Kronologi Oknum Sipir Lapas Bollangi Gowa Diduga Paksa Eks Napi Aborsi

Kronologi Oknum Sipir Lapas Bollangi Gowa Diduga Paksa Eks Napi Aborsi

Sahrul Alim - detikSulsel
Rabu, 18 Mar 2026 20:58 WIB
Ilustrasi pemerkosaan
Foto: Ilustrasi. (Edi Wahyono/detikcom)
Gowa -

Mantan narapidana Lapas Bollangi, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel) berinisial NN (29) mengaku dihamili hingga dipaksa menggugurkan kandungan oleh oknum sipir lapas berinisial APK (29). NN mengaku didesak melakukan aborsi dengan cara meminum minuman keras (miras).

Korban mengungkapkan perkenalannya dengan APK bermula saat dirinya bebas dari lapas perempuan tersebut pada Juli 2025. Dia menuturkan, APK yang lebih dahulu mendekatinya dengan mencatat sendiri nomor teleponnya.

"Awalnya kan saya baru bebas awal bulan Juli 2025. Dari pihak laki-laki bilang, cerita dia ke kalapasnya, bilang saya yang duluan hubungi. Padahal di hari bebasku itu dia datang ke saya minta dicatat nomor HP-nya. Tapi saya tidak catat, dia sendiri yang catat di buku telepon," kata NN kepada detikSulsel, Rabu (18/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia kemudian janjian dengan 2 orang pegawai perempuan dari lapas tersebut untuk makan malam. Dalam acara makan malam itu, salah satu rekannya menghubungi APK dengan panggilan video.

"Di situ dia (APK) bilang kenapa tidak chat ka. Saya bilang tidak ada kartunya HP-ku baru mau beli sebentar, makanya saya chat ini nomorku. Setelah itu dia chat terus, tapi saya tidak terlalu respons," kata NN.

ADVERTISEMENT

Sejak saat itu, APK mulai aktif menghubungi NN. Meski demikian, NN mengaku tidak terlalu merespons karena mengetahui Ari telah memiliki istri.

"Terus dia ajak nongkrong, awalnya saya tidak mau, alasan sibuk. Terus mengajak lagi yang kedua kalinya, akhirnya saya penuhi, terus pulang, setelah itu intens mi chat. Tidak ada status pacaran, tapi intens chat misalnya dia sudah di kantor, tanya sudah makan atau belum, video call," jelasnya.

"Saya tidak terlalu intens balas karena memang ini saya tahu kalau ada istrinya. Tapi memang sering dia begitu, sama tahanan-tahanan lain. Sering dia kayak chat-chat begitu," tambahnya.

Dalam beberapa pekan komunikasi mereka makin intens hingga APK berani mengajak NN bertemu di hotel. Pada pertemuan pertama, NN mengaku menolak ajakan berhubungan badan.

"Terus intens lagi chat, padahal perkiraanku begini, setelah kutolak ajakan hubungan badannya mungkin tidak mau mi sama saya," katanya.

Namun sikap APK tidak berubah dan masih terus menghubunginya sampai diajak bertemu di hotel. Singkat cerita selang beberapa bulan dari pertemuan tersebut, NN mengaku hamil.

"Pas pulang kerja saya singgah di apotek, saya coba test pack, ternyata saya hamil. Saya fotokan juga hasilnya, pertama responsnya cuma ketawa, katanya mau diapa, hadapi saja katanya," ujarnya.

Kabar dari korban justru dianggap APK itu hanyalah bualan semata. Pasalnya, APK justru mengarahkannya untuk menggugurkan kandungan.

"Awalnya dia bilang begitu sorenya, tapi tidak sesuai dengan ucapannya, karena malamnya dia belikan minuman alkohol. Dia minta saya minum itu karena katanya kalau masih muda ji kandungan ta', masih bisa dikasih keluar," jelasnya.

Tidak sampai di situ, NN lalu diminta cari nanas muda untuk dikonsumsi. APK juga disebut sempat mengirimkan uang secara bertahap sambil meminta NN mencari obat penggugur kandungan.

"Dia usahakan carikan saya uang. Dia minta rekening tapi dia tidak langsung transfer Rp 4 juta, awalnya Rp 500, terus Rp 1 juta, sambil dia minta ka cari tempat penjual obat penggugur kandungan," katanya.

Tekanan tersebut membuat dirinya merasa terdesak hingga akhirnya memutus komunikasi. Namun dalam kondisi itu, NN mengalami sakit perut hebat hingga akhirnya mengalami keguguran.

"Sampai saya capek didesak, terpaksa putus komunikasi sama dia, cuma masih sering dia hubungi untuk angkat teleponnya. Itu hari, tidak minum ka obat, tidak tahu kenapa, sakit perutku, keguguran ma," katanya.

NN mengaku saat keguguran disaksikan langsung oleh APK. Dia mengaku telah mengirimkan bukti dirinya mengalami keguguran kepada oknum petugas lapas tersebut.

"Bahkan saat keguguran dia lihat itu darah banyak sekali. Ada semua fotonya, ada semua bukti chat dia suruh gugurkan," ungkapnya.

Setelah kejadian tersebut, hubungan keduanya masih berlanjut namun tidak jelas. NN menyebut APK sempat berjanji akan bertanggung jawab.

"Terus setelah itu, saya bilang sudah mi, tidak mau ma tapi masih dia cari ka terus," katanya.

APK juga disebut telah kenal dengan orang tua NN dan kerap berkomunikasi. Belakangan orang tua NN memintanya untuk berhenti berhubungan dengan APK.

"Terus dia baca chat mamaku di HP-ku, dia minta saya berhenti sama APK, tinggalkan saja karena tidak jelas. Sakit hatinya katanya, terus tiba-tiba tidak ada angin tidak ada hujan, dia bilang tidak mau lagi sama saya, dia mau kembali ke anak dan istrinya," ujarnya.

NN menyatakan tidak keberatan ditinggalkan, namun dia merasa tidak terima karena telah dibawa sejauh itu tanpa kejelasan tanggung jawab. Sejak awal dia hanya meminta permintaan maaf kepada dirinya atau keluarganya, tetapi hal itu tidak pernah dipenuhi.

"Saya toh bukan tidak mau ditinggal karena cinta atau sayang, bukan. Cuma saya tidak terima kenapa saya diajak sejauh ini baru ujung-ujungnya dia tinggalkan," jelasnya.

Sementara itu, Humas Kanwil Pemasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) Sulsel, Ardi Akbar mengaku belum mengetahui persis kasus ini. Dia mengaku baru akan menelusuri kejadiannya apakah di Lapas Narkotika atau Lapas Perempuan.

"Nanti saya konfirmasi dulu lapas perempuan," singkat Andi Akbar yang dikonfirmasi terpisah.




(sar/ata)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads