Komnas HAM Papua: 6 Peluru Bersarang di Rumah Ibu Hamil Tewas Tertembak

Komnas HAM Papua: 6 Peluru Bersarang di Rumah Ibu Hamil Tewas Tertembak

Tim detikcom - detikSulsel
Sabtu, 04 Jul 2026 18:00 WIB
Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua Frits Ramandey
Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua Frits Ramandey. Foto: detikcom
Intan Jaya -

Komnas HAM mengungkap temuan awal tim investigasi terkait kasus ibu hamil bernama Melkiana Duwitau yang tewas usai diduga terkena peluru nyasar dari tembakan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Total ada enam peluru bersarang di sekitar rumah korban.

"Saya juga melakukan rekonstruksi di sekitar rumah tentang peristiwa penembakan. Saya melihat kurang lebih ada enam peluru yang bersarang di sekitar rumah itu," ungkap Kepala Komnas HAM Perwakilan Papua Frits S Ramandey kepada wartawan, Sabtu (4/7/2026).

Dari enam peluru yang bersarang itu, satu di antaranya mengenai korban. Frits mengatakan korban terkena peluru pada bahu kanan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Salah satu peluru yang kuat dugaan itu terkena langsung pada ibu Melkiana. Kalau tadi sepintas saya lihat luka di bahu kanan. Sedangkan anaknya juga ada di samping situ, sudah dikeluarkan oleh pihak puskesmas (dari perut korban)," bebernya.

Sementara warga sekitar, kata dia, sempat mendengar suara tembakan namun kecil. Sehingga, tembakan diduga berasal dari senjata api jenis pistol.

ADVERTISEMENT

"Ada kesaksian bahwa memang ada kontak di sekitar itu, tetapi orang-orang di sekitar mengatakan bahwa memang ada bunyi tembakan di sekitar situ dan bunyi tembakannya kecil. Diduga mereka menggunakan pistol," ungkap Frits.

Klarifikasi TNI soal Kontak Tembak dengan OPM

Koops TNI Habema mengungkap ibu hamil bernama Melkiana Duwitau tewas akibat peluru nyasar dari tembakan OPM pimpinan Peles Tigau. TNI mengklaim personelnya tidak melepaskan tembakan saat OPM melakukan rentetan penyerangan menggunakan senjata api.

"Selama rangkaian kejadian tersebut, personel Satgas TNI tidak melakukan tembakan balasan," tegas Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna dalam keterangannya, Sabtu (4/7).

Kondisi hujan, kabut tebal, dan jarak pandang yang sangat terbatas membuat personel memilih menempati posisi perlindungan (stelling). Personel saat itu memilih sambil memantau situasi guna menghindari risiko terhadap masyarakat sipil.

"Berdasarkan laporan lapangan, analisis kronologi, dan pemetaan lokasi, gangguan tembakan dilakukan oleh kelompok bersenjata pimpinan Peles Tigau dari tiga titik berbeda dalam rentang waktu sekitar 15 menit," tuturnya.

Tembakan pertama terjadi sekitar pukul 18.45 WIT dari arah Kampung Wandoga pada Kamis (2/7). Lima menit kemudian kembali terdengar tembakan dari titik berbeda di kawasan perbukitan depan Koramil Sugapa.

"Sekitar pukul 19.00 WIT, kelompok tersebut kembali melepaskan tembakan sebelum melarikan diri ke arah sungai," ucap Wirya.

Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa ketiga sumber tembakan berada pada titik yang berbeda dengan jarak sekitar 900 hingga 1.500 meter. Sementara itu, lokasi korban berada sekitar 321 meter dari titik gangguan tembakan pertama dan berjarak lebih jauh dari posisi personel Satgas TNI.

"Data tersebut menjadi salah satu dasar dalam proses analisis kejadian yang masih terus didalami bersama fakta-fakta lapangan lainnya," paparnya.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video Detik-detik Evakuasi Pilot AMA di Yahukimo yang Tewas Ditembak KKB"
[Gambas:Video 20detik] (asm/sar)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads