Keluarga Ungkap Tahanan Rutan Sidrap Tewas Usai Dipukuli Selama 2 Hari

Keluarga Ungkap Tahanan Rutan Sidrap Tewas Usai Dipukuli Selama 2 Hari

Ardiansyah - detikSulsel
Senin, 23 Mar 2026 13:00 WIB
Jenazah Muh Taufik (29) yang diduga tewas dianiaya di Rutan Sidrap. Dokumen Istimewa
Foto: Jenazah Muh Taufik (29) yang diduga tewas dianiaya di Rutan Sidrap. Dokumen Istimewa
Sidrap -

Keluarga Muh Taufik (29), tahanan yang meninggal di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel), meragukan penjelasan pihak rutan. Mereka menilai klaim bahwa korban tewas akibat bunuh diri tidak sesuai dengan kondisi jasad korban yang babak belur.

"Petugas Lapas (Rutan) mengatakan bahwa bunuh diri, sedangkan informasi dari temannya bahwa dia dipukul, sudah dua hari dipukul. Nah, ini saya sangat meragukan atas informasi yang berbeda ini," ujar paman korban, Safaruddin Dg Nompo kepada detikSulsel, Senin (23/3/2026).

Menurut Safaruddin, kejanggalan mulai terlihat saat jenazah tiba di rumah duka di Tanru Tedong, Sidrap, Selasa (17/3) lalu. Menurutnya, kondisi fisik keponakannya itu memprihatinkan dan tidak menunjukkan ciri-ciri umum orang gantung diri menggunakan sarung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sangat memprihatinkan. Banyak luka-luka di badannya. Di lehernya itu kayak tali dijerat, ditarik dari belakang. Bibirnya pecah, lebam di lengan kanan dan kiri sampai ke belakang, kayak habis dipukul sapu lidi," ungkapnya.

Dia juga menyoroti klaim pihak rutan mengenai alat yang digunakan korban. Menurutnya, luka di lehernya itu bekas tali yang sengaja diikat ke korban.

ADVERTISEMENT

"Katanya gantung diri pakai sarung, tapi itu (bekas di leher) bukan bekas sarung, itu tali," tegas Safaruddin.

Keluarga merasa ada upaya untuk menutupi penyebab kematian Taufik. Pasalnya, istri korban diminta langsung membawa pulang jenazah dari rumah sakit tanpa melalui proses visum.

"(Jenazahnya) Diambil di rumah sakit, baru tidak ada divisum. Maklum istrinya orang tidak tahu apa-apa, langsung disuruh bawa pulang saja. Meninggal baru dikabari," katanya.

Selain itu, hingga saat ini dikabarkan belum ada pihak rutan yang datang berkunjung ke rumah duka. Padahal biasanya pihak keluarga menunggu penjelasan resmi dari rutan.

"Tidak tahu (soal santunan), belum saya tanya-tanya. Tapi waktu saya ke sana, tidak ada orang Lapas yang datang. Biasanya kan kalau ada yang meninggal, orang Lapas datang. Ini tidak ada sama sekali," ujarnya.

Safaruddin menilai alasan bunuh diri sangat tidak masuk akal. Pasalnya, Taufik baru saja melakukan panggilan video (video call) dengan ibunya pada hari Minggu sebelum meninggal dan menyatakan kondisinya baik-baik saja.

"Anak itu tidak mungkin bunuh diri. Apalagi hukumannya sudah mau putus, sudah dijalani satu tahun lebih. Dia sempat bilang ke mamanya, 'Sehat-sehat ja Ma, nanti lebaran ke sini ki'," kenangnya.

Atas dasar bukti-bukti fisik dan kesaksian rekan korban, pihak keluarga mendesak pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini. Meski mengaku terkendala biaya dan kondisi ekonomi, Safaruddin menyatakan kesiapannya untuk melapor ke Polres Sidrap demi menuntut keadilan bagi almarhum.

"Sangat keberatan. Kami mohon kepada pihak berwajib untuk segera diusut tuntas atas kematian kemenakan saya ini. Kasihan ibunya sampai pingsan-pingsan karena tidak terima keadaan ini," katanya.

Klaim Rutan Sidrap Tahanan Tewas gegara Bunuh Diri

Kepala Rutan Kelas IIB Sidrap, Perimansyah sebelumnya membantah korban tewas gegara dianiaya petugas. Dia mengklaim luka yang ada di tubuh korban itu bekas ikatan tali.

"Bekas ikatan tali kalau difoto. Di leher bekas tali itu saya dapat foto waktu mau dikafani," ungkapnya.

Dia juga mengaku menerima laporan medis korban dari pihak rumah sakit. Perimansyah mengungkapkan, korban tewas usai hendak melakukan upaya bunuh diri.

"Laporan dari tim medis sama dokter (penjelasan lukanya)," katanya.




(hmw/sar)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads