Bentrokan yang melibatkan warga dan pihak perusahaan di kawasan operasional PT Astima Konstruksi (Askon) di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng), mengakibatkan enam orang terluka. Polisi kemudian mengamankan 75 tenaga kerja asing (TKA) ke Polda Sulteng untuk pemeriksaan lebih lanjut.
"Untuk update korban luka yaitu lima dari warga (lokal) terkena benda tajam, rata-rata kena sabetan di kaki dan tangan, dan satu dari warga negara asing," kata Kapolres Morowali AKBP Reza Khomeini kepada wartawan, Minggu (4/10/2026).
Selain korban luka, bentrokan tersebut juga berdampak pada kerusakan sejumlah aset berupa kendaraan operasional hingga alat berat milik perusahaan. Tercatat lima unit alat berat dan lima unit mobil LV rusak.
Polisi juga mengamankan dan mengevakuasi 75 TKA ke Polda Sulteng untuk pemeriksaan mendalam. Hal tersebut dilakukan guna menjaga stabilitas keamanan serta mendalami penyebab utama konflik di area perusahaan.
"Kami telah mengevakuasi dan mengamankan 75 WNA. Saat ini telah dibawa ke Polda Sulteng untuk dilakukan pemeriksaan mendalam terkait penyebab terjadinya konflik antara perusahaan dan warga," beber Reza.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Reza menjelaskan, saat ini puluhan TKA tersebut masih menjalani pendataan intensif bersama pihak Imigrasi. Status hukum seluruh pihak yang diamankan hingga kini masih sebagai saksi.
"Setelah dilakukan pemeriksaan dan pendataan oleh Imigrasi, masih dalam pendalaman. Status masih saksi," jelasnya.
Lebih lanjut, Reza memastikan situasi di lokasi bentrokan saat ini sudah berhasil dikendalikan. Personel gabungan dari Brimob Polda Sultra, BKO Brimob, hingga Polres Morowali disiagakan ketat di site PT Askon Matarape guna mengantisipasi gejolak susulan.
"Kondisi warga sudah membaik. Kami terus melakukan penggalangan dan meminta bantuan pemerintah daerah untuk mengambil solusi. Polisi fokus pada penanganan kasus hukum terhadap peristiwa pidana yang terjadi," tegas Reza.
Diketahui, kericuhan bermula saat aksi unjuk rasa Aliansi Masyarakat di kawasan PT Askon, Desa Matarape, Kecamatan Sombori Kepulauan, pada Jumat (2/10). Belakangan, aksi warga berkembang menjadi pemblokiran jalan hingga bentrokan fisik di area perusahaan.
Sekretaris Komisi III DPRD Sulteng, Muhammad Safri mengatakan aksi ini merupakan bentuk keresahan warga karena dampak lingkungan yang ditimbulkan dari aktivitas PT Askon. Dia menyebut warga terdampak debu dari truk hingga ke dalam rumah.
"Masyarakat Matarape turun ke jalan karena dampaknya sudah sangat parah. Debu dari lalu lalang truk hauling yang masuk sampai ke dalam rumah warga itu jelas bukti pengawasan lingkungan perusahaan ini buruk," kata Safri dalam keterangannya, Sabtu (3/10).
