Warga di Pasangkayu Rogoh Kocek Rp 500 Ribu Beli Air Bersih Imbas Kemarau

Sulawesi Barat

Warga di Pasangkayu Rogoh Kocek Rp 500 Ribu Beli Air Bersih Imbas Kemarau

Hafis Hamdan - detikSulsel
Kamis, 27 Agu 2026 12:50 WIB
Tiga desa di Kabupaten Pasangkayu dilaporkan mengalami krisis air akibat kekeringan saat musim kemarau.
Foto: Tiga desa di Kabupaten Pasangkayu dilaporkan mengalami krisis air akibat kekeringan saat musim kemarau. (dok. istimewa)
Pasangkayu -

Warga tiga desa di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat (Sulbar), dilaporkan mengalami krisis air bersih akibat kekeringan di musim kemarau. Warga dan pengurus sekolah bahkan harus merogoh kocek mulai Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu demi membeli air.

Tiga desa mengalami krisis air bersih berada di Desa Saptanajaya dan Tammarunang, Kecamatan Duripoku, serta Desa Bulumario di Kecamatan Sarudu. Warga tiga desa disebut mulai merasakan kesulitan air bersih selama dua pekan terakhir.

"Mulai dua minggu lalu (warga beli air), sumur-sumur kering. Belinya sama warga juga yang mengantar pakai mobil pikap ada tandonnya," ujar warga Duripoku, Risal kepada wartawan, Kamis (27/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara anggota DPRD Pasangkayu, Robin Candra Hidayat mengaku telah menerima laporan dan mengecek kondisi warga tiga desa yang kesulitan air bersih. Selain rumah penduduk, fasilitas sekolah dan rumah ibadah juga terdampak.

"Akibat kekeringan, warga, sekolah-sekolah dan rumah-rumah ibadah di Saptanajaya dan Tammarunang harus merogoh kocek sebesar Rp 150-500 ribu untuk mengisi tandon air mereka beberapa hari terakhir, termasuk di Desa Bulumario," kata legislator NasDem itu.

ADVERTISEMENT

Bahkan ada satu pondok pesantren (ponpes) di Duripoku yang terpaksa meliburkan santrinya karena sudah tidak mampu membeli air setiap hari. Selain itu, pengurus rumah ibadah juga kerap kesulitan mendapatkan air bersih.

"Bahkan Ponpes Nurul Jadid Duripoku sudah meliburkan santrinya karena tidak mampu membelikan air setiap hari," ungkapnya.

Robin menyebut warga desa hingga kini belum mendapatkan bantuan distribusi air selain dari Balai Wilayah Sungai (BWS) V Mamuju. Namun bantuan air dari BWS tidak mencukupi karena kapasitas mobilnya terbatas dan tidak setiap hari mendistribusikan air.

"Yang ada kemarin dari Balai BWS 5 Mamuju tapi tidak mampu juga karena armadanya kurang normal dan hanya bertahan 2-3 hari saja (sebelum warga kembali beli air)," tutur Robin.

Robin berharap agar kondisi warga ini bisa menjadi perhatian semua pihak. Menurutnya, bantuan air kini menjadi kebutuhan mendesak bagi warga.

"Kasihan warga ini kalau terus-terus membeli air, makanya harus menjadi perhatian bersama soal kebutuhan air ini," pungkasnya.



(sar/asm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads