Melihat Kemeriahan Tradisi Maudu Lompoa di Takalar

Melihat Kemeriahan Tradisi Maudu Lompoa di Takalar

Urwatul Wutsqaa, Osmawanti Panggalo - detikSulsel
Kamis, 10 Sep 2026 19:46 WIB

Takalar - Masyarakat Desa Cikoang, Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar festival Maudu Lompoa. Festival ini merupakan tradisi tahunan perayaan Maulid Nabi.

Festival Maudu Lompoa Takalar
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Cikoang terdiri dari berbagai prosesi yang dimulai sejak bulan Safar. Prosesi puncaknya yang disebut Maudu Lompoa di tahun 2026 ini berlangsung pada Kamis, 10 September 2026. (Foto: Urwatul Wutsqaa/detikSulsel)
Festival Maudu Lompoa Takalar
Maudu Lompoa merupakan tradisi penting bagi masyarakat Desa Cikoang. Festival ini diselenggarakan secara besar-besaran dan bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun 2016. (Foto: Urwatul Wutsqaa/detikSulsel)
Festival Maudu Lompoa Takalar
Selain diperingati oleh masyarakat setempat, tradisi ini juga menjadi magnet bagi wisatawan. Banyak pengunjung dari sekitar Desa Cikoang hingga luar daerah yang sengaja datang untuk menyaksikan kemeriahan agenda tahunan tersebut. (Foto: Urwatul Wutsqaa/detikSulsel)
Festival Maudu Lompoa Takalar
Keunikan tradisi ini terletak pada penggunaan kapal yang dihias secara meriah. Kapal yang disebut julung-julung kemudian diisi dengan berbagai simbol Maulid seperti telur, ayam, beras, dan berbagai kue. (Foto: Urwatul Wutsqaa/detikSulsel)
Festival Maudu Lompoa Takalar
Julung-julung tersebut juga dilengkapi dengan layar yang disebut sombala'. Uniknya, layar tersebut terdiri dari kumpulan kain atau pakaian yang ditata menyerupai layar perahu Phinisi. (Foto: Osmawanti Panggalo/detikSulsel)
Festival Maudu Lompoa Takalar
Bagi masyarakat Cikoang tradisi Maudu Lompoa sudah seperti kewajiban. Umumnya setiap keluarga besar menyiapkan satu julung-julung setiap perayaan Maudu Lompoa. (Foto: Osmawanti Panggalo/detikSulsel)
Festival Maudu Lompoa Takalar
Isi julung-julung seperti beras dan ayam sesuai dengan jumlah anggota keluarga. Sementera untuk hiasannya dapat menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing. (Foto: Osmawanti Panggalo/detikSulsel)
Festival Maudu Lompoa Takalar
Jika belum mampu membuat julung-julung keluarga dapat membuat versi lebih kecil menyerupai rakit berbentuk segi empat yang disebut bembengan. Karena bentuknya lebih kecil, isiannya pun lebih sederhana. (Foto: Urwatul Wutsqaa/detikSulsel)
Festival Maudu Lompoa Takalar
Proses mengisi julung-julung maupun bembengan dilakukan sehari sebelum puncak tradisi. Keesokan harinya, masyarakat secara bergotong royong membawa julung-julung atau bembengan ke lokasi Maudu di pinggir laut. (Foto: Osmawanti Panggalo/detikSulsel)
Festival Maudu Lompoa Takalar
Setelah semuanya tersusun, prosesi dilanjutkan dengan a'rate atau pembacaan barzanji. Seluruh rangkaian tradisi ditutup dengan membagi-bagikan isi julung-julung dan bembengan kepada masyarakat dan pengunjung. (Foto: Urwatul Wutsqaa/detikSulsel)
Melihat Kemeriahan Tradisi Maudu Lompoa di Takalar
Melihat Kemeriahan Tradisi Maudu Lompoa di Takalar
Melihat Kemeriahan Tradisi Maudu Lompoa di Takalar
Melihat Kemeriahan Tradisi Maudu Lompoa di Takalar
Melihat Kemeriahan Tradisi Maudu Lompoa di Takalar
Melihat Kemeriahan Tradisi Maudu Lompoa di Takalar
Melihat Kemeriahan Tradisi Maudu Lompoa di Takalar
Melihat Kemeriahan Tradisi Maudu Lompoa di Takalar
Melihat Kemeriahan Tradisi Maudu Lompoa di Takalar
Melihat Kemeriahan Tradisi Maudu Lompoa di Takalar

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads