Empat orang tenaga kesehatan (nakes) di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya, diserang oleh orang tidak dikenal (OTK). Dua orang tewas akibat serangan tersebut, sementara dua lainnya berhasil selamat.
Penyerangan terhadap nakes itu terjadi di Kampung Jokbu, Distrik Bamusbama, Tambrauw pada Senin (16/3) sekitar pukul 11.37 WIT. Kedua korban tewas masing-masing berinisial YL dan YEB.
Dirangkum detikcom, berikut 7 hal tentang pembunuhan sadis 2 tenaga kesehatan di Tambrauw:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Kronologi Pembunuhan
Kabid Humas Polda Papua Barat Daya Kompol Jenny Hengkelare mengungkapkan bahwa keempat korban awalnya melintas di lokasi kejadian. Namun, keempat korban yang berboncengan menggunakan dua unit sepeda motor tiba-tiba diadang oleh para pelaku.
"Telah terjadi penghadangan terhadap empat orang pengendara sepeda motor oleh beberapa OTK. Kita sebut OTK karena hingga kini masih dilakukan penyelidikan," kata Kompol Jenny Hengkelare kepada detikcom, Selasa (17/3/2026).
Para pelaku yang melakukan penganiayaan sadis mengakibatkan korban YL dan YEB tewas di tempat. Sementara dua korban lainnya yang tidak disebutkan identitasnya berhasil mencari perlindungan.
"Dua korban (tewas) di antara empat orang tersebut, korban yang dua orang sempat melarikan diri untuk mencari perlindungan atau pertolongan atau bantuan, yaitu ke pos satgas TNI," jelas Jenny.
2. Korban Tewas Berasal dari Sulsel dan NTT
Kompol Jenny mengungkapkan baik korban YL maupun YEB merupakan perantau dari luar Papua. YL berasal dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel), sementara YEB merupakan warga Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Informasi yang kami dapatkan itu (keduanya) dari pendatang. Bukan orang asli Papua. Iya kalau informasi kedunya (NTT dan Toraja)," ujar Kompol Jenny.
Jenazah kedua korban sendiri telah dievakuasi dari lokasi kejadian menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sele Be Solu, Kota Sorong. Jenazah selanjutnya diserahkan ke pihak keluarga.
3. Nakes Dituding Sebagai Aparat TNI-Polri
Pihak keluarga korban turut buka suara terkait serangan OTK tersebut. Menurutnya, beredar informasi yang menyebut korban dibunuh karena dituding sebagai aparat TNI-Polri.
"Kami sangat berduka sekaligus membantah klaim kelompok pelaku yang menyebut korban sebagai aparat. Kami sebagai keluarga sangat berduka dan prihatin atas peristiwa ini," kata Paman YL, Markus Smapebade kepada wartawan.
Dia menegaskan YL dan YEB sama-sama bertugas di Puskesmas Tambrauw. Hal ini sekaligus membantah klaim para pelaku yang menyebut kedua korban adalah aparat keamanan.
"Anak kami YL dan korban yang satunya, YEB merupakan teman satu kantor di puskesmas di Tambrauw. Mereka tenaga medis," tegasnya.
4. Keluarga Desak Aparat Beri Perlindungan ke Warga Sipil
Markus mendesak pemerintah dan aparat keamanan meningkatkan perlindungan bagi warga sipil di Tambrauw. Dia menyebut penyerangan terhadap warga sipil sudah berulang terjadi.
"Kami berharap pihak keamanan dan pemerintah menanggapi serius peristiwa keji ini. Ini sudah berulang," cetus Markus.
Lebih lanjut Markus menjelaskan bahwa korban YL dimakamkan di Kota Sorong. Keputusan itu merupakan kesepakatan awal keluarga yang masih menunggu proses lebih lanjut.
"Untuk korban atas nama YL asal Toraja, rencananya dimakamkan di Kota Sorong. Itu kesepakatan awal keluarga," katanya.
5. Polisi Imbau Warga Minta Pengawalan
Jenny mengatakan situasi di Tambrauw cukup kondusif pascapenyerangan tersebut. Warga yang hendak bepergian diminta tidak khawatir karena aparat TNI-Polri akan melakukan pengawalan sampai tujuan.
"Imbauan juga kepada masyarakat bahwa saat berpergian, baik dari Tambrauw menuju Sorong tidak perlu khawatir karena di sana ada pos TNI dan Polri yang siap mengawal perjalanan siapapun yang akan menuju ke tempat tersebut," katanya.
"Nanti secara bersama-sama mereka yang menggunakan roda dua dikelompokkan begitu mungkin lima kendaraan akan dikawal secara tertib oleh petugas TNI atau petugas Polri," sambung Jenny.
Jenny juga buka suara terkait dugaan pelaku penyerangan adalah anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB). Menurutnya, dugaan tersebut masih dalam proses pendalaman.
"Jadi saat ini masih dilakukan pendalaman-pendalaman terkait dengan kasus tersebut. Bahwa kita tidak bisa langsung men-judge bahwa itu adalah KKB," ujarnya.
6. Polisi Amankan 12 Orang Buntut Pembunuhan Nakes
Polisi mengamankan 12 orang buntut penyerangan nakes tersebut. Mereka yang diamankan semuanya berstatus saksi.
"Telah diamankan beberapa orang saksi atas dugaan keterlibatan kasus pengadangan, pengeroyokan, atau pembunuhan," kata Kompol Jenny, Kamis (19/3/2026).
12 saksi tersebut diamankan pada Rabu (18/3) sekitar pukul 03.00 WIT. Mereka diamankan tim gabungan TNI dan Polri berdasarkan hasil penyisiran di sejumlah lokasi.
"Saat penyisiran menemukan serta mengamankan orang-orang yang diduga sebagai saksi," ujarnya.
Para saksi yang diamankan antara lain berinisial TY (28), LY (57), SY (19), AY(44), MY (29), BY, AY, TY, WY (49), dan PY (49), YJ. Dua di antaranya merupakan kepala kampung yakni AY selaku kepala Kampung Banfoot dan MY kepala kampung Bamusbama.
Polisi turut menyita barang bukti berupa 7 senapan angin, 7 parang, 4 noken, 3 tombak, 1 tikar, 11 anak panah, 1 kembang api, 1 senter, dua benda diduga jimat, 1 gembok kecil, 9 bungkus anggur kupu, 1 topi warna hijau.
Selain itu ada sebuah tas warna hitam, 5 handphone, sepasang sepatu, sebuah panah, dua sisir kayu, tiga cas HP, satu pak peluru senjata angin. Selanjutnya ada 3 buah korek api, 1 kalung berwarna emas, 4 kunci rumah dan satu ruas bambu.
