Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Cikoang terdiri dari berbagai prosesi yang dimulai sejak bulan Safar. Prosesi puncaknya yang disebut Maudu Lompoa di tahun 2026 ini berlangsung pada Kamis, 10 September 2026. (Foto: Urwatul Wutsqaa/detikSulsel)
Maudu Lompoa merupakan tradisi penting bagi masyarakat Desa Cikoang. Festival ini diselenggarakan secara besar-besaran dan bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun 2016. (Foto: Urwatul Wutsqaa/detikSulsel)
Selain diperingati oleh masyarakat setempat, tradisi ini juga menjadi magnet bagi wisatawan. Banyak pengunjung dari sekitar Desa Cikoang hingga luar daerah yang sengaja datang untuk menyaksikan kemeriahan agenda tahunan tersebut. (Foto: Urwatul Wutsqaa/detikSulsel)
Keunikan tradisi ini terletak pada penggunaan kapal yang dihias secara meriah. Kapal yang disebut julung-julung kemudian diisi dengan berbagai simbol Maulid seperti telur, ayam, beras, dan berbagai kue. (Foto: Urwatul Wutsqaa/detikSulsel)
Julung-julung tersebut juga dilengkapi dengan layar yang disebut sombala'. Uniknya, layar tersebut terdiri dari kumpulan kain atau pakaian yang ditata menyerupai layar perahu Phinisi. (Foto: Osmawanti Panggalo/detikSulsel)
Bagi masyarakat Cikoang tradisi Maudu Lompoa sudah seperti kewajiban. Umumnya setiap keluarga besar menyiapkan satu julung-julung setiap perayaan Maudu Lompoa. (Foto: Osmawanti Panggalo/detikSulsel)
Isi julung-julung seperti beras dan ayam sesuai dengan jumlah anggota keluarga. Sementera untuk hiasannya dapat menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing. (Foto: Osmawanti Panggalo/detikSulsel)
Jika belum mampu membuat julung-julung keluarga dapat membuat versi lebih kecil menyerupai rakit berbentuk segi empat yang disebut bembengan. Karena bentuknya lebih kecil, isiannya pun lebih sederhana. (Foto: Urwatul Wutsqaa/detikSulsel)
Proses mengisi julung-julung maupun bembengan dilakukan sehari sebelum puncak tradisi. Keesokan harinya, masyarakat secara bergotong royong membawa julung-julung atau bembengan ke lokasi Maudu di pinggir laut. (Foto: Osmawanti Panggalo/detikSulsel)
Setelah semuanya tersusun, prosesi dilanjutkan dengan a'rate atau pembacaan barzanji. Seluruh rangkaian tradisi ditutup dengan membagi-bagikan isi julung-julung dan bembengan kepada masyarakat dan pengunjung. (Foto: Urwatul Wutsqaa/detikSulsel)