Pasien RS Stella Maris Makassar Dipulangkan Sebelum Sadar-Kondisi Memburuk

Pasien RS Stella Maris Makassar Dipulangkan Sebelum Sadar-Kondisi Memburuk

Sahrul Alim - detikSulsel
Jumat, 13 Mar 2026 15:10 WIB
Ilustrasi. Pasien RS Stella Maris Makassar dipulangkan dalam kondisi belum sadar, memicu protes keluarga. Kini dirawat di RS Kemenkes.
Foto: iStock
Makassar -

Seorang pasien perempuan berinisial AD (55) diduga dipulangkan pihak Rumah Sakit (RS) Stella Maris, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), meski kondisinya belum sadar. Pihak keluarga sempat melakukan protes, namun pasien tetap dipulangkan hingga kondisinya memburuk saat tiba di rumah.

"Kemarin dipulangkan masih belum sadar, diangkut pakai tandu," ujar adik pasien, Meri Asrianti saat dikonfirmasi kepada detikSulsel, Jumat (13/3/2026).

Pasien masuk ke RS Stella Maris Makassar pada Kamis (5/3) dan dipulangkan pada Kamis (12/3). Pasien itu sempat dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU) selama 6 hari kemudian 2 hari di ruang perawatan sebelum akhirnya dipulangkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sejak 5 Maret, kemarin dikasih keluar jadi dirawat selama 8 hari, 6 hari di ICU," katanya.

Dia menuturkan kakaknya awalnya tidak sadarkan diri di rumahnya di Pulau Kodingareng. Pihak keluarga lantas membawanya ke RS Stella Maris Makassar untuk mendapatkan perawatan.

ADVERTISEMENT

"Ngorok, turun gulanya, itu hari tidak enak perasaannya sampai tidak sadarkan diri," bebernya.

Meri mengungkapkan kakaknya dijaga oleh anaknya selama dirawat di RS Stella Maris. Dia sempat protes saat kakaknya akan dipindahkan dari ruang ICU ke ruang perawatan.

"Kemenakan bilang, cepat pergi dulu ke rumah sakit karena mama mau dipindahkan ke perawatan. Saya bilang kenapa bisa, karena belum sadar," ujarnya.

Sesampainya di rumah sakit, Meri mengaku mempertanyakan alasan pemindahan kakaknya yang masih belum sadar. Namun pihak rumah sakit menyampaikan kondisi pasien telah membaik.

"Mereka bilang sudah membaik tensinya, terus nadinya, pokoknya yang berhubungan dengan gulanya katanya sudah normal kembali," katanya.

Pasien kemudian dipindahkan ke ruang perawatan pada malam hari. Namun keesokan paginya, keluarga kembali mendapat informasi bahwa pasien akan dipulangkan.

"Malam masuk ruang perawatan, paginya sudah mau dikasih keluar. Saya tanya kenapa mau dikasih keluar padahal baru satu malam dipindahkan ke ruang perawatan," bebernya.

Keluarga sempat mencoba menyampaikan keberatan melalui perawat, namun tidak direspons. Dia kemudian mendatangi dokter yang menangani kakaknya untuk meminta penjelasan.

"Kemanakan sempat sampaikan apa yang saya kasih tahu ke perawatnya tapi tidak didengar," katanya.

Meri akhirnya bertemu dengan dokter spesialis saraf yang menangani kakaknya. Dalam pertemuan itu, Meri mempertanyakan alasan pasien dipulangkan meski belum sadar.

"Saya tanya kenapa kakak saya belum sembuh tapi sudah mau dipulangkan. Katanya sudah normal semua, tidak seperti awal masuk kena stroke," ujarnya.

Namun Meri menilai kondisi kakaknya masih belum pulih karena belum membuka mata dan belum memberikan respons. Dia bahkan mengaku melihat perawat harus menekan dada kakaknya untuk merangsang respons.

"Kalau saya lihat itu belum sembuh karena mata belum terbuka dan tangan juga belum goyang-goyang. Bahkan suster pencet keras dadanya baru terbuka matanya," ungkapnya.

Meri kemudian meminta agar pasien tetap dirawat beberapa hari lagi untuk melihat perkembangan kondisinya. Menurutnya, dokter sempat menyetujui usulan tersebut.

"Saya bilang lagi, bagaimana kalau ditunggu lagi tiga hari. Dia bilang itu dokter boleh, jangan dulu dikasih keluar," ujarnya.

Namun pada malam harinya, keluarga kembali mendapat informasi bahwa pasien tetap akan dipulangkan. Hal itu memicu protes dari pihak keluarga.

"Padahal pasien belum sadar. Jadi saya mengamuk lagi di bagian keperawatan karena bagian keperawatan memang yang bersikeras mau kalau dikasih keluar," katanya.

"Saya bilang apakah itu bedanya BPJS dengan umum. Kalau umum mungkin bisa lama dirawat sampai sadar betul pasien," sambungnya.

Menurut Meri, rumah sakit hanya menyarankan pasien dirawat di rumah melalui layanan home care. Menurutnya perawatan di rumah tidak memungkinkan karena kondisi pasien masih belum sadar.

"Katanya (perawat) dokter yang sarankan harus pulang hari ini, tinggal dirawat di rumah, home care," katanya.

Saat akan dipulangkan, Merri juga sempat meminta agar kakaknya dibawa pakai ambulans rumah sakit ke rumahnya di Jalan Deng Tata. Namun dimintai bayaran Rp 550 ribu karena di luar zona gratis.

"Saya sempat minta untuk pakai ambulans tapi harus bayar Rp 550 ribu karena katanya masuk zona 2 kalau dibawa ke rumah saya di Jalan Dg Tata. Kakak saya memang transit di rumah karena di pulau dia," jelasnya.

Meri akhirnya memesan ambulans dari luar dengan membayar biaya Rp 300 ribu. Namun pada malam harinya, penyakit kakaknya kembali kambuh sehingga dibawa ke Rumah Sakit Kemenkes.

"Jadi ditandu dalam keadaan begitu ke ambulans saya sewa 300 ribu dari luar. Pas sampai di rumah, malamnya kambuh lagi, itu lidahnya sudah lari masuk sudah mau tertutup pernapasannya. Makanya langsung saya bawa ke RS Kemenkes, langsung ditangani, sekarang masih dirawat," jelasnya.

Setelah diperiksa di RS Kemenkes, keluarga mendapat informasi adanya gangguan pada otak pasien. Kondisi itu diduga membuat pasien tidak memberikan respons.

"Di rumah sakit Kemenkes bilang, itu karena ada pembekuan cairan di otak sampai dia tidak merespon tangan dan matanya," imbuhnya.

Sementara itu, pihak RS Stella Maris Makassar mengaku masih akan melakukan penelusuran lebih lanjut mengenai kejadian ini.

"Terkait informasi yang beredar di media sosial mengenai kejadian tersebut, saat ini pihak Rumah Sakit sedang melakukan penelusuran dan penanganan internal sesuai dengan prosedur operasional standar (SPO) yang berlaku," ujar Humas RS Stella Maris, Dessy kepada detikSulsel.

Halaman 2 dari 2
(hsr/sar)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads