Kronologi 2 Wanita Diduga Joki UTBK Unsulbar Kepergok Pakai Alat Bantu Dengar

Sulawesi Barat

Kronologi 2 Wanita Diduga Joki UTBK Unsulbar Kepergok Pakai Alat Bantu Dengar

Hafis Hamdan - detikSulsel
Rabu, 22 Apr 2026 17:30 WIB
Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar).
Foto: Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar). (dok. Istimewa)
Majene -

Dua wanita peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) jalur Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) 2026 di Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) kepergok melakukan kecurangan dengan menggunakan alat bantu komunikasi. Keduanya disinyalir terlibat sindikat perjokian yang mengikuti ujian dengan mengincar fakultas kedokteran.

Aksi kedua wanita itu terbongkar saat melewati pemeriksaan metal detector sebelum memasuki ruangan ujian hari pertama pada Selasa (21/4) pagi. Panitia perempuan lalu memeriksa dua peserta itu dan mendapati alat bantu dengar serta handphone (HP) tersembunyi di balik pakaian.

"Alat itu kelihatan jadul, tetapi itu kelihatannya sudah diganti dia punya sistem ya. Di mana HP itu menjadi semacam decorder, jadi decorder itu kelihatan seperti HP, kemudian dia dihubungkan ke headset masuk ke telinga," ujar Plt Wakil Rektor 1 Unsulbar, Tasrif Surungan saat dihubungi detikcom, Rabu (22/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Panitia kemudian mengamankan alat komunikasi tersebut. Data temuan itu selanjutnya dikirim ke panitia pusat di Jakarta. Setelah diselidiki, kedua peserta tercatat pernah mengikuti ujian tahun 2025 lalu.

"(Data kedua perempuan) dilacak, oh iya ternyata, tahun 2025 juga ikut," bebernya.

ADVERTISEMENT

Tasrif menyebut kedua perempuan itu tidak berdomisili di Sulbar. Mereka disinyalir terlibat sindikat perjokian dengan memanfaatkan alat komunikasi yang dipakainya.

"Itu kelihatan memang joki, (daftar fakultas) kedokteran. Jadi, dia akan membaca itu (soal-soal) secara diam-diam dan itu kemudian terkirim suara itu ke pusat dia (kelompok sindikatnya)," ucapnya.

Selain itu, kedua peserta menggunakan kartu tanda penduduk (KTP) yang diduga palsu lantaran baru dicetak pada April 2026. Kasus ini pun telah dilaporkan ke ke Polres Majene.

"Diduga (menggunakan dokumen palsu), memang (KTP itu setelah dilihat) baru dirilis pada April 2026, berarti selama itu belum punya KTP. Kalau belum punya KTP, istilahnya boleh jadi yang bersangkutan itu bukan dia," katanya.

Tasrif yang juga Ketua Panitia UTBK SNBT Unsulbar itu mendorong kepolisian serius menangani kasus sindikat perjokian ini. Ia menilai praktik kecurangan akan terus terulang jika semua pihak yang terlibat tidak ditangkap.

Ia juga meminta awak media mengawal kasus ini di kepolisian. Selain itu, pihaknya telah meneruskan temuan tersebut ke panitia pusat di Jakarta untuk selanjutnya dilakukan koordinasi dengan Kapolri.

"Ini genting ini kalau begini (ada kecurangan di dunia pendidikan). Kalau begini terus, ini negara ini, kita akan melahirkan koruptor-koruptor masa depan, jangan (dianggap) sepele," tegasnya.



(hsr/asm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads