Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen pala terbesar di dunia kendati optimalisasinya kerap terkendala metode pengolahan konvensional yang tidak efisien. Menjawab tantangan tersebut, seorang dosen Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Muslim Indonesia (UMI), Mustafiah mengembangkan metode ekstraksi minyak atsiri biji pala yang jauh lebih efisien dan ramah lingkungan.
Melalui metode Microwave Air-Hydrodistillation (MAHD) atau perebusan dan penyulingan dengan metode gelombang mikro, penelitian yang berhasil menembus jurnal internasional bereputasi Q1 ini menawarkan solusi konkret untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pala di industri pangan, kosmetik, dan farmasi. Minyak atsiri pala sendiri kaya akan senyawa bioaktif yang berfungsi sebagai antimikroba dan antioksidan berdaya jual tinggi.
Mustafiah menjelaskan bahwa kelemahan utama metode konvensional adalah tingginya penggunaan energi, durasi proses yang lama, serta risiko rusaknya senyawa aktif akibat pemanasan yang berlebihan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Melalui penelitian ini, kami mencoba menerapkan teknologi Microwave Air-Hydrodistillation atau MAHD sebagai alternatif ekstraksi yang lebih efisien, hemat energi, dan mampu mempertahankan kualitas senyawa bioaktif dalam minyak atsiri pala," ujarnya, Senin (22/6/2026).
Formulasi Optimal dan Kandungan Senyawa
Menggunakan pendekatan Response Surface Methodology (RSM) dengan rancangan Box-Behnken Design, tim peneliti melakukan optimasi pada sejumlah parameter: daya gelombang mikro, ukuran partikel, dan rasio pelarut terhadap bahan baku.
Hasilnya menunjukkan kondisi paling optimal tercapai pada daya microwave 600 watt, rasio pelarut 0,30 g/mL, dan durasi ekstraksi selama 180 menit. Formulasi ini berhasil menghasilkan rendemen minyak atsiri pala sebesar 6,53 persen.
Melalui analisis Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS), teridentifikasi ada 28 senyawa volatil di dalamnya. Kombinasi senyawa inilah yang menentukan kualitas aroma serta aktivitas biologis minyak atsiri tersebut.
"Keberadaan senyawa-senyawa bioaktif ini menunjukkan bahwa metode MAHD mampu mempertahankan kualitas minyak atsiri yang dihasilkan sehingga berpotensi dikembangkan untuk berbagai kebutuhan industri," lanjut Mustafiah.
Uji Antibakteri dan Efisiensi Energi
Keunggulan lain dari minyak atsiri hasil metode MAHD ini adalah efektivitasnya dalam menghambat bakteri. Uji laboratorium menunjukkan zona hambat terhadap bakteri Escherichia coli mencapai 11,25 mm dan terhadap Staphylococcus aureus sebesar 16,25 mm, di mana daya hambat ini mampu bertahan hingga 192 jam pengamatan.
Dari sisi operasional, metode MAHD terbukti mampu menghemat konsumsi energi hingga 40 persen dibandingkan metode konvensional. Nilai plus lainnya, teknologi ini sama sekali tidak memerlukan pelarut kimia tambahan sehingga aman bagi lingkungan.
Menurut Mustafiah, temuan ini membuka peluang besar bagi hilirisasi industri pala nasional agar Indonesia tidak lagi sekadar menjual bahan mentah.
"Indonesia merupakan salah satu produsen pala terbesar di dunia. Dengan penerapan teknologi extraction yang lebih efisien dan berkelanjutan, nilai ekonomi komoditas pala dapat semakin ditingkatkan sekaligus mendukung pengembangan industri berbasis sumber daya alam lokal," ungkapnya.
Inovasi ini diharapkan dapat menjadi referensi baru bagi skala industri yang ingin menerapkan prinsip green chemistry demi mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Ke depan, tim peneliti akan melanjutkan riset ini pada tahap validasi proses skala yang lebih besar, memperluas pengujian jenis bakteri, serta melakukan evaluasi keamanan produk lewat uji toksisitas secara in vivo untuk memantapkan pemanfaatan minyak atsiri pala di berbagai sektor.
Simak selengkapnya hasil risetnya di sini
(hmw/hmw)
