Pengakuan Guru Besar UIN Palopo Diduga Lecehkan Wanita Pingsan di Rukonya

Pengakuan Guru Besar UIN Palopo Diduga Lecehkan Wanita Pingsan di Rukonya

Tim detikSulsel - detikSulsel
Rabu, 04 Feb 2026 08:00 WIB
Ilustrasi pelecehan
Ilustrasi pelecehan seksual. Foto: (Getty Images/Favor_of_God)
Palopo -

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Palopo berinisial Prof ER membantah melakukan pelecehan seksual terhadap seorang wanita berusia 18 tahun yang pingsan di depan rukonya. Prof ER mengklaim tindakannya murni untuk menolong atas dasar kemanusiaan.

Prof ER menilai kronologi pelecehan yang beredar luas belakangan ini tidak benar adanya. Dia menegaskan dirinya hanya membantu wanita tersebut karena pingsan dan tidak ada niat atau dorongan nafsu atau seksual.

"Tindakan pertolongan yang saya berikan semata-mata atas dasar kemanusiaan, tidak ada niat sedikitpun ke arah dorongan nafsu atau seksual," kata Prof ER kepada detikSulsel, Selasa (3/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia berharap seluruh pihak bersabar menunggu proses hukum yang tengah berjalan. Prof ER juga berharap prosesnya terbuka sehingga tidak ditunggangi oleh kepentingan orang tertentu.

"Melalui ini saya berharap dan memohon agar kiranya kita bersabar menunggu dan menghormati proses hukum yang sedang berlangsung dan terbuka tanpa ditunggangi kepentingan," ucap Prof ER.

ADVERTISEMENT

Kronologi Versi Prof ER

Prof ER turut menceritakan kronologi detail saat wanita itu pingsan hingga dirinya diduga melakukan pelecehan. Kejadian bermula ketika dirinya baru saja selesai membabat rumput di belakang ruko miliknya pada Sabtu (31/1) siang.

"Begitu saya akan membuka kunci pintu ruko saya melihat ada seorang perempuan yang pingsan di depan ruko dan ditopang oleh laki-laki (rekan kerjanya) yang membawa es kristal," tutur Prof ER.

Saat itu dirinya kemudian dipanggil oleh rekan kerja dari sang wanita itu untuk membantu mengangkatnya. Kemudian, Prof ER bergerak membantu mengangkat wanita itu masuk ke dalam rukonya.

"Saya dipanggil oleh laki-laki yang sedang menopang wanita itu untuk membantu mengangkatnya. Dalam kondisi terik matahari pinggir jalan saya melihat tidak ada tempat memberi pertolongan pertama kecuali di dalam ruko," jelasnya.

Setelah itu, wanita tersebut diangkat dan dibaringkan di sebuah tempat tidur dalam ruko. Kemudian Prof ER bersama rekan kerja wanita tersebut keluar menutup tempat jualannya.

"Dia dijaga oleh ponakan saya yang perempuan, setelah kami berdua masuk kembali melihat dan menanyakan keponakan yang menjaga 'Bagaimana?' namun tidak ada respons dari ponakan saya," bebernya.

"Setelah itu teman kerjanya pergi untuk memanggil bosnya. Sayapun ikut keluar mengambil paket yang belum sempat saya masukkan ke dalam ruko," tambahnya.

Setelah mengambil paket dan masuk kembali, Prof ER mengaku melihat beberapa sayatan di tangan wanita itu. Dia kemudian mencoba melihatnya lebih rinci.

"Saya kembali melihat lebih dekat jangan sampai telah terjadi pendarahan sebelumnya, saya mengatakan dengan memanggil 'hei hei, sadarki' disaksikan oleh ponakan saya yang perempuan yang tinggal di ruko," tuturnya.

Prof ER mengaku dirinya berinisiatif mengambil tindakan pertolongan pertama. Dia mengaku sempat menurunan baju korban yang sempat terlipat naik saat digotong.

"Pertolongan pertama menyingsingkan jilbabnya dengan menepis di bagian depan pada area pernapasan dan saya menepuk-nepuk kepala samping kiri. Sayapun menurunkan baju bagian bawah yang terangkat akibat gotongan," tambahnya.

Setelah itu, Prof ER mengaku duduk di sebuah kursi. Beberapa saat kemudian wanita itu bangun dan langsung diberikan air minum olehnya hingga saat keluar dari rukonya wanita itu langsung teriak dan menuduhnya melakukan pelecehan.

"Lalu dia keluar dari ruko dan tiba-tiba perempuan itu menunjuk-nunjuk saya sambil berkata 'kau melecehkan saya'," ungkap Prof ER.

"Saya hanya mengetahui kios itu menyewa di depan ruko dan penyewa adalah seorang pengusaha yang mempekerjakan perempuan yang pingsan itu," ucapnya.

UIN Palopo Pastikan Korban Bukan Mahasiswinya

UIN Palopo menyebut dugaan pelecehan terjadi di luar kampus dan korban bukan mahasiswinya. Korban disebut bekerja di dekat ruko milik Prof ER.

"(Korban) kerja di dekat ruko (milik Prof ER) dan kejadiannya di luar kampus, tapi saya pastikan dia bukan mahasiswa UIN Palopo," ucap Humas UIN Palopo Reski Azis kepada detikSulsel, Senin (2/2).

Reski belum memastikan status pendidikan korban apakah masih sekolah atau mahasiswi di kampus lain. Namun dari informasi sementara, korban bekerja di sebuah gerobak dekat tempat kejadian perkara.

"Banyak yang salah paham, dipikir mahasiswi UIN ini terduga korban, jadi kami pastikan itu bukan," jelasnya.

UIN Palopo Nonaktifkan Prof ER

UIN Palopo juga telah menonaktifkan sementara Prof ER dari seluruh aktivitas akademik serta kegiatan yang berkaitan dengan tugasnya di ruang lingkup kampus. Kebijakan ini untuk memastikan kelancaran proses hukum yang bergulir di kepolisian.

"Pimpinan universitas menetapkan kebijakan penonaktifan sementara terhadap salah satu dosen berinisial ER," ucap Reski.

Oknum guru besar UIN Palopo itu terhitung mulai dinonaktifkan sejak Minggu (1/2). Prof ER selanjutnya akan diperiksa oleh tim internal kampus.

"Sebagai bagian dari mekanisme internal, yang bersangkutan juga dijadwalkan akan mengikuti agenda pemeriksaan oleh tim yang dibentuk pimpinan universitas," paparnya.

Halaman 2 dari 5


Simak Video "Video: Sempat Hambat Proses Penyelidikan Satgas PPK USU Ingin Terduga Pelaku Pelecehan Kooperatif"
[Gambas:Video 20detik] (asm/hsr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads