Kabupaten Mamasa di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), memiliki air terjun yang diklaim tertinggi di Indonesia. Air terjun bernama Sambabo itu disebut memiliki ketinggian mencapai 316 meter.
Air Terjun Sambabo terletak di Desa Ulumambi, Kecamatan Bambang. Berjarak sekitar 52 kilometer dari pusat Kota Mamasa. Klaim Sambabo sebagai air terjun tertinggi di Indonesia diperkuat hasil pengukuran yang dilakukan tim ekspedisi Sarira Exped dan kemudian viral di media sosial.
Sarira Exped merupakan agen wisata alam dan operator ekspedisi petualangan berbasis di Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel). Tim ini berfokus pada kegiatan ekstrem dan penjelajahan alam bebas, seperti canyoning (menyusuri air terjun dan ngarai), caving (susur gua), climbing (panjat tebing), dan hiking.
"Kalau kemarin hasil pastinya kalau untuk ketinggian (Air Terjun Sambabo) 316 meter. Pengukuran air terjun ini kita mulai dari titik jatuhnya air sampai bagian kolam," kata Ketua Tim Ekspedisi Sambabo, Arvand Paliling kepada detikcom melalui sambungan telepon, Senin (24/8/2026).
Arvand mengungkapkan, pengukuran ketinggian Air Terjun Sambabo dilakukan dengan menggunakan tiga metode, termasuk pemakaian alat drone dan Global Positioning System (GPS).
"Kalau pengukuran ada tiga, kita menggunakan lebih dari satu alat. Pertama pakai drone, terus kemudian pakai GPS dan yang ketiga kita ukur panjang lintasan canyon karena kita turun langsung, angka (hasil pengukurannya) tidak jauh-jauh beda," ujarnya.
Arvand mengatakan, ekspedisi Air Terjun Sambabo telah dipersiapkan sejak setahun lalu. Dia mengaku tertarik mengeksplorasi air terjun tersebut karena dinilai memiliki potensi wisata yang menjanjikan, namun masih kurang mendapat perhatian.
"Saya melihat potensi air terjun ini tinggi sekali, tapi saya cari literasi hampir tidak ada yang menyebut itu (ketinggian pasti), padahal kalau saya melihat secara kasat mata sangat tinggi. Akhirnya saya sampaikan sama teman-teman (Sarira Exped) dan mereka sepakat untuk melakukan ekspedisi," ucapnya.
"Untuk persiapannya kurang lebih satu tahun, betul-betul kami persiapkan karena memang ini aksinya bukan sekedar pengukuran biasa. Kami juga melakukan kegiatan ekstrem sport, turun dari air terjun, jadi dua kegiatan dilakukan jadi satu," sambung Arvand.
Arvand mengatakan, ekspedisi Air Terjun Sambabo dilakukan menggunakan peralatan dan biaya pribadi. Tim ekspedisi Sarira Exped berjumlah tujuh orang dibantu dua Komunitas Pecinta Alam (KPA) dari Mamasa.
"Pada saat turun ekspedisi kita bertujuh melibatkan juga dua KPA dari Mamasa, mereka yang banyak membantu, mengkoneksikan kami dengan ibu desa, perangkat adat hingga mengurus perizinan. Alat-alat kita tanggung secara pribadi, kita tidak ada bantuan dari pihak manapun, semua kita tanggung pribadi," tandasnya meyakinkan.
Menurut Arvand, perjalanan ekspedisi berlangsung selama kurang lebih satu minggu. Sebelum ekspedisi dimulai, warga terlebih dahulu menggelar ritual adat agar kegiatan berjalan lancar dan seluruh tim yang terlibat diberi keselamatan.
"(Warga) mereka masih mempercayai adat istiadat apalagi masih menganut aluk to dolo (sistem kepercayaan kuno), jadi mereka banyak memberi arahan apa yang boleh dan tidak boleh kami lakukan, kita ikut semua, tata caranya, sebelum berangkat ada ritual adat, mereka mendoakan, itu kami ikut semua," tuturnya.
Meski ekspedisi berjalan lancar, Arvand menyebut sejumlah tantangan dihadapi saat melakukan pengukuran Air Terjun Sambabo. Selain permukaan tanah di puncak Sambabo yang cukup licin, karakter bebatuan di kawasan air terjun juga tidak saling mengikat sehingga mudah terlepas.
Kondisi tersebut membuat proses pengukuran berlangsung cukup lama. Tim ekspedisi yang turun menyusuri tebing air terjun bahkan harus beberapa kali mengubah jalur karena mempertimbangkan kondisi medan dan keselamatan.
"Tanahnya itu kalau diinjak seperti berlendir, licin karena masih jarang sekali orang ke atas. Karakter batunya tipikal batuan tebing pada umumnya, keras cuman tidak saling mengikat, jadi sensitive goyangan. Kalau tidak pilih-pilih jalurnya bisa jatuh batunya, makanya tantangan kemarin kita sampai beberapa kali bergeser dari lintasan seharusnya," terangnya.
(ata/asm)