Kabut Asap Selimuti Makassar, Kasus ISPA Capai 7.940 Selama Oktober

Kabut Asap Selimuti Makassar, Kasus ISPA Capai 7.940 Selama Oktober

Sahrul Alim - detikSulsel
Kamis, 15 Okt 2026 15:00 WIB
Ilustrasi Kualitas Udara Buruk
Foto: Ilustrasi kualitas udara memburuk. (Magnific)
Makassar -

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), mencatat 7.940 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang Oktober 2026. Angka tersebut diprediksi meningkat seiring kualitas udara Makassar yang memburuk akibat kabut asap.

"Kalau per hari ini, kumulatif per tanggal 14 kemarin, kita sudah berada di angka 7.940 kasus," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Makassar, dr Andi Mariani kepada wartawan, Kamis (15/10/2026).

Mariani menyebut, kasus ISPA selama ini memang masuk dalam 10 besar penyakit yang dilaporkan puskesmas. Dalam tiga bulan terakhir, jumlah kasus ISPA di Makassar berada di kisaran rata-rata 15.000 kasus per bulan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau misalnya kita lihat prediksinya, angka 7.940 di pertengahan bulan, mungkin pada akhir bulan, kalau kita langsung kali dua, sekitar 15.000 sekian seharusnya jika tidak ada peningkatan (akibat udara tak sehat)," jelasnya.

Dinkes Makassar mulai memantau kasus ISPA secara harian di seluruh puskesmas sejak udara dinyatakan tak sehat. Pemantauan untuk mendeteksi apakah terdapat peningkatan kasus di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk.

ADVERTISEMENT

"Kalau misalnya pun ada peningkatan, nanti kita lihat apakah ini dampak langsung dari udara akibat kabut atau lain-lain, kita juga belum bisa langsung menjustifikasi bahwa itu dampak langsung," ujarnya.

Menurutnya, ISPA dapat dipicu oleh berbagai faktor, meskipun kualitas udara yang tidak sehat berpotensi memperburuk kondisi kesehatan. Paparan udara tercemar juga dikhawatirkan dapat memicu penyakit lain, terutama pada orang yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

"Kita ketahui ada golongan rentan, yaitu anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Golongan rentan tersebut cenderung akan lebih sensitif terhadap adanya masalah udara yang tidak sehat ini," tuturnya.

Andi Mariani juga menyarankan masyarakat menggunakan masker untuk mengurangi paparan polutan saat beraktivitas di luar ruangan. Menurutnya, masker N95 menjadi pilihan ideal untuk menyaring partikel halus, sedangkan masker medis dapat digunakan sebagai alternatif.

"Masker N95 bisa menghalau partikel kecil berukuran 2,5 PM masuk ke dalam tubuh. Tetapi karena masker tersebut cukup mahal, untuk sementara ini kami masih menyarankan penggunaan masker medis," jelasnya.

Dia menegaskan penggunaan masker medis tetap lebih baik dibandingkan tidak menggunakan masker sama sekali. Meski tidak seideal N95 untuk menyaring partikel halus, masker medis dapat membantu mengurangi paparan polutan.

"Tetapi karena masker tersebut cukup mahal, untuk sementara ini kami masih menyarankan penggunaan masker medis. Meskipun tidak ideal, masker medis jauh lebih baik ketimbang sama sekali tidak pakai masker. Setidaknya akan ada yang terfilter, harapannya tidak masuk semua ke dalam tubuh, kalaupun ada itu hanya sedikit saja," imbuhnya.

Diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kualitas udara di Makassar masih berpotensi berada dalam kondisi kurang sehat. Hal ini dipicu polusi partikulat dan kiriman asap dari daerah lain.

Hasil pengamatan kualitas udara di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan di Maros menunjukkan konsentrasi PM2,5 mencapai 76,5 pada Kamis (15/10) pukul 08.00 Wita. Angka tersebut menurun dibandingkan beberapa jam sebelumnya dan hari sebelumnya, ketika konsentrasi PM2,5 sempat meningkat di atas 150 pada Rabu (14/10).

"Karena ini fluktuatif ya, jadi kita tidak bisa katakan berapa poin mungkin karena ini jam-jam-an. Ini kan ada penurunan," kata Ketua Tim Kerja Klimatologi BMKG Wilayah IV Makassar Muflihah kepada wartawan usai coffee morning yang digelar Kominfo Makassar, Kamis (15/10).

Muflihah mengatakan kondisi kualitas udara dalam beberapa hari ke depan masih bergantung pada keberadaan polutan asap yang terpantau melalui satelit. Jika kiriman asap masih terjadi, kondisi kualitas udara diperkirakan tidak jauh berbeda.

"Sementara kita kalau prediksi langsung tidak, karena ini kan kita dapat kiriman seperti itu. Jadi, kalau memang polutan asap yang terpantau di satelit masih ada dari daerah kiriman, itu kita masih akan kondisi kurang lebih sama," jelasnya.



(sar/hsr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads