Dalam pelaksanaan upacara bendera Hari Pahlawan 2025 akan dilakukan pembacaan teks amanat pembina upacara. Panitia menyiapkan teks tersebut dan memasukkan dalam susunan acara.
Teks amanat adalah pesan moral atau nasihat yang disampaikan pembina upacara terkait suatu peringatan atau kegiatan yang digelar. Dalam hal Hari Pahlawan, teks amanat akan berisi pesan-pesan penyemangat untuk membangkitkan nasionalisme, jiwa patriotisme, dan tanggung jawab.
Dilansir laman Kementerian Sosial, inilah teks amanat Hari Pahlawan 2025 yang bisa dibacakan pada saat upacara bendera. Simak dan salin bila perlu.
Teks Amanat Pembina Upacara Hari Pahlawan 2025
Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan.
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
Hari ini, di bawah langit Indonesia yang merdeka,
Kita menundukkan kepala penuh hormat mengenang para pahlawan bangsa. Mereka bukan sekadar nama yang terukir di batu nisan, melainkan cahaya yang menerangi jalan kita hingga hari ini.
Dari Surabaya hingga Banda Aceh, dari Ambarawa hingga Biak, mereka berjuang bukan demi dirinya sendiri, tetapi demi masa depan bangsa yang bahkan belum mereka kenal, yaitu kita semua yang berdiri di sini hari ini.
Para Pahlawan mengajarkan kepada kita bahwa kemerdekaan tidak jatuh dari langit. Kemerdekaan lahir dari kesabaran, keberanian, kejujuran, kebersamaan, dan keikhlasan.
Karenanya, ada tiga hal yang dapat kita teladani dari para pahlawan bangsa:
PERTAMA, KESABARAN PARA PAHLAWAN.
Mereka sabar menempuh ilmu, sabar menyusun strategi, sabar menunggu momentum, dan sabar membangun kebersamaan di tengah segala keterbatasan. Mereka tetap bersabar meski menghadapi perbedaan pandangan dan jalan perjuangan.
Dari kesabaran itulah lahir kemenangan, karena mereka tahu bahwa kemerdekaan tidak diraih dengan tergesa-gesa, tetapi ditempa oleh waktu dan keikhlasan.
KEDUA, SEMANGAT UNTUK MENGUTAMAKAN KEPENTINGAN BANGSA DI ATAS SEGALANYA.
Setelah kemerdekaan diraih, para pahlawan tidak berebut jabatan, tidak menuntut balasan, tidak mengincar apa yang ditinggalkan penjajah. Mereka justru kembali ke rakyat, mengajar, membangun, menanam, dan melanjutkan pengabdian.
Di situlah letak kehormatan sejati: bukan pada posisi yang dimiliki, tetapi pada manfaat yang ditinggalkan.
Simak Video "Video: Efisiensi Anggaran, MBG Kini Hanya Dibagikan Jika Siswa Sekolah"
(mep/mep)