Pemkot Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), tengah menjajaki peluang mengolah air laut menjadi air siap minum untuk warga pulau di Kecamatan Kepulauan Sangkarrang. Program ini akan menggunakan teknologi desalinasi berbasis tenaga surya.
"Ini adalah solusi jangka panjang, air bersih yang mandiri berbasis energi matahari. Kita mau hadirkan program air langsung minum bagi warga di pulau," ujar Wali Kota Makassar Munafri 'Appi' Arifuddin dalam keterangannya, Rabu (30/9/2026).
Appi mengungkapkan ketersediaan air bersih di wilayah kepulauan tidak merata selama puluhan tahun terakhir. Sejumlah pulau bahkan harus mendatangkan air dari daratan Makassar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kondisi ini, menjadi perhatian pemerintah Kota. Karena air bersih dibutuhkan bukan hanya untuk konsumsi, tetapi juga untuk mandi, memasak, mencuci, dan menunjang sanitasi keluarga," terangnya.
Menurut Appi, teknologi ini nantinya menggunakan sistem Reverse Osmosis (RO) untuk mengolah air laut menjadi air tawar yang memenuhi standar air minum. Prosesnya memanfaatkan energi matahari sebagai sumber tenaga utama.
"Untuk memastikan bahwa air minum yang dikonsumsi oleh saudara-saudara kita yang ada di pulau itu bisa mendapatkan layanan air bersih sama dengan yang didapatkan saudara-saudara kita yang ada di kota," jelasnya.
Sebagai langkah awal, kata dia, akan dijadwalkan survei di Pulau Langkai, Lumu-Lumu, Bonetambung, dan Barrang Lompo. Tujuannya untuk meninjau kesesuaian program dengan kondisi geografis dan kebutuhan air bersih masyarakat setempat.
"Tim akan ke pulau besok melihat kondisi, tim PT Prolink Intidata Nusantara akan survei apakah sesuai dengan kondisi atau kontur pulau yang kita miliki," ungkap Appi.
Lebih lanjut dia menjelaskan program ini turut melibatkan Camat Sangkarrang, Dinas Pekerjaan Umum, dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Keterlibatan sejumlah pihak itu disebut penting untuk memastikan kesesuaian teknologi dengan kondisi riil di lapangan.
"Kita mencoba mendengarkan apa yang menjadi masukan detail. Saya ajak Pak Camat, Kepala Dinas PU, Direktur PDAM, untuk memastikan apakah ini bisa kita pakai, apakah memang cocok dan dibutuhkan oleh masyarakat pulau atau tidak," tuturnya.
Appi menyebut kapasitas produksi teknologi ini sekitar 250 liter air per jam. Dengan 30 persen dari air yang diproses menjadi air hasil desalinasi, dan sisanya berupa air dengan kadar garam lebih tinggi.
"Tentu, kita masih akan memastikan kualitas air hasil pengolahan, kapasitas produksi, kebutuhan energi, serta kesesuaian teknologi dengan kondisi masing-masing pulau," ungkapnya.
Terkait pembiayaan, Munafri menyebut Pemkot Makassar berencana mengupayakan program ini masuk dalam anggaran pokok 2027 mendatang. Namun, penganggaran masih akan disesuaikan dengan hasil survei dan kesiapan teknis di lapangan.
"Program ini, kita harapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat pelayanan air minum bagi masyarakat di enam pulau berpenghuni, sekaligus mendorong pemerataan pembangunan hingga ke wilayah kepulauan terluar Makassar," tukasnya.
