Masyarakat di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), menyimpan cerita yang diwariskan secara turun-temurun tentang seekor ular raksasa yang dikutuk menjadi batu karena meresahkan warga. Konon, batu yang diyakini sebagai jelmaan ular tersebut menjadi cikal bakal penamaan sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai Messawa.
Messawa merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Mamasa. Kecamatan dengan luas wilayah sekitar 150,88 kilometer persegi ini berjarak sekitar 56 kilometer dari ibu kota Kabupaten Mamasa dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Polewali Mandar (Polman).
Jejak kisah tersebut masih dapat ditemukan hingga kini melalui sebuah batu berukuran besar. Batu yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama Batu Sawah berada di dekat aliran sungai kecil, sekitar satu kilometer dari pemukiman warga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Batu tersebut berukuran sekitar 1,5 x 3 meter. Bentuknya oval dengan permukaan bergelombang yang menyerupai lilitan ular, meski bentuknya kini mulai samar.
Batu yang diyakini sebagai jelmaan ular sawah itu memiliki potensi menjadi objek wisata, namun belum mendapat perhatian pemerintah. Kondisinya pun perlahan terkikis sehingga bentuk yang diyakini menyerupai ular semakin tidak jelas.
"Dari situlah muncul nama Messawa yang pada saat itu disebut Mesawa artinya mencari ular," ujar salah satu tokoh masyarakat setempat, Jufri Allo kepada wartawan, Minggu (23/8/2026).
Penampakan batu di Mamasa yang dianggap menjadi cikal bakal penamaan Kecamatan Messawa. (Abdy Febriady/detikSulsel) |
Jufri menjelaskan, kisah tersebut bermula dari kemunculan seekor ular berukuran besar yang dikenal masyarakat sebagai ular sawah di wilayah Sindagamanik, Mamasa. Kemunculan ular membuat warga resah.
"Ceritanya ular itu berasal dari daerah Sindagamanik, lokasi kemunculannya dikenal dengan nama Banua Sawah," tutur Jufri.
Hewan melata itu disebut kerap merusak tanaman dan memangsa ternak. Warga kemudian berusaha memburu ular itu hingga melarikan diri dari Sindagamanik.
"Seekor ular yang besar meresahkan masyarakat karena sudah menyerang ternak termasuk merusak tanaman, sehingga masyarakat memburu ular itu yang lari dari Sindagamanik," ungkapnya.
Ular itu kemudian berusaha menghindari kejaran warga dengan berenang sejauh puluhan kilometer menyusuri aliran Sungai Sindagamanik. Ular pun tiba di wilayah Kecamatan Sumarorong.
Di wilayah tersebut, warga kembali menemukan keberadaan ular itu dan berhasil melukainya. Lokasi tempat warga menebas ular tersebut kemudian dikenal dengan nama Battang Sawah.
"Setelah sampai di Sumarorong, ular masih diburu warga karena kembali merusak tanaman dan menyerang ternak hingga membuat resah, Sempat ada warga yang berhasil menebas ular itu, sehingga tempat ular ditebas dibadikan menjadi nama sebuah kampung yaitu Battang Sawah," terang Jufri.
Dalam kondisi terluka, ular tersebut kembali melarikan diri menyusuri aliran sungai. Ular lalu bersembunyi di salah satu tempat di wilayah Desa Makuang untuk memulihkan lukanya. Tempat persembunyian ular tersebut dikenal dengan nama Bumbung Sawah.
"Karena sudah luka, ular itu itu menyusuri sungai untuk menghindari kejaran warga, dia bersembunyi untuk menyembuhkan lukanya. Sehingga ada satu tempat di Desa Makuang diabadikan tempatnya jadi Bumbung Sawah, artinya tempat persembunyian ular itu," tutur Jufri.
Setelah bersembunyi cukup lama hingga luka akibat tebasan warga sembuh, ular tersebut akhirnya keluar untuk mencari makan. Keberadaannya kembali diketahui warga ketika ular itu berenang melawan arus di Sungai Mamasa.
"Mungkin berbulan-bulan dia bersembunyi sampai lukanya sembuh, ular akhirnya keluar mencari makan, sehingga dia keluar menyusuri Sungai Salu Kupang dan kembali ke Sungai Mamasa," ucap Jufri.
Menurut Jufri, ular tersebut kembali berenang melawan arus di Sungai Mamasa hingga keberadaannya tidak lagi diketahui. Warga meyakini ular itu telah mati dan berubah menjadi batu setelah menemukan sebuah batu besar yang bentuknya menyerupai ular sedang melilit.
"Di situlah ular berubah menjadi batu dan dibuktikan dengan sebuah batu yang memperlihatkan lilitan ular besar. Mungkin karena kutukan, karena selama ini ular itu meresahkan karena merusak tanaman dan memangsa ternak akhirnya berubah menjadi batu," jelasnya.
Jufri menuturkan, wilayah tersebut pada awalnya dikenal dengan nama Mesawa yang artinya mencari sawah. Penyebutan nama itu kemudian berubah menjadi Messawa pada masa kolonial, ketika pelafalannya mengalami perubahan.
"Pada awalnya itu Mesawa, yaitu mencari ular, mungkin karena pada zaman itu, penjajahan kolonial masuk di daerah ini sehingga dialeknya dobel S menjadi Messawa, seperti itu," imbuh Jufri.
Menurut Jufri, keberadaan ular sawah hingga kini masih kerap ditemukan di kawasan Messawa seiring dengan kisah tentang ular raksasa yang telah diwariskan secara turun temurun. Namun, ukurannya tidak lagi sebesar ular dalam cerita yang diwariskan masyarakat.
"Memang banyak ular sawah, tapi kecil-kecil selalu ditemukan warga. Sudah tidak meresahkan karena ukurannya kecil-kecil, yang paling besar pernah ditemukan sepanjang empat meter memangsa anak babi," pungkasnya.

