Aksi Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) saat unjuk rasa terkait kasus penyiraman air keras aktivis KontraS, Andrie Yunus di depan markas Kodam XIV Hasanuddin di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) berakhir ricuh usai dibubarkan orang tak dikenal (OTK). Salah satu handphone (HP) mahasiswa juga sempat dirampas OTK saat aksi tersebut.
"Kami sudah melaporkan secara resmi ke Polrestabes Makassar perampasan ponsel. Kami belum lapor kalau persoalan penganiayaan karena kami akan lakukan upaya non-litigasi kalau terkait itu," kata Panglima GAM Fajar Wasis kepada detikSulsel, Sabtu (11/4/2026).
Kasus perampasan tersebut dilaporkan ke Polrestabes Makassar, Kamis (9/4/2026). Fajar menyesalkan tindakan represif dari OTK tersebut termasuk perampasan alat dokumentasi milik peserta aksi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sangat sesalkan tindakan represif yang dilakukan oleh orang tak dikenal di kawasan Makodam Hasanuddin. Bahkan sebelum tindakan itu, salah satu kader kami dirampas handphone yang digunakan untuk mendokumentasikan aksi," jelasnya.
Ponsel yang dirampas yakni iPhone Pro Max berisi rekaman saat terjadi tindakan pembubaran. Padahal situasi aksi unjuk rasa yang menuntut pengusutan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus tersebut awalnya berlangsung tertib dan terorganisir.
"Aksi tersebut bertujuan untuk mendorong Pangdam Hasanuddin memberikan jaminan agar kasus kekerasan, seperti penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, tidak terulang di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat," katanya.
Pembubaran aksi itu berawal usai mereka berjalan kaki menuju Makodam XIV Hasanuddin. Mereka berorasi selama 30 menit sebelum sejumlah OTK yang mengenakan rompi, masker dan topi tiba-tiba muncul dan mengerumuni massa aksi.
"Mereka langsung merampas handphone dokumentasi kami, kemudian menyeret beberapa massa ke pinggir jalan dan melakukan tindakan represif. Itu yang kami sesalkan," katanya.
Fajar juga mengungkapkan bahwa pihaknya sempat memiliki rekaman video berdurasi singkat sekitar 4 detik. Tidak hanya itu proses dokumentasi yang dilakukan warga juga mendapat intimidasi oleh OTK.
"Video itu ada, tapi sangat singkat. Karena saat ada yang merekam, langsung didatangi OTK dan diminta menghentikan perekaman," ungkapnya.
Pihaknya berharap pihak kepolsiian bertindak cepat dan tranparan mengungkap pelaku. GAM juga berencana kembali menggelar aksi dengan jumlah massa yang lebih besar.
"Kami berharap pihak kepolisian bertindak cepat, tegas, dan transparan untuk mengungkap kasus ini. Laporan ini adalah langkah awal kami. Perjuangan ini tidak akan berhenti di sini. Kami akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar untuk menuntut keadilan," imbuhnya.
Sementara itu, Kasi Humas Polrestabes Makassar AKP Wahiduddin telah dikonfirmasi terkait laporan dugaan perampasan HP oleh OTK tersebut. Namun Wahiduddin belum memberikan tanggapan.
Sebelumnya diberitakan, massa GAM menyampaikan orasi di depan Markas Kodam XIV Hasanuddin, Jalan Urip Sumoharjo, Rabu (8/4) sekitar pukul 14.20 Wita. Situasi di lokasi memanas saat massa dibubarkan OTK hingga sejumlah demonstran luka lebam.
"Massa aksi mulai dikerumuni oleh OTK yang kemudian melakukan tindakan represif terhadap peserta aksi," kata Panglima GAM bernama Fajar Wasis dalam keterangannya, Kamis (9/4).
Sementara itu, pihak Kodam XIV Hasanuddin belum memberi keterangan resmi soal kejadian ini. Pihaknya menunggu masih menunggu arahan pimpinan yang saat ini sedang berada di luar daerah.
"Nanti kami laporkan juga ke atasan," kata Kepala Seksi Penerangan Media (Kasipenmed) Kodam XIV Hasanuddin Ahmad Safari yang dikonfirmasi terpisah.
(sar/nvl)











































