Plasenta Tertinggal Usai Bersalin, Ibu di Mamasa Ditandu 25 Km

Sulawesi Barat

Plasenta Tertinggal Usai Bersalin, Ibu di Mamasa Ditandu 25 Km

Abdy Febriady - detikSulsel
Kamis, 24 Sep 2026 20:15 WIB
Seorang ibu bernama Siska yang baru saja melahirkan ditandu warga sejauh 25 km menuju fasilitas kesehatan di Mamasa.
Seorang ibu bernama Siska yang baru saja melahirkan ditandu warga sejauh 25 km menuju fasilitas kesehatan di Mamasa. Foto: Istimewa
Mamasa -

Seorang ibu bernama Siska yang baru saja melahirkan di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), terpaksa dievakuasi setelah plasenta bayinya tidak dapat keluar. Pasien harus ditandu warga sejauh 25 kilometer (km) menuju fasilitas kesehatan karena akses jalan dari kampung halamannya rusak parah.

"Sudah melahirkan, tapi plasentanya tidak bisa keluar," ujar salah satu warga, Suardi kepada detikcom melalui sambungan telepon, Kamis (24/9/2026).

Suardi mengatakan pasien melahirkan seorang bayi laki-laki di rumahnya pada Rabu (23/9) sekitar pukul 12.00 Wita. Proses persalinan dibantu seorang bidan dari Puskesmas Tabulahan yang kemudian turut mendampingi proses evakuasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Informasi kemarin (Rabu) jam 12 siang melahirkan bayi laki-laki, kondisinya baik-baik saja makanya ditinggal di kampung. Selama menandu ada bidan yang mendampingi dari Puskesmas," tuturnya.

Siska ditandu warga dari kampung halamannya di Dusun Paku, Desa Gandang Dewata, Kecamatan Tabulahan. Proses evakuasi berlangsung selama enam jam, mulai pukul 18.00 Wita hingga 24.00 Wita

ADVERTISEMENT

"Ditandu selama enam jam, mulai dari rumah pasien sampai di ujung aspal tempat mobil menunggu. Jaraknya kurang lebih 25 kilometer," ungkapnya.

Suardi menuturkan, warga harus bersusah payah menandu pasien lantaran kondisi jalan yang dilalui cukup ekstrem. Jalan tersebut licin dan dipenuhi batu-batu lepas setelah diguyur hujan. Bahkan, warga juga harus melewati anak sungai yang tidak memiliki jembatan.

"Jalanan sangat ekstrem, banyak batu-batu lepas, licin juga karena tanah merah apalagi kemarin itu barusan ada hujan lagi. Ada juga sungai, pas banjir di situ tidak ada jembatan, jadi cukup menyulitkan," bebernya.

Dia mengungkapkan, warga di daerah tersebut sudah beberapa kali harus menandu pasien menuju fasilitas kesehatan akibat buruknya kondisi infrastruktur jalan. Dia berharap akses jalan segera diperbaiki agar kesulitan warga dalam mendapatkan pelayanan kesehatan dapat teratasi.

"Memang selama ini kalau ada warga sakit harus ditandu kalau mau dibawa ke Puskesmas. Harapannya supaya jalanan masuk ke kampung segera diperbaiki," ucapnya.

Suardi mengakui, perbaikan jalan yang dilakukan pemerintah baru menyentuh beberapa titik. Dia menyebut akses jalan menuju Desa Gandang Dewata masih belum dapat dilalui kendaraan roda empat karena kondisinya rusak parah.

"Perbaikan jalan rabat beton belum sepenuhnya, cuman beberapa titik yang diperbaiki. Jalan di Desa Gandang Dewata sudah pernah dilalui ekskavator, tapi kondisinya masih parah, sama sekali belum pernah dilalui kendaraan roda empat," pungkasnya.

Sementara Camat Tabulahan, Martina mengatakan pihaknya telah berulang kali mengusulkan perbaikan akses jalan di Desa Gandang Dewata. Namun, pemerintah kabupaten masih terkendala keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi anggaran.

"Jalananya memang tidak baik, kita sudah berulang kali usulkan baik melalui Musrembang sampai ke pusat. Karena kalau hanya mengandalkan dana dari kabupaten susah," bebernya.

Dia mengaku masih terdapat sejumlah desa di wilayah Kecamatan Tabulahan yang sulit dijangkau akibat kondisi akses jalan yang rusak parah. Menurutnya, Bupati Mamasa, Welem Sambolangi juga telah berkunjung ke Desa Gandang Dewata dan menyampaikan komitmennya untuk memperbaiki akses jalan tersebut.

"Memang masih ada beberapa desa di Tabulahan yang sulit dijangkau, karena kondisi jalannya memang memprihatinkan, sudah sejak dulu seperti itu. Pak bupati pernah berkunjung ke sana, disampaikan bagaimana daerah itu bisa diakses kendaraan, berkomitmen untuk mengupayakan perbaikan jalan," pungkasnya.

Dalam potongan video pendek yang dilihat wartawan, Kamis (24/9) tampak pasien ditandu menggunakan kain sarung yang diberi penopang dari batang bambu. Warga bergotong royong memikul tandu pasien melewati gelap malam bermodalkan cahaya senter dan lampu motor yang mengikuti dari belakang.

Sesampainya di ujung jalan yang dapat dilalui kendaraan roda empat, pasien dipindahkan ke mobil ambulans yang membawanya menuju Puskesmas Tabulahan.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Siswa SD di Sukabumi Terjang Lumpur-Protes Jalan Rusak"
[Gambas:Video 20detik] (ata/ata)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads