Kebakaran Makin Marak di Makassar Dipicu Cuaca Panas Ekstrem

Kebakaran Makin Marak di Makassar Dipicu Cuaca Panas Ekstrem

Fadli Ilham - detikSulsel
Kamis, 27 Agu 2026 11:50 WIB
Kebakaran menghanguskan 10 rumah di Jalan Politeknik Makassar.
Foto: Kebakaran menghanguskan 10 rumah di Jalan Politeknik Makassar. (dok. istimewa)
Makassar -

Sebanyak 218 kasus kebakaran terjadi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), sepanjang 2026. Damkarmat Makassar menganggap kebakaran kian marak karena turut dipicu cuaca panas ekstrem saat kemarau.

"Ini kan tentu karena kemarau yang panjang kemudian tentu pada saat kemarau suhu meningkat. Kemudian barang-barang yang terpapar sinar matahari cukup sangat memungkinkan dan berpotensi menimbulkan api," ujar Kepala Damkarmat Makassar Fadly Wellang kepada detikSulsel, Kamis (27/8/2026).

Menurut Fadly, kebakaran juga terjadi akibat kelalaian manusia. Sebagian masyarakat dianggap masih sering membuang puntung rokok seenaknya hingga sengaja melakukan pembakaran sampah di lahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Belum lagi kalau ada unsur pembakaran, kesengajaan, warga yang kemudian kerja bakti lupa matikan api, puntung rokok dan lain sebagainya di luar yang terjadi di rumah ya seperti listrik," katanya.

Fadly menyebut kemarau panjang disertai intensitas angin sangat mudah membuat api menyebar hingga potensi pohon tumbang. Di sisi lain juga berimbas terhadap kekurangan air.

ADVERTISEMENT

"Kan di mana-mana ini kemarau pasti berangin jadi selain ada itu risiko pohon tumbang. Ini kan bencana kekeringan yang mengakibatkan sumber-sumber air banyak yang mengering, sumur-sumur warga kemudian sumber air yang masuk di PDAM," jelasnya.

Maraknya kebakaran di Makassar membuat petugas selalu siaga untuk upaya pemadaman. Kendati begitu, ia mengatakan seringkali dihadapkan dengan hambatan di jalan saat upaya melalui jalur untuk cepat tiba di lokasi.

"Hambatan itu ketika terjadi pada jam-jam sibuk ya, terkadang kita untuk mencapai titik kebakaran itu melewati jalur padat," ucap dia.

Dia mengajak masyarakat untuk bersama-sama mencegah kebakaran. Fadly turut meminta warga tidak menghalangi petugas yang sedang memadamkan kebakaran.

"Jadi mohon kepada masyarakat untuk bisa memberi ruang kepada petugas dan tidak menjadikan kebakaran ini jadi tontonan sehingga mempermudah proses pemadaman," ujarnya.

Fadly juga mengimbau kepada seluruh pejabat struktural hingga tokoh masyarakat untuk bersinergi saat kebakaran marak terjadi di Makassar. Dia berharap agar upaya pencegahan secara bersama dilakukan sehingga kebakaran tidak terjadi.

"Jadi kita harap ikut sama-sama menjaga kondisi ini, karena sebenarnya kebakaran itu ibaratnya menjadi sesuatu yang harus sama-sama kita atasi, kepedulian sangat kita harapkan," imbuh Fadly.

Senada, Kabid Operasi Damkarmat Makassar, Andi Muhammad Cakrawala mengakui kebakaran semakin meningkat karena turut dipengaruhi musim kemarau. Pada Agustus dalam sepekan terakhir, pihaknya mencatat banyak rentetan kebakaran.

"Selain pengaruh cuaca yang cukup ekstrem dan di mana sepekan terakhir ini kejadian kebakaran lahan sangat banyak terjadi," ucap Cakrawala yang dikonfirmasi terpisah.

Data Damkarmat Makassar sejak Januari hingga Agustus 2026, kebakaran mendominasi terjadi pada bulan ini sebanyak 68 kasus. Sementara sejak Januari 17 kasus, Februari 12 kasus, Maret 10 kasus, April 18 kasus, Mei 15 kasus, Juni 31 kasus, dan Juli 47 kasus.

Dari sisi penyebab, Damkarmat mengungkap korsleting listrik sering menjadi pemicu kebakaran dengan temuan 31 kasus selama 2026. Sementara kebakaran yang dipicu tabung gas atau kompor 15 kasus, sampah/alang-alang 88 kasus, dan lain-lain tidak diketahui sebanyak 84 kasus.

Damkarmat juga melaporkan kebakaran sepanjang 2026 mengakibatkan 210 rumah terbakar. Kebakaran juga menghanguskan 20 toko/kios/kafe, 7 gudang, 1 hotel/asrama, 6 kantor/sekolah, 27 kendaraan dan 133 titik alang-alang.

Kebakaran yang terjadi mengakibatkan 4 orang meninggal dunia, 6 luka-luka dan turut berdampak pada 463 kepala keluarga (KK). Damkarmat Makassar mencatat total kerugian yang ditimbulkan akibat kebakaran ditaksir mencapai Rp 11.091.300.000 (Rp 11 miliar).

"Kami juga mengimbau untuk selalu memperhatikan perangkat elektronik bila tidak digunakan sebaiknya colokan listriknya dilepas, dan selalu memperhatikan keamanan di wilayah dapur," pungkas Cakrawala.



(sar/asm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads