mengatakan hujan turut berpengaruh terhadap kondisi kualitas udara di Muratara. Namun, berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), kualitas udara di wilayah tersebut masih berada dalam kategori tidak sehat.

"Kalau untuk kondisi kualitas udara berdasarkan ISPU menunjukkan masih berada pada kategori tidak sehat. Tapi kalau hujan terus ke depannya mungkin kualitas udara akan membaik," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Selama periode penanganan karhutla, Mugono mengatakan pihak BPBD Muratara cukup sering menerima laporan kebakaran di sejumlah wilayah. Dalam sehari, petugas bahkan bisa menerima hingga empat atau lima laporan karhutla.

"Waktu awal bulan September memang sering terjadi kejadian karhutla. Kadang empat kali sekaligus sehingga kadang kita tidak sempat istirahat," ungkapnya.

Dari tujuh kecamatan di Muratara, terdapat tiga wilayah yang menjadi lokasi dengan kejadian karhutla cukup banyak, yakni Kecamatan Rawas Ilir, Karang Dapo, dan Karang Jaya.

"Titik karhutla yang paling banyak daerah Rawas Ilir, Karang Dapo dan Karang Jaya. Hal itu karena banyak lahan gambut," jelasnya

Terkait penyebab karhutla, Mugono mengatakan pihaknya menduga sebagian kebakaran dipicu oleh puntung rokok. Selain itu, kebakaran juga diduga berasal dari aktivitas pembakaran rumput oleh pemilik lahan untuk membersihkan hingga membuka lahan.

"Penyebab dugaan karena puntung rokok, bakar bekas rumput terus lupa dimatikan sehingga menyambar. Ada juga yang sengaja untuk buka lahan," tuturnya.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads