Kisah Nenek Pakande Pemangsa Anak-anak, Cerita Rakyat Sulawesi Selatan

Kisah Nenek Pakande Pemangsa Anak-anak, Cerita Rakyat Sulawesi Selatan

Edward Ridwan - detikSulsel
Jumat, 30 Sep 2022 04:30 WIB
Ilustrasi hutan tropis
Foto untuk ilustrasi: Ari Saputra/detikcom
Makassar -

Nenek Pakande adalah salah satu cerita rakyat yang populer di masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya suku Bugis. Dalam cerita rakyat Bugis, Nenek Pakande digambarkan sebagai sosok nenek tua yang suka memakan atau memangsa anak-anak.

Kata Pakande berasal dari kata "manre' yang artinya makan. Jadi Pakande bisa diartikan sebagai "si tukang makan".

Ada beragam cerita dan versi dari cerita rakyat Nenek Pakande ini. Berikut ini salah satu versi cerita Nenek Pakande dilansir dari buku yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1999) berjudul "Cerita Rakyat Daerah Wajo di Sulawesi Selatan".


Kisah Nenek Pakande

Dikisahkan, dua orang anak laki-laki bersaudara yang hidup bersama ayah dan ibu tirinya. Si sulung berusia 5 tahun dan si bungsu berusia 2 tahun.

Bapak kedua anak ini bekerja sebagai petani. Ketika berangkat ke kebun, kedua anak ini tinggal bersama dengan ibu tirinya.

Sayang, ibu tiri mereka memiliki perangai yang jahat dan tidak menyukai kedua anaknya. Kerap kali, mereka tidak diberi makan hingga seharian.

Ketika sang Ayah pulang, barulah si ibu tiri ini menarik anaknya ke dapur dan dia melumuri muka kedua anak itu dengan nasi. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan kepada si Ayah, bahwa kedua anak tersebut kerjanya cuma makan sepanjang hari.

Saat ayahnya hendak makan, kedua anak itu mendekat meminta makanan karena lapar. Hal ini membuat sang ayah bertanya kepada si ibu tiri apakah anak-anaknya sudah makan.

Ibu tiri pun berbohong bahwa anak-anak itu tidak berhenti makan.

"Tidak berhenti-hentinya makan. selalu di dapur saja tinggal, coba lihat, masih ada nasi berlumuran di pipinya," kata ibu tiri.

Begitu setiap hari yang dialami oleh kakak-beradik ini.

Suatu hari, kedua anak ini sedang bermain bola di depan rumah mereka. Tiba-tiba tanpa sengaja bola yang dimainkan melayang masuk ke dalam rumah dan mengenai tamu.

Si ibu tiri pun murka bukan kepalang. Ia berniat untuk membunuh kedua anak tersebut dan memakan hatinya.

Ketika si ayah pulang, dibujuknya suaminya untuk turut membunuh sang anak. Dikatakan kepadanya bahwa kedua anak tersebut menjadi semakin nakal dan jahat sifatnya.

Sang Ayah pun terpengaruh. Ditariknya kedua anaknya untuk dibunuh.

Peristiwa itu disaksikan oleh tetangga mereka. Salah seorang tetangga kemudian menghampiri dan mengatakan kepada suami istri itu agar jangan membunuh anak mereka sendiri di dalam rumah.

"Biarkanlah saya yang membawanya ke hutan dan membunuhnya. Nanti kedua hatinya akan saya bawa pulang untuk kalian," bujuk tetangga tersebut.

Akhirnya mereka melepas kedua anak tersebut untuk dibawa ke hutan. Sesampainya di tengah hutan, si tetangga merasa iba kepada kedua anak tersebut. Ia meminta anak tersebut untuk pergi membuang diri dan jangan pernah kembali lagi ke rumah tersebut.

Si tetangga kemudian mengambil hati binatang untuk dibawa pulang.

Kedua anak laki-laki tersebut terus berjalan hingga melewati tujuh bukit dan tujuh gunung. Tak berselang lama, mereka menemukan sebuah rumah tua.

"Kita singgah di sini dik, kita minta nasi," ujar si sulung pada adiknya.

Mereka mendapati rumah tersebut ternyata tidak berpintu. Maka mereka pun langsung masuk. Di dalam rumah itu terlihat tulang belulang berserakan di lantai dan di meja.

Karena begitu lapar, mereka mencari sang empunya rumah. Namun tak seorang pun dijumpainya.

Hingga ke dapur mereka melihat berbagai makanan tersimpan di sana. Karena rasa lapar yang begitu mendera, mereka memberanikan diri mengambil makanan dan menyantapnya dengan lahap.

Menjelang malam, tiba-tiba terdengarlah suara seperti guntur. Keduanya kaget dan ketakutan.

"Hmmm... ada yang berbau manusia!," bunyi suara itu menggelegar.

Pada saat itu, barulah mereka sadar bahwa itu adalah rumah Nenek Pakande. Sosok makhluk perempuan tua pemakan manusia.

Ketika naik ke rumah, berkatalah Nenek Pakande "Siapakah engkau cucu-cucu?".

"Kamilah anak yang tidak beribu. Bapak kami sudah beristri lagi, dan ibu tiri tidak menyukai kami. Terpaksa kami membuang diri. Dan sampailah kami di rumah ini," kata anak-anak itu.

"Baiklah! Tinggallah kalian di sini cucu-cucu. Kalian jaga rumah ini, sebab saya selalu bepergian," bujuk si Nenek.

"Sudahkah kalian makan?" lanjutnya.

"Sudah nek!" jawab anak-anak itu.

"Makanlah yang banyak supaya cepat besar!" kata si Nenek.

Kedua anak itu pelan-pelan mulai tenang. Mereka pun percaya dengan ajakan si Nenek Pakande.

"Bagaimana ukuran hatimu cucu?" si nenek bertanya lagi.

"Baru sebesar biji beras, nek," jawab anak-anak itu.

"Makanlah, makanlah supaya engkau lekas besar!" kata Nenek Pakande lagi.

Begitulah dialog yang terjadi setiap hari. Kedua anak itu tinggal di rumah tersebut bersama dengan Nenek Pakande.

Kisah selengkapnya di halaman berikut...