Citra Kampung Sapiria Bortak, Kelurahan Suangga, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), sudah lama melekat sebagai 'kampung narkoba'. Lingkaran kemiskinan dan masalah sosial lainnya disebut-sebut menjadi faktor stigma itu tak pernah hilang.
Anggota Komisi A DPRD Makassar Andi Hadi Ibrahim Baso menilai ada masalah yang cukup kompleks di wilayah tersebut. Menurutnya, hal itu merupakan akumulasi masalah sosial masyarakat yang berlangsung lama.
"Kenapa sampai stigma kampung narkoba itu melekat terus, tentu akar masalah sosial di balik kampung narkoba tidak muncul begitu saja tapi akumulasi dari masalah sosial yang berlapis," kata Andi Hadi kepada detikSulsel, Senin (12/10/2026).
Andi Hadi menjelaskan, fenomena sosial yang melekat di Kampung Sapiria masuk dalam wilayah dengan jumlah penduduk miskin cukup banyak. Kondisi tersebut terjadi karena intervensi untuk menuntaskan akar masalah belum maksimal.
"Secara umum kawasan yang dicap seperti ini adalah kantong-kantong kemiskinan dengan penduduk yang tinggi namun minim perencanaan dan intervensi sosial. Beberapa hal yang menguatkan tentang data yang saya baca tentu kemiskinan struktural," ucapnya.
Kemiskinan struktural itu, kata dia, bukan hanya terjadi di Kampung Sapiria, tapi di sejumlah wilayah dengan akar persoalan yang sama. Menurutnya, citra 'kampung narkoba' itu nyaris berangkat dari akar persoalan yang sama.
"Di banyak kasus kampung yang berawal munculnya fenomena seperti saat ini memang banyak pengangguran di dalamnya dan jarang yang punya kerja. Di mana kemiskinan yang kurangnya peluang ekonomi sehingga warga lebih mudah dan terlibat narkoba," ungkapnya.
Pendidikan dan Pergaulan Bebas
Selain itu, Hadi menyebut persoalan pendidikan turut menjadi pemicu terjadinya kriminal. Ia mengatakan lemahnya akses pendidikan mengakibatkan terjadinya ketimpangan sosial.
"Yang kedua adalah pendidikan yang rendah dan pemukiman yang padat penduduk. Kalau kita lihat di sana memang akses pendidikan yang lemah dan ketimpangan sosial menciptakan ekosistem sosial yang rapuh dan menjadi lahan subur bagi pertumbuhan aktivitas kriminal," katanya.
Di sisi lain, pergaulan bebas dan minimnya pengawasan menjadi sorotan politisi PKS tersebut. Ia menilai pengawasan dari lingkungan keluarga hingga pemerintah di tingkat kecamatan yang tidak berjalan maksimal seringkali memicu penggunaan narkoba.
"Ketiga mungkin pergaulan warga dan minimnya pengawasan adanya pergaulan bebas narkoba dan minimnya pengawasan baik itu keluarga, RT/RW dan kecamatan," ucap dia.
Belum lagi kata dia, penggerebekan yang dilakukan pihak kepolisian dengan mengamankan ratusan orang semakin menguatkan stigma publik terkait 'kampung narkoba' di Kecamatan Tallo. Hal itu dinilai mempengaruhi citra wilayah setempat.
"Tentu bukan karena semua masyarakatnya pengguna, tapi lingkaran kemiskinan, pendidikan rendah dan lingkungan padat kemudian lemahnya pengawasan dimanfaatkan oleh jaringan pengedar sehingga dikenal dengan kampung narkoba," pungkasnya.
Simak Video "Menikmati Kelezatan Konro Iga Bakar di Restoran Kota Makassar"
(asm/asm)