Menilik Mitos Tali Pencari Jodoh dengan Mengikat Pita di Pohon Gua Mampu Bone

Menilik Mitos Tali Pencari Jodoh dengan Mengikat Pita di Pohon Gua Mampu Bone

Agung Pramono - detikSulsel
Minggu, 18 Sep 2022 16:45 WIB
Gua Mampu
Foto: Agung Pramono/detikSulsel
Bone -

Gua Mampu selain menjadi tempat wisata di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), juga memiliki sejumlah mitos yang dipercaya oleh sejumlah masyarakat. Salah satunya tali pencari jodoh.

Berdasarkan kepercayaan tersebut, banyak pengunjung Gua Mampu yang melakukan "Massio" yakni mengikat sejenis pita di pohon. Tujuannya untuk mendapatkan jodoh.

"Banyak memang yang dulunya datang untuk mengikat, mereka percaya akan bisa menemukan jodohnya. Dan ketika sudah ketemu jodohnya ikatannya itu baru akan dilepas," kata Penjaga Gua Mampu Ansar kepada detikSulsel, Sabtu (10/9/2022).


Ritual mengikat pohon menggunakan pita ini dilakukan para pengunjung di dua pohon yang terletak di puncak Gua Mampu. Pohon itu terletak dekat dengan makam, dan kadang penuh pengikat.

Hal ini membuat pohon tersebut penuh dengan tali pengikat. Sehingga pihak penjaga Gua Mampu memutuskan untuk membabat salah satu pohon.

"Yang mengikat sekarang kurang, kalau ada datang saya yang buka. Dua pohon lebih banyak tali dibanding daunnya. Sekarang tinggal 1 pohon karena sudah saya babat," kata Ansar.

Wisata Gua Mampu di Bone yang memiliki legenda seekor anjing mengutuk satu kerajaan menjadi batu.Wisata Gua Mampu di Bone yang memiliki mitos tali pencari jodoh. (Foto: Agung Pramono/detikSulsel)

Ansar mengatakan pengunjung yang melakukan ritual ini kebanyakan adalah perempuan atau ibu-ibu. Namun, penjaga Gua Mampu akan membuka tali tersebut karena dinilai mengotori area tersebut, apalagi di dekat pohon itu merupakan makam orang suci.

"Yang dominan datang mengikat perempuan atau ibu-ibu. Makanya kalau saya ke puncak banyak tali dan botol pasti saya buka. Tugas sebagai penjaga tidak hanya sekadar menjaga, tapi meluruskan sejarah," jelasnya.

"Saya ke sana (puncak Gua Mampu) berzikir, mengaji, yasinan, karena kami menganggap orang suci itu pemilik makam karena ditempatkan di puncak gunung. Saya bandingkan dengan makam penyiar Islam di Pulau Jawa terutama Wali Songo," sambungnya.

Mitos tersebut berkembang karena di dalam Gua Mampu terdapat air yang jatuh di antara dua batu yang menonjol. Dua batu tersebut digambarkan sebagai orang berpasangan tidak akan berpisah.

"Maksudnya, meskipun ada orang ketiga hubungan keduanya tidak akan terpisahkan. Karena airnya jatuh di antara dua batu yang saling berpasangan," ujarnya.



Simak Video "Mengunjungi Kerajaan Kupu-kupu, Bantimurung Sulawesi Selatan"
[Gambas:Video 20detik]
(alk/nvl)