Mengenal Suku Tolaki di Sultra: Sejarah, Bahasa hingga Hukum Adat

Nadhir Attamimi - detikSulsel
Jumat, 12 Agu 2022 15:52 WIB
Suku Tolaki, Sulawesi Tenggara.
Sejumlah gadis penari mengenakan baju adat suku Tolaki (Foto: ANTARA FOTO/Jojon)
Sultra -

Suku Tolaki merupakan etnis yang berdiam di jazirah tenggara pulau Sulawesi. Keberadaan suku Tolaki diperkirakan telah ada bahkan sebelum masa kerajaan di Indonesia.

Disebutkan dalam Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah pada Pustaka Kemdikbud RI, suku Tolaki merupakan rombongan masyarakat yang datang dari Utara Sulawesi, tepatnya dari sekitar danau Matanna dan Towuti. Kemudian karena desakan untuk mencari nafkah hidup, suku Tolaki bergeser ke jazirah Tenggara pulau Sulawesi untuk menempati daerah-daerah yang lebih subur.

Masyarakat suku Tolaki serumpun dengan suku-suku To Mori, Toraja, To Bungku (To Bunggu), dan lain-lainnya. Ditinjau dari segi biologis, yakni warna kulit dan rambut serta tinggi badan, maka suku Tolaki, To Mori dan Toraja, pada umumnya mempunyai ciri-ciri yang sama.


Setelah mendiami jazirah Tenggara pulau Sulawesi, suku Tolaki membangun peradaban. Kelompok suku Tolaki juga menjadi asal usul Kerajaan Konawe di Sulawesi Tenggara.

Suku Tolaki dalam Pembentukan Kerajaan Konawe

Kepala Seksi Cagar Budaya dan Permuseuman Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kendari, Endry Irwan S Tekaka menjelaskan pembentukan Kerajaan Konawe pada abad ke-10 tidak lepas dari Suku Tolaki. Kerajaan Konawe sendiri terbentuk dari tiga kelompok yang ada dalam masyarakat suku Tolaki.

Endry menjelaskan, tiga kelompok masyarakat suku Tolaki , yakni Wawolesea, Besulutu dan Padangguni tidak memiliki aturan pemerintahan yang jelas. Akibatnya ketiga kelompok ini kerap perang saudara.

"Ketiga kelompok ini tidak memiliki aturan yang jelas dan pemerintahan di dalamnya. Akibatnya, ketiga kelompok dengan kesukuan yang sama ini kerap berperang," jelas Endry kepada detik.com, Selasa (9/8/2022).

Kemudian, sosok seorang wanita bernama Wekoila hadir membawa perdamaian bagi tiga kelompok masyarakat Tolaki ini. Wekoila menggabungkan ketiga kelompok masyarakat tersebut menjadi satu kesatuan dan dipimpin oleh Mokole (raja), yang kemudian dirinya sendiri yang memimpin kerajaan tersebut.

"Tercetuslah Kerajaan Konawe untuk menjadikan tiga kelompok tadi ini menjadi satu. Dengan rajanya seorang perempuan bernama Wekoila," lanjut Endry.

Saat menjadi kesatuan, lanjut Endry, tiga kelompok ini mulai tenang dan membangun Kerajaan Konawe. Wekoila pun berhasil meletakkan dasar-dasar pemerintahan yang berlandaskan hukum adat dan mempersatukan tiga kelompok tersebut.

Setelah Wekoila wafat, tampuk kepemimpinan Kerajaan Konawe dipegang oleh anak keturunannya bernama Sangia Inato atau Raja Tebawo.

"Raja Tebawo inilah yang membuat aturan-aturan pemerintahan Kerajaan Konawe lebih kongkrit dan berjaya," jelasnya.

Guna memperkuat tampuk kerajaan, Sangia Inato berhasil membangun 4 penyanggah Kerajaan Konawe di masing-masing penjuru mata angin, atau disebut Siwole Mbato Hu. Keempat penyanggah inilah yang membuat Kerajaan Konawe berada dalam kejayaan di kisaran tahun 1.400-an.

Empat penyanggah tersebut yakni sebelah Timur, Tambo Ilosono Oleo (pintu terbitnya matahari) yang pimpinannya bergelar Sapati. Sebelah Barat, Tambo Itepuliano Oleo yang pimpinannya bergelar Sabandara.

Kemudian sebelah Utara, Barata I'hana yang pimpinannya bergelar Ponggawa. Serta sebelah Selatan, Barata Imoeiri yang pimpinannya bergelar Kapita.

"Salah satu wilayah yang perkembangannya cukup signifikan yakni di penyanggah Timur yang dipimpin oleh Sapati Sorumba," ungkap Endry.

Kerajaan Konawe terus berkembang pesat dengan pergantian raja-raja keturunan Wekoila. Hingga terakhir di tangan Raja Lakidende atau Sangia Ningobulu. Sebab raja tersebut tidak memiliki keturunan sebagai penerus.

"Lakidende adalah raja atau Mokole terakhir di Kerajaan Konawe sekitar tahun 1800-an," ungkapnya.

Setelah Lakidende wafat, tampuk kekuasaan Kerajaan Konawe kosong dikarenakan Lakidende tidak memiliki penerus. Kerajaan Konawe pun terguncang, kemudian kepemimpinan sementara dipegang oleh Sulemandara Saranani Tunduolutu.

Sekian lama berlalu, kerajaan Konawe bertransformasi menjadi Kerajaan Laiwoi dari wilayah penyanggah Tambo Ilosono Oleo yang dipimpin oleh Sapati Sorumba. Sorumba sendiri merupakan putra keturunan dari Sangia Inato.

Sebaran, Rumah Adat dan Bahasa Suku Tolaki

Endry mengatakan Suku Tolaki saat ini sudah tersebar dimana-mana, tidak hanya di Sulawesi Tenggara. Hal ini akibat pergerakan manusia sehingga penyebaran suku Tolaki juga semakin meluas.

Tetapi, untuk di wilayah Sultra sendiri, ada 3 wilayah sebaran utama suku Tolaki yakni Konawe, Kendari dan Kolaka.

"Di Konawe mulai Konawe, Konawe Selatan sampai Konawe Utara. Di Kolaka mulai Kolaka, Kolaka Timur sampai Kolaka Utara dan di Kota Kendari sendiri," jelas Endry.

Rumpun masyarakat Suku Tolaki tinggal di rumah adat yang disebut dengan Laika. Rumah adat Laika berstruktur panggung yang disangga dengan tiang-tiang kayu.

Adapun bahasa keseharian masyarakat etnis ini adalah bahasa Tolaki. Bahasa Tolaki memiliki beberapa sub dialek, diantaranya dialek Mekongga yang digunakan masyarakat Kolaka dan dialek Konawe yang digunakan masyarakat Konawe dan Kendari.

Bahasa Tolaki memiliki tingkat-tingkat sosial dalam penggunaannya. Sehingga ada istilah-istilah tertentu yang dipergunakan untuk berbicara dengan teman sebaya, orang tuam dan orang yang dihormati.

Hukum Adat Suku Tolaki

Endry menjelaskan pada masyarakat suku Tolaki pada zaman dahulu memiliki simbol hukum adat bernama Kalosara. Simbol hukum adat ini digunakan oleh masyarakat suku Tolaki saat menyelesaikan perkara.

Kalosara berbentuk lingkaran yang terbuat dari tiga utas rotan yang kemudian dililit ke arah kiri berlawanan dengan arah jarum jam. Ujung lilitannya kemudian disimpul dan diikat, dimana dua ujung dari rotan tersebut tersembunyi dalam simpulnya, sedangkan ujung rotan yang satunya dibiarkan mencuat keluar.

Tiga ujung rotan yang dua di antaranya tersembunyi dalam simpul berkaitan erat. Benda ini digunakan sebagai benda sakral untuk penyelesaian masalah.

"Kalo Sara ini alat atau benda untuk memutus sebuah perkara jika tidak ada titik temu," kata Endry.

Seperangkat Kalosara hanya boleh dibawakan dan dijalankan oleh juru bicara atau Pabitara dan Tolea dalam prosesi adat. Pada masyarakat terdahulu, Pabitara Pabitara merupakan juru bicara kerajaan dan Tolea adalah juru bicara rakyat.

"Jika ada kelompok masyarakat yang berperkara dan tidak menemui titik terang, maka Tolea memfasilitasi. Tolea tidak bisa langsung ke raja, tapi harus melalui Pabitara. Maka Tolea berembuk dengan Pabitara untuk menentukan hasilnya kemudian disampaikan kepada raja," ujarnya.

Kalo Sara menjadi alat penentu keputusan akhir saat Pabitara dan Tolea melakukan perundingan. Sehingga apapun hasil dari perundingan semua masyarakat dan kerajaan harus patuh.

Endry mengatakan lingkaran rotan pada Kalo Sara sendiri merupakan simbol persatuan dan kesatuan suku Tolaki. Sehingga jika terdapat perpecahan di tengah masyarakat suku Tolaki akan kembali kepada makna kehadiran Kalo Sara tersebut.

"Makna Kalo sendiri adalah rotan dibuat melingkar yang merupakan simbol persatuan dan kesatuan suku Tolaki. Ketika terjadi masalah sosial yang membutuhkan penyelesaian, maka kembali ke makna Kalo itu," jelasnya.

Kalosara digunakan dalam berbagai aturan hukum adat seperti hukum dalam bidang pemerintahan, pertanahan, perkawinan, pewarisan, utang-piutang, konflik dan penyelesaiannya, serta banyak bidang lainnya.

Endry mengungkapkan saat ini Kalosara masih dilestarikan oleh masyarakat suku Tolaki di Sulawesi Tenggara. Terutama dalam pada upacara adat perkawinan masyarakat suku Tolaki.

"Kalosara saat ini masih terus digunakan masyarakat adat Tolaki yang sering disaksikan setiap saat ada acara perkawinan," pungkasnya.



Simak Video "Jokowi Tegaskan Dalam 2 Tahun RI Tak Lagi Impor Aspal"
[Gambas:Video 20detik]
(alk/nvl)