Sopir travel bernama Aris Sanda (41) tewas ditembak kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, usai dituduh sebagai anggota intelijen aparat keamanan. Polisi memastikan tuduhan KKB itu tidak benar alias hoaks.
"Kami bisa pastikan bahwa berita yang menyebut sopir lajuran ini merupakan anggota intel aparat keamanan adalah berita bohong atau hoaks," kata Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Yusuf Sutejo dalam keterangannya dikutip, Jumat (18/9/2026).
Yusuf menegaskan, korban merupakan sopir yang mengantar logistik warga lajur rute Wamena-Mbua. Korban kerap membawa bahan kebutuhan pokok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sopir tersebut memang bekerja sebagai sopir dan sudah menjalankan pekerjaannya selama sekitar 13 tahun di jalur tersebut," tegas Yusuf.
Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku. Pihaknya tengah mendalami dugaan keterlibatan Kodap III Ndugama yang disebut berada di sekitar lokasi kejadian.
"Memang ada informasi yang mengarah kepada kelompok Kodap III Ndugama yang berada di sekitar lokasi, namun informasi tersebut masih harus kami dalami dan verifikasi lebih lanjut," paparnya.
Kepala Operasi Damai Cartenz-2026 Irjen Faizal Ramadhani menegaskan, setiap pihak yang terbukti terlibat dalam tindakan kekerasan akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Dia memastikan akan mengusut tuntas kasus pembunuhan ini.
"Penegakan hukum akan dilakukan secara profesional dan terukur. Kami akan memastikan seluruh fakta dikumpulkan dan setiap pihak yang terbukti terlibat akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku," tegas Faizal.
Pembunuhan itu terjadi di jalur Wamena menuju Mbua, sekitar Danau Habema, Distrik Trikora, Jayawijaya, Selasa (15/9) sekitar pukul 06.00 WIT. Korban merupakan warga asal Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel), yang merantau ke Papua.
Aparat kepolisian sebelumnya telah melakukan olah TKP dan menemukan jenazah korban dalam mobil yang terbakar pada Rabu (16/9). Polisi juga mengamankan satu butir selongsong amunisi laras panjang kaliber 5,56 milimeter serta satu buah tas yang berisi identitas korban.
Sementara jenazah korban akan diterbangkan ke Makassar pada Jumat (18/9). Jasad korban selanjutnya dibawa ke kampung halamannya di Toraja untuk dimakamkan.
