Bupati Toraja Utara (Torut) Frederik Victor Palimbong mengungkap banyak aparatur sipil negara (ASN) asal Toraja yang mengajukan permohonan pindah tugas ke daerah asal karena takut Organisasi Papua Merdeka (OPM). Frederik mengaku sedang mengecek peluang para ASN bisa diterima pindah.
Frederik mengatakan Pemkab Toraja Utara sementara mempertimbangkan hal tersebut. Menurutnya, keselamatan dan keamanan masyarakat maupun ASN adalah prioritas utama.
"Keselamatan adalah prioritas kita," ujar Frederik kepada detikSulsel, Sabtu (26/9/2026)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, Frederik mengaku perlu memastikan apakah ada posisi yang bisa diisi oleh para ASN tersebut. Menurutnya, penempatan kerja juga memperhatikan analisis jabatan (Anjab), analisis beban kerja (ABK), dan rasio belanja pegawai.
"Kita mempertimbangkan permohonan dari yang bersangkutan tempat kerja saat ini dan membuat Anjab dan ABK tempat kerja yang dituju," ujarnya.
Dia turut menjelaskan ada aturan belanja pegawai pada APBD maksimal 30 persen. Sehingga, rasio jumlah ASN yang ada juga mesti diperhitungkan terlebih dahulu.
"Namun di sisi lain kita juga harus memperhitungkan rasio belanja pegawai yang ditetapkan pemerintah pusat maksimal 30% dari APBD sesuai ketentuan UU No 1 Tahun 2022 tentang HKPD," jelasnya.
Diketahui, banyak ASN asal Toraja di Papua yang kini mengajukan permohonan pindah ke daerah asal. Mereka khawatir akan keselamatannya karena banyaknya korban akibat tindakan kekerasan OPM.
"Sampai saat ini banyak yang minta pindah karena merasa takut, terancam keselamatannya," ungkap Frederik.
Terbaru ada warga asal Toraja, Aris Sanda tewas ditembak OPM di Wamena. Jenazah korban ditemukan tewas mengenaskan dalam mobil yang terbakar di kawasan Danau Habema, Jayawijaya, Selasa (15/9) sekitar pukul 06.00 WIT.
Aris Sanda adalah warga Tampan Bonga, Kecamatan Bangkelekila, Toraja Utara. Ia berprofesi sebagai sopir travel di Wamena Papua dan dikenal sosok dekat dengan masyarakat.
