Dua wanita peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) jalur Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) di Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) diduga merupakan sindikat perjokian yang tercatat pernah mengikuti ujian tahun 2025. Keduanya juga diduga memalsukan KTP saat mengikuti ujian.
"Datanya (kedua perempuan itu) dikirim ke pusat, dilacak, oh iya ternyata tahun 2025 juga ikut," kata Plt Wakil Rektor 1 Unsulbar, Tasrif Surungan kepada wartawan, Rabu (22/4/2026).
Tasrif yang juga Ketua Panitia UTBK SNBT Unsulbar mendorong kepolisian untuk membongkar sindikat perjokian tersebut. Apalagi kedua perempuan itu disinyalir menggunakan kartu tanda penduduk (KTP) yang diduga palsu karena baru diterbitkan April 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Diduga (menggunakan dokumen palsu), memang (KTP pelaku) baru dirilis pada April 2026, berarti selama itu belum punya KTP. Kalau belum punya KTP, istilahnya boleh jadi yang bersangkutan itu bukan dia," terangnya.
Tasrif meminta awak media ikut mengawal temuan kecurangan ini dengan mengkonfirmasi perkembangan kasus di Polres Majene. Pihaknya juga telah meneruskan temuan tersebut ke panitia pusat di Jakarta untuk selanjutnya dilakukan koordinasi dengan Kapolri.
"Terus (kami juga laporkan temuan ini) tembusan ke panitia pusat. Panitia Pusat berkoordinasi dengan Kapolri, karena pelaksanaan ini (kegiatan dilakukan) oleh negara, Kapolri sebenarnya bagian integral dari kegiatan ini," ucapnya.
Dia menilai kasus ini tidak bisa dianggap sepele dan harus segera diungkap aparat penegak hukum (APH). Pasalnya kasus bisa saja terus berulang jika sindikat perjokian tidak cepat dibongkar.
"Ini genting ini kalau begini (ada kecurangan di dunia pendidikan). Kalau begini terus, ini negara ini, kita akan melahirkan koruptor-koruptor masa depan, jangan (dianggap) sepele," tegasnya.
Diberitakan sebelumnya, dua wanita peserta UTBK SNBT di Unsulbar kepergok melakukan kecurangan dengan menggunakan alat bantu komunikasi. Kecurangan itu terbongkar saat kedua perempuan melewati skiring metal detector sebelum memasuki ruangan ujian hari pertama atau pada Selasa (21/4) kemarin.
Kedua perempuan itu kemudian digeledah oleh panitia perempuan dan didapati alat bantu dengar dan handphone (HP) di balik pakaian. Temuan itu kemudian dilaporkan ke panitia pusat di Jakarta dan kepolisian.
"Alat itu kelihatan jadul, tetapi itu kelihatannya sudah diganti dia punya sistem ya. Di mana HP itu menjadi semacam decorder, jadi decorder itu kelihatan seperti HP, kemudian dia dihubungkan ke headset masuk ke telinga," ujar Tasrif.
