Kualitas udara di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), masuk kategori tidak sehat pada hari ini. Warga pun diimbau untuk waspada dan mengenakan masker akibat memburuknya udara yang dipicu asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Berdasarkan dokumen resmi BMKG yang diperbarui pukul 10.45 Wita, hasil pemantauan PM2.5 di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Maros, menunjukkan konsentrasi sebesar 85,3 mikrogram per meter kubik (µg/m³) dengan kategori tidak sehat," kata Kepala BPBD Makassar M Fadli Tahar dalam keterangannya, Jumat (9/10/2026).
Grafik pemantauan pada dokumen tersebut juga mencatat konsentrasi tertinggi mencapai 112,7 µg/m³ pada pukul 07.00 WITA. BMKG menyebutkan bahwa kualitas udara secara umum mengalami peningkatan konsentrasi partikulat dibandingkan hari sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Data ini menjadi perhatian bagi masyarakat Makassar dan sekitarnya, mengingat partikel halus PM2.5 dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama pada kelompok rentan," tuturnya.
Fadli menjelaskan, PM2.5 merupakan partikel pencemar udara dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya yang sangat halus memungkinkan partikel masuk jauh ke dalam paru-paru dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.
"Paparan polusi partikulat dapat menyebabkan iritasi mata dan tenggorokan, batuk, serta memperburuk gangguan pernapasan. Risiko kesehatan perlu mendapat perhatian lebih bagi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat asma, penyakit paru, atau gangguan jantung," jelasnya.
BPBD Makassar melanjutkan, angka pemantauan tersebut merupakan hasil pengukuran di Maros, bukan pengukuran langsung pada seluruh wilayah Kota Makassar. Kendati begitu, masyarakat diminta tidak mengabaikan perubahan kualitas udara dan melakukan langkah pencegahan.
"Gunakan masker yang sesuai. Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan dianjurkan menggunakan respirator seperti N95 atau KN95 untuk membantu mengurangi paparan partikel halus," ungkap Fadli.
Warga juga diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan. Selain itu mengurangi olahraga dan aktivitas fisik berat di luar rumah apabila udara berasap atau kualitas udara memburuk.
"Lindungi kelompok rentan. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita gangguan pernapasan dan penyakit jantung perlu membatasi paparan polusi. Jaga kualitas udara di dalam rumah. Tutup jendela ketika asap berada di luar, jika kondisi memungkinkan, serta hindari pembakaran sampah dan sumber asap lainnya," paparnya.
Waspadai Potensi Asap Karhutla
Fadli menjelaskan, kabut asap dapat dipengaruhi oleh berbagai sumber pencemaran, termasuk kebakaran hutan dan lahan serta aktivitas pembakaran di tingkat lokal. Sejumlah pemberitaan pada awal Oktober 2026 juga mengaitkan penurunan kualitas udara di Maros dan sekitarnya dengan asap kebakaran di wilayah Papua Selatan yang terbawa angin ke Sulawesi.
"Meski demikian, penetapan sumber asap yang memengaruhi kondisi udara pada 9 Oktober 2026 tetap perlu mengacu pada analisis dan keterangan resmi instansi berwenang," terang Fadli.
BPBD Kota Makassar mengajak masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran terbuka. Warga diimbau segera melaporkan kejadian kebakaran lahan kepada petugas, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
"BPBD Kota Makassar mengingatkan bahwa kualitas udara dapat berubah dari waktu ke waktu mengikuti kondisi atmosfer dan sumber pencemar. Karena itu, masyarakat diharapkan tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan mengambil langkah perlindungan sesuai kondisi aktual," jelasnya.
