Kemenhub Tegaskan Rel Kereta Api Melayang di Makassar Butuh Dana 4 Kali Lipat

Taufik Hasyim - detikSulsel
Selasa, 09 Agu 2022 07:16 WIB
Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati,
Foto: Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati (Dok Kemenhub)
Makassar -

Jubir Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Adita Irawati angkat bicara terkait polemik desain proyek rel kereta api ke Makassar. Adita menyebut elevated rail atau rel melayang akan memakan biaya terlalu besar, bahkan 4 kali lipat dari anggaran yang ada.

"Perlu diingat bahwa elevated rail membutuhkan biaya 4 kali lipat dari pembangunan at grade (darat)," ungkap Adita kepada detikSulsel saat ditanya terkait surat permintaan Wali Kota Makassar Moh Ramdhan 'Danny' Pomanto agar desain rel diubah menjadi melayang, Senin (8/8/2022).

Adita menuturkan proyek kereta api untuk Makassar sudah mempertimbangkan aspek teknis dalam pemilihan jenis konstruksi dan juga terkait pembiayaan. Saat ini tahapannya masuk pelaksanaan pengadaan tanah atau pembebasan lahan.


"SK Penlok sudah ditetapkan, tahapan selanjutnya adalah pelaksanaan pengadaan tanah yang akan diproses oleh Kantor Wilayah BPN melibatkan BPN Maros dan Kota Makassar," tambahnya.

Untuk diketahui, konstruksi rel at grade biayanya sekitar Rp 50 miliar-Rp 40 miliar perkilometer. Sementara untuk elevated membengkak menjadi Rp 300 miliar-Rp 400 miliar perkilometer.

Balai Kereta Ungkap Alasan Rel Dibuat At Grade

Kepala Balai Pengelola Kereta Api (BPKA) Sulsel Andi Amanna Gappa menuturkan perencanaan kereta api ke Makassar tidak pernah diubah. Sejak awal proyek ini berjalan, desain kereta api ke arah Makassar memang direncanakan at grade atau di darat.

"Jadi kita tidak pernah mengubah desain. Kenapa desainnya at grade, karena kita lihat ruang bebasnya. Jalur ke Makassar belum masuk ke dalam kota," jelasnya.

Terkait sindiran Danny yang menilai Medan dan Palembang terkesan diistimewakan karena rel keretanya dibuat melayang, Amanna Gappa membeberkan perbedaannya. Rel kereta di Medan dan Palembang memang jalurnya sudah masuk perkotaan sehingga tidak mungkin didesain at grade, sementara di Makassar relnya baru di pinggir Kota Makassar.

"Sudah sulit untuk dilakukan pembebasan lahan di Medan dan Palembang sehingga mesti dibuat melayang. Nah, kalau kita mendesain pembangunan elevated di Makassar, kita yang diaudit karena boros. Ruang bebasnya masih terbuka, kalau at grade biayanya sekitar Rp 50 miliar-Rp 40 miliar perkilometer, begitu elevated menjadi Rp 300 miliar-Rp 400 miliar perkilometer," tuturnya.

Wali Kota Makassar Kekeh Dibuat Melayang

Wali Kota Makassar Moh Ramdhan 'Danny' Pomanto diketahui menginginkan jalur kereta api Makassar dibuat melayang (elevated). Danny tidak setuju jalurnya dibuat di darat (at grade) sesuai dengan rencana BPKA Sulsel.

"Saya anggap kereta api kalau at grade itu salah desain, termasuk penentuan yang tidak pas. Saya tidak mau dirusak ini tata ruang kota," kata Danny, Jumat (15/7).

Danny menegaskan, jalur kereta api yang dibuat di darat akan merusak rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kota Makassar. Makanya dia tegas menolak rencana penetapan lokasi (penlok) proyek kereta api segmen Makassar oleh Pemprov Sulsel.

"Bukan kereta apinya saya tolak, tapi yang saya tolak kenapa tidak elevated," sebutnya.



Simak Video "Balai Yasa Manggarai Pensiunkan 209 Gerbong Kereta di 2021"
[Gambas:Video 20detik]
(tau/nvl)