Jepang menjadi salah satu negara yang bersih dan minim dari sampah berserakan, padahal di jalanan kota-kota ini tempat sampah menjadi hal yang langka ditemukan di ruang publik. Fenomena unik ini juga berhasil menarik perhatian para wisatawan, mengundang rasa penasaran bagaimana masyarakat Jepang bisa tetap hidup bersih tanpa tempat sampah.
Melansir dari detikTravel, Penulis buku 'Waste: Consuming Postwar Japan' Eiko Maruko Siniawer menjelaskan, minimnya tempat sampah di Jepang merupakan hasil dari berbagai faktor.
"Ini adalah perpaduan kompleks dari perkembangan sejarah, fenomena ekonomi, peristiwa politik, dan beragam dampaknya terhadap cara orang memutuskan untuk bertindak," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perpaduan dari berbagai faktor kompleks tersebut perlahan menggeser gaya hidup serta perilaku masyarakat Jepang dalam memandang kebersihan. Lantas, bagaimana faktor pendorong tersebut akhirnya mampu membentuk pola perilaku di Jepang? Berikut penjelasannya!
1. Faktor Historis dan Ancaman Terorisme
Salah satu peristiwa penting terjadi di Jepang pada Maret 1995. Kala itu terjadi penyebaran gas sarin oleh kelompok Aum Shinrikyo yang berhasil menewaskan 14 orang dan melukai ribuan lainnya.
Kejadian tersebut kemudian mendorong otoritas setempat mengubah kebijakan dengan menghilangkan sejumlah tempat sampah di ruang publik. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk pencegahan agar fasilitas publik tersebut tidak dimanfaatkan sebagai senjata terorisme.
2. Larangan Makan sambil Jalan
Di berbagai negara kebiasaan ini mungkin dianggap lazim, tetapi di Jepang mereka terbiasa menerapkan gaya hidup tidak makan sambil jalan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi sampah dari makanan yang mereka konsumsi.
Tidak hanya larangan makan sambil jalan, di dalam transportasi publik atau kereta pun pemerintah membuat kebijakan yang sama. Dengan adanya peraturan yang ketat tersebut, sampah dalam ruang publik saat perjalanan dapat diminimalisir.
3. Budaya 'Meiwaku o Kakenai' (Menghindari Merepotkan Orang Lain)
Budaya meiwaku o kakenai adalah sebuah konsep yang lahir di tengah masyarakat Jepang untuk menghindari merepotkan orang lain. Bagi mereka, sampah merupakan tanggung jawab pribadi sehingga sampah di ruang publik harusnya menjadi tanggung jawab individu.
Konsep ini kemudian membentuk perilaku menyimpan sampah di dalam tas hingga menemukan tempat sampah atau membawa sampah tersebut hingga mereka pulang.
4. Kebijakan dan Dukungan Pemerintah
Aya Yoshida dari National Institute for Environmental Studies mengatakan, kebijakan dari Pemerintah Jepang juga berperan dalam terbentuknya budaya tersebut. Salah satunya melalui upaya pemangkasan tempat sampah yang juga berkaitan dengan biaya pengelolaan.
"Di Kyoto, misalnya, jumlah tempat sampah di jalan dipangkas lebih dari setengahnya sejak 2011, setelah masalah seperti sampah rumah tangga yang dibuang ke dalamnya dan sampah yang menumpuk di sekitarnya meningkatkan biaya pemeliharaan dan pengelolaan tempat sampah," ungkap Yoshida.
Selain menghemat biaya pemeliharaan dan pengelolaan tempat sampah, upaya pemangkasan lebih dari setengah tempat sampah rumah tangga di Jepang menjadi kebijakan pemerintah untuk mengurangi limbah rumah tangga yang menumpuk. Dibanding mengeluarkan biaya lebih, pemerintah lebih memilih untuk melakukan kampanye anti buang sampah sembarangan dan edukasi publik.
"Selama beberapa dekade, pemerintah daerah telah berinvestasi dalam kampanye antibuang sampah sembarangan, edukasi publik, pembersihan jalan, serta berbagai langkah desain lingkungan yang bertujuan mencegah orang membuang sampah sembarangan," lanjut Yoshida.
Meskipun minim tempat sampah, bukan berarti fasilitas publik ini hilang secara total. Tempat sampah masih ditemukan di beberapa titik dengan keamanan yang ketat seperti pengawasan petugas dan kamera pemantau.
