Sebanyak 48 jenazah yang telah disemayamkan dipindahkan ke tempat baru dalam Tradisi Mangngaro di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar). Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan warga kepada leluhur dan keluarga yang telah mendahului atau meninggal dunia.
Tradisi yang diwariskan secara turun temurun ini dilaksanakan masyarakat selama dua hari di Desa Rippung, Kecamatan Messawa sejak Senin hingga Selasa, 3-4 Agustus 2026. Sebelum jenazah dimasukkan ke dalam liang, warga terlebih dahulu melakukan ibadah singkat dipimpin seorang pendeta.
"Ini adalah tradisi budaya yang turun temurun dari orang tua, mengumpulkan jenazah para keluarga yang telah mendahului," ujar salah satu tokoh pemuda setempat, Viktor kepada wartawan, Selasa (4/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Viktor menjelaskan, pelaksanaan Mangngaro memiliki sejumlah rangkaian. Prosesi diawali dengan pembangunan tempat pemakaman baru yang oleh masyarakat setempat disebut liang.
"Rangkaian acaranya itu dimulai dari pembuatan tempat yang baru. Kemudian menggali jenazah para leluhur di berbagai tempat kemudian disatukan kembali di tempat baru," ungkapnya.
Tradisi Mangngaro di Mamasa, Sulawesi Barat. (Abdy Febriady/detikcom) |
Sebelum dimasukkan ke dalam liang lahad, pembungkus jenazah diperbarui dan dirapikan menggunakan kain baru. Pembungkus lama tidak dilepas, melainkan diperbaiki dan dilapisi kembali agar kondisinya lebih rapi.
"Kemudian diperbaharui pembungkusnya tanpa melepas pembungkus yang lama, diperbaiki sehingga terlihat lebih rapi kembali," ujar Viktor.
Menurut Viktor, Mangngaro bukan hanya bentuk penghormatan kepada leluhur, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan antarkeluarga. Tradisi ini juga bagian dari rasa syukur keluarga.
"Karena mereka bisa mengumpulkan dan lebih gampang melakukan penghormatan kepada leluhur karena sudah satu tempat. Serta menjadi wujud silaturahmi antar keluarga," jelasnya.
Foto: Jenazah pasangan suami istri dari nenek Baru' Buangan menjadi yang pertama dimasukkan ke dalam liang dalam tradisi Mangngaro di Mamasa. (Abdy Febriady/detikcom) |
Sementara salah seorang warga, Osmond Ompori Allo mengatakan, sebanyak 48 jenazah dipindahkan ke sebuah bangunan permanen berukuran 4,5x5 meter. Sebagian jenazah tersebut telah puluhan tahun disemayamkan di tempat sebelumnya.
"Tercatat ada 48 jenazah yang dipindahkan ke tempat baru. Ada jenazah yang perkiraan sudah enam puluh tahun disemayamkan, ada juga yang baru beberapa bulan," ucap Osmond.
Dalam prosesi tersebut, jenazah pasangan suami istri dari nenek Baru' Buangan menjadi yang pertama dimasukkan ke dalam liang. Selanjutnya, jenazah kerabat lainnya dimasukkan sesuai urutan yang telah ditentukan keluarga.
"Yang pertama dimasukkan ke dalam liang adalah jenazah pasangan suami istri nenek Baru' Buangan. Setelah itu menyusul jenazah kerabat lainnya sesuai dengan urutan yang telah ditentukan," ungkapnya.
Mangngaro bukan sekadar ritual untuk memindahkan jenazah. Tradisi tersebut juga menjadi ruang bagi keluarga untuk kembali mengenang leluhur. (Abdy Febriady/detikcom) |
Osmond mengatakan, pelaksanaan Mangngaro dihadiri anak cucu dan kerabat nenek Baru' Buangan yang kini tersebar di sejumlah daerah. Mereka secara bersama-sama membiayai seluruh kebutuhan pelaksanaan tradisi, termasuk pembangunan liang baru.
"Kalau biayanya dari semua keluarga rumpung nenek Baru' Buangan, tidak ditentukan nilainya tetapi semua berkontribusi. Semua keluarga yang tersebar pada sejumlah daerah sengaja datang dan berkumpul di sini untuk melaksanakan tradisi Mangngaro," terangnya.
Bagi Osmond, Mangngaro bukan sekadar ritual untuk memindahkan jenazah. Tradisi tersebut juga menjadi ruang bagi keluarga untuk kembali mengenang leluhur sekaligus menjaga hubungan antargenerasi.
Melalui tradisi ini, generasi muda diperkenalkan kembali pada akar keluarganya. Mereka belajar bahwa ikatan keluarga tidak hanya berkaitan dengan orang-orang yang masih hidup, tetapi juga dengan mereka yang telah lebih dahulu meninggal dunia dan mewariskan nilai-nilai kehidupan.
"Mangngaro bukan sekadar memindahkan jenazah. Melalui tradisi ini, generasi muda kembali diperkenalkan pada akar keluarganya, mereka belajar bahwa keluarga bukan hanya tentang orang-orang yang masih hidup, tetapi juga tentang mereka yang telah mendahului dan meninggalkan nilai-nilai kehidupan," pungkasnya.



