Durhaka Pria di Donggala Penggal Kepala Ibu Kandungnya gegara Kerap Di-bully

Sulawesi Tengah

Durhaka Pria di Donggala Penggal Kepala Ibu Kandungnya gegara Kerap Di-bully

Tim detikcom - detikSulsel
Sabtu, 30 Agu 2025 10:00 WIB
Ilustrasi pembunuhan
Foto: (Getty Images/ilbusca)
Donggala -

Pria berinisial SL (34) kini mendepak di penjara gegara tega menebas leher ibunya, LN (55) hingga putus. Pria asal Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) itu membunuh ibunya diduga karena kesal kerap di-bully oleh keluarganya sendiri.

Pembunuhan sadis itu terjadi di rumah korban di Desa Gimpubia, Kecamatan Pinembani, Donggala pada Selasa (26/8) malam. Polisi yang menerima laporan menangkap pelaku di dalam hutan pada Rabu (27/8).

"Pelaku berhasil diamankan tanpa perlawanan setelah tim menyisir hutan dibantu masyarakat," ujar Kasat Reskrim Polres Donggala Iptu Bayu Dhamma dalam keterangannya, Kamis (28/8/2025).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pelaku Sakit Hati Kerap Di-bully

Bayu mengatakan pelaku awalnya mendatangi rumah korban sekitar pukul 18.00 Wita pada hari kejadian. Saat itu, pelaku sudah membawa sebilang parang yang digunakan menebas leher korban.

"Posisi dia sudah pegang parang. Langsung tebas mamanya, tanpa ada kata-kata apa pun," kata Bayu.

ADVERTISEMENT

Pelaku kemudian membawa kepala ibunya ke rumah kakaknya yang jaraknya sekitar 200 meter dari tempat kejadian perkara (TKP). Pelaku lantas melemparkan kepala korban ke kakaknya.

"Dia dobrak pintu rumah kakaknya, lalu dilempar kepala sambil bilang 'Ini kepala mamamu, ini kepala ibumu'," beber Bayu.

Dari hasil pemeriksaan, pelaku diduga sakit hati dengan keluarganya. Namun kekesalan pelaku justru dilampiaskan ke korban yang merupakan ibunya.

"Motifnya itu dia sakit hati, terlalu sering di-bully begitu sama keluarga.
Sebenarnya yang bully bukan korban, tapi keluarganya katanya. Ia betul dilampiaskan ke korban ini," ungkapnya.

Bayu menambahkan pihaknya belum bisa memastikan pelaku orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Sebab, selama pemeriksaan, pelaku mengerti pertanyaan penyidik.

"Kalau dibilang ODGJ, sekarang belum bisa dikatakan. Selama diperiksa dia bisa jawab pertanyaan dan mengerti maksud penyidik," terangnya.

"Selama diperiksa, dia kooperatif. Apa yang kita tanya, dia bisa jawab. Apa yang kita maksud, dia juga mengerti," tambahnya.

Dia mengimbau agar masyarakat mempercayakan penanganan kasus ini ke aparat kepolisian. Dia juga meminta warga tidak memilih jalan kekerasan untuk menyelesaikan persoalan.

"Setiap pembunuhan adalah pelanggaran berat yang merusak keluarga, mengganggu ketenteraman masyarakat, dan membawa konsekuensi hukum serius," tegasnya.




(hsr/hsr)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads