Bupati Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) Andi Asman Sulaiman (AAS) memaparkan keberhasilan Kabupaten Bone dalam mendukung program swasembada pangan nasional dihadapan mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta (Polbangtan Yoma). Di eranya, Bone berhasil menembus 5 besar nasional daerah penghasil beras terbesar.
"Kabupaten Bone menjadi penghasil beras terbesar ke 5 nasional sebesar 524.589 ton. Dulu Bone selalu berada dalam urutan 5 besar data produksi beras sepanjang tahun 2021 hingga 2023, kemudian sempat turun drastis ke urutan ke 7 secara nasional dan kemudian kembali di tahun 2025, yang pada bulan Januari 2026 kami menerima penghargaan dari Presiden RI dibidang swasembada pangan," ujar Andi Asman dalam keterangannya, Sabtu (18/7/2026).
Andi Asman menjadi narasumber dalam kuliah umum di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yoma di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah pada Sabtu (18/7) pagi. Dia memaparkan berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Bone mencatat produksi gabah kering giling tahun ini sebanyak 923.174 ton dari 754.645 ton pada tahun 2024. Sedangkan produksi beras meningkat di tahun 2025 sebanyak 529.751 ton dari sebelumnya 433.043 ton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Andi Asman menerangkan, berbagai strategi yang diterapkan Pemerintah Kabupaten Bone dalam meningkatkan produksi pertanian hingga menjadikan Bone sebagai salah satu lumbung pangan terbesar di Sulawesi Selatan sekaligus daerah penyangga ketahanan pangan nasional. Menurutnya, dukungan terhadap pembangunan infrastruktur pertanian, optimalisasi lahan, peningkatan indeks pertanaman, serta pemanfaatan teknologi pertanian menjadi faktor utama dalam mendorong peningkatan produktivitas.
"Ketahanan pangan tidak bisa dibangun sendiri. Dibutuhkan kolaborasi semua pihak agar sektor pertanian terus berkembang dan mampu menjawab tantangan kebutuhan pangan nasional," sebutnya.
"Pertanian adalah sektor yang tidak akan pernah mati karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pangan manusia yang terus berjalan. Terlebih lagi, sentuhan inovasi dan teknologi hari ini telah mengubah wajah pertanian menjadi lebih modern, efisien, menguntungkan, dan berkelanjutan," sambung Andi Asman.
Dia juga mengingatkan dan mengajak para mahasiswa sebagai generasi muda pertanian untuk tidak ragu terjun ke sektor pertanian yang kini semakin modern dan berbasis teknologi. Menurutnya, regenerasi petani menjadi salah satu kunci menjaga keberlanjutan swasembada pangan di masa depan.
"Mahasiswa harus berani mengambil peran strategis melalui pemanfaatan teknologi. Mahasiswa harus mengambil peran melalui pengembangan agribisnis modern, smart farming, kultivasi hortikultura bernilai tinggi, agribisnis digital, hingga penciptaan produk olahan yang memiliki nilai tambah. Bangun kemandirian ekonomi sejak di bangku kuliah dengan terus belajar, berkolaborasi, dan mengasah keterampilan," jelasnya.
