3 Khutbah Jumat Rabiul Akhir Tentang Amalan yang Dianjurkan

3 Khutbah Jumat Rabiul Akhir Tentang Amalan yang Dianjurkan

Iswandy Rusli - detikSulsel
Kamis, 24 Sep 2026 20:00 WIB
Ilustrasi Khutbah Jumat
Ilustrasi. Foto: Gemini AI
Makassar -

Khutbah menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan ibadah sholat Jumat. Selain sebagai rangkaian ibadah, khutbah juga menjadi sarana untuk menyampaikan dakwah, nasihat, serta pengingat kepada umat Islam agar senantiasa meningkatkan keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Mengacu pada kalender Hijriah yang disusun oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI, penanggalan Islam telah memasuki bulan Rabiul Akhir 1448 H pada Minggu, 13 September 2026. Sehingga pada Jumat, 25 September 2026, umat Islam berada di pertengahan bulan, atau 14 Rabiul Akhir 1448 H.

Di pertengahan bulan Rabiul Akhir ini, ada berbagai pesan religi yang dapat disampaikan melalui khutbah Jumat, mulai amalan yang dianjurkan hingga hal-hal yang di larang. Apalagi, bulan ini juga menyimpan berbagai peristiwa bersejarah, Salah satunya adalah turunnya Surat Al-Hasyr yang berkaitan dengan peristiwa pengusiran yang dapat dijadikan pelajaran dan hikmah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nah, berikut ini 3 contoh materi khutbah Jumat bulan Rabiul Akhir dengan berbagai tema menarik seperti dirangkum detikSulsel dari berbagai sumber. Yuk disimak!

Khutbah Jumat Rabiul Akhir #1: Amalan Sunnah di Bulan Rabiul Akhir

Khutbah I

السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

اَمَّا بَعْدُ: فَيَا اَيُّهَاالْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، إِتَّقُوْااللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ اِلَّاوَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، (يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَاٰمِنُوْا بِرَسُوْلِهٖ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَّحْمَتِهٖ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ نُوْرًا تَمْشُوْنَ بِهٖ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌۙ)

Sidang Jumat yang berbahagia,

Ungkapan rasa syukur ke hadirat Allah SWT menjadi pembuka yang sangat tepat untuk senantiasa memperbarui komitmen keimanan melalui wasiat takwa yang hakiki dalam kehidupan sehari-hari.

Ketahuilah, hakikat takwa yang sebenarnya dijalankan melalui konsep "imtitsalul awamir wajtinabun nawahi", yakni sebuah upaya sadar dan bersungguh-sungguh untuk melaksanakan segala perintah Allah SWT, sekaligus menjauhi segala larangan-Nya tanpa terkecuali.

Dengan memegang teguh prinsip tersebut, setiap langkah dan perilaku kita akan senantiasa selaras dengan petunjuk Al-Quran yang mulia. Konsistensi dalam menjalankan ketaatan ini insya Allah akan mengantarkan kita pada golongan hamba-hamba yang bertakwa, yang tidak hanya selamat di akhirat kelak, tetapi juga merasakan ketenteraman hidup yang sejati di dunia.

Dan melalui wasiat takwa ini, mari kita jadikan Al-Quran sebagai pedoman utama dalam membimbing diri untuk terus berada di jalan yang diridhai-Nya.

Hadirin rahimakumullah,

Bulan Rabiul Akhir adalah bulan yang istimewa bagi umat Islam. Selain memiliki beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam, bulan ini juga merupakan bulan yang baik dan dianjurkan melakukan amalan-amalan sunnah, di antaranya:

Pertama, meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Kita bisa melakukan hal ini dengan lebih khusyuk dalam beribadah, memahami makna ibadah yang kita lakukan, dan berusaha untuk mengerjakannya secara sempurna.

Selain itu, untuk meningkatkan kedekatan pada Allah SWT bisa juga dengan membaca Al-Quran. Al-Quran adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah untuk umat manusia. Membaca Al-Quran dapat membantu kita untuk lebih memahami ajaran Islam dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Selanjutnya, sebagai upaya mengisi keimanan dan kedekatan kita kepada Allah adalah berdzikir. Dzikir adalah kegiatan mengingat Allah. Berdzikir dapat dilakukan dengan cara membaca tasbih, tahlil, dan berbagai macam kalimat thayyibah lainnya.

Dzikir dapat membantu kita untuk lebih tenang dan damai, serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

"Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah: 152)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Kedua, memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali dalam kitab Kanzunn Najah was Surur, menyatakan bahwa terdapat pelbagai keutamaan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, yang salah satunya adalah mendapatkan rahmat dari Allah SWT. Selain itu, shalawat juga merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ketika kita membaca shalawat, kita sedang berdoa kepada Allah untuk melimpahkan rahmat dan berkah-Nya kepada Nabi Muhammad SAW. Dan sungguh Allah telah berjanji bahwa barang siapa yang bershalawat kepada Nabi Muhammad, Allah akan melimpahkan rahmat-Nya kepada orang tersebut sebanyak sepuluh kali lipat.

Dan bahwasannya orang yang senantiasa membaca shalawat, akan mendapat syafaat dari Nabi Muhammad SAW. Adapun syafaat ini tidak lain adalah pertolongan dari Nabi Muhammad atas izin Allah di hari kiamat.

Nabi Muhammad SAW telah bersabda bahwa orang yang paling berhak mendapat syafaatnya adalah orang yang paling banyak membaca shalawat kepadanya. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda:

أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً

"Manusia yang paling berhak terhadapku pada Hari Kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku." (HR At-Tirmidzi)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Ketiga, berpuasa Ayyamul Bidh.

Puasa Ayyamul Bidh merupakan ibadah sunnah yang dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut pada tanggal 13, 14, dan 15 dalam setiap bulannya menurut penanggalan Hijriah. Adapun penamaan Ayyamul Bidh sendiri diambil dari bahasa Arab yang secara harfiah berarti "hari-hari putih", yakni sebuah sebutan yang lahir karena pada malam-malam tersebut cahaya bulan purnama bersinar dengan sangat terang dan memancarkan pendar putih di langit malam.

Mengingat status hukumnya sebagai sunnah muakkad, amalan ini memiliki kedudukan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW bagi umat Islam untuk dirutinkan setiap bulannya sebagai pelengkap ibadah wajib.

Rasulullah sendiri sering melakukan puasa ini. Dalam sebuah hadits diriwayatkan:

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيْضِ فِيْ حَضَرٍ وَلاَ سَفَرٍ

"Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: 'Rasulullah SAW sering tidak makan (berpuasa) pada hari-hari yang malamnya cerah baik di rumah maupun dalam bepergian'." (HR an-Nasa'i)

Melalui riwayat tersebut, Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu merekam sebuah keteladanan agung dari Rasulullah SAW yang senantiasa menjaga konsistensi puasa Ayyamul Bidh dalam setiap kondisi kehidupannya, baik saat berada di rumah maupun ketika sedang melakukan perjalanan jauh.

Kesetiaan Baginda Nabi dalam merutinkan ibadah sunnah ini menegaskan betapa istimewanya kedudukan puasa pada pertengahan bulan Hijriah tersebut. Hal ini sekaligus memberikan pesan mendalam kepada umatnya bahwa kesibukan rutinitas harian ataupun bepergian bukanlah suatu halangan untuk meninggalkan amalan mulia, melainkan momentum untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan mencontoh langsung kebiasaan sang suri teladan.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Selain berbagai amalan sunnah utama yang telah disebutkan, umat Islam juga memiliki kesempatan luas untuk memperbanyak pundi-pundi kebaikan lainnya sepanjang bulan Rabiul Akhir.

Momentum penuh berkah ini dapat diisi dengan memperdalam interaksi bersama Alquran melalui tilawah dan tadabbur harian, merajut kembali tali silaturahmi yang mungkin sempat merenggang, demi memperluas pintu rezeki dan keberkahan usia, serta menghidupkan majelis-majelis taklim untuk terus menuntut ilmu agama yang bermanfaat.

Segala ikhtiar kebaikan tersebut tentu menjadi sarana pendukung yang efektif untuk menempa diri menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufik, hidayah, serta kesehatan kepada kita semua untuk memanfaatkan bulan Rabiul Akhir ini dengan sebaik-baiknya, sehingga kita mampu meningkatkan kualitas amal ibadah serta meningkatkan derajat keimanan dan ketakwaan di sisi-Nya.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Sumber : Situs resmi MUI Online
Oleh: Sekretaris Umum MUI Kota Tanggerang Ustaz KH Misbahul Munir SAg MM

Khutbah Jumat Rabiul Akhir #2: Anjuran Menjauhi Sifat Hasad

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ
وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍۙ، اٰخِذِيْنَ مَآ اٰتٰىهُمْ رَبُّهُمْ ۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا قَبْلَ ذٰلِكَ مُحْسِنِيْنَۗ (الذاريات: ١٦-١٧

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kenikmatan surga itu lebih utama, lebih lama, dan lebih agung daripada kenikmatan dunia. Kenikmatan dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kenikmatan surga. Karenanya, kita harus terus berusaha menjadi orang yang bertakwa. Karena takwa-lah yang menjadi bekal kita untuk meraih kebahagiaan yang abadi di akhirat.

Kaum muslimin yang berbahagia,

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ في الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلا وَهِيَ القَلْبُ (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: Ingatlah sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik maka baik pula seluruh anggota badan dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh anggota badan, ketahuilah, ia adalah hati. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Yang dapat merusak hati kita adalah penyakit-penyakit hati, di antaranya riya', 'ujub, sombong, hasad dan dengki.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

لا تَبَاغَضُوا وَلا تَحَاسَدُوا وَلا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوانًا (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: Janganlah kalian saling membenci, saling hasad, saling membelakangi dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Jamaah rahimakumullah,

Di antara penyakit hati adalah hasad dan saling membenci. Keduanya menjadi malapetaka besar bagi kerukunan dan ketenteraman hidup bermasyarakat. Dua penyakit hati tersebut akan menjauhkan masyarakat dari sikap saling bekerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan.

Hasad yang diharamkan adalah berangan-angan hilangnya kenikmatan dari seorang Muslim disertai usaha untuk menghilangkan kenikmatan itu dengan ucapan atau perbuatan. Jika tidak disertai upaya menghilangkan kenikmatan itu maka bukanlah kemaksiatan. Jadi, orang yang berangan-angan agar sebuah kenikmatan hilang dari seorang Muslim karena orang itu memiliki harta halal yang banyak, istri yang cantik atau anak banyak yang taat atau sifat-sifat yang terpuji; kemudian ia membenci hal itu dan berangan-angan agar kenikmatan itu berpindah kepada dirinya, lalu ia berusaha untuk menghilangkan kenikmatan tersebut dengan berbagai cara, maka ia telah terjatuh ke dalam hasad yang diharamkan.

Jamaah sholat Jumat yang berbahagia,

Jika kita ingin membersihkan hati kita dari penyakit hasad, maka kita harus melawan hawa nafsu. Melawan nafsu akan membantu seseorang melakukan perbuatan yang diridhai Allah. Para wali Allah tidak meraih derajat kewalian kecuali dengan perjuangan melawan hawa nafsu.

Diceritakan bahwa hasad adalah maksiat pertama yang dilakukan di surga, yaitu hasad Iblis kepada Nabi Adam. Hasad juga merupakan maksiat pertama yang dilakukan di dunia, yaitu hasad Qabil kepada Habil yang berujung pembunuhan Qabil terhadap Habil.

Hadirin rahimakumullah,

Seringkali bahaya hasad ini kembali menimpa diri pelakunya. Al-Hafizh Abu Nu'aim al-Ashbahani dalam kitab Hilyah al-Auliya' meriwayatkan bahwa pada zaman dahulu, ada seorang raja yang memiliki pengawal yang selalu dekat dengannya. Suatu ketika pengawal itu berkata kepadanya: Wahai raja, berbuat baiklah kepada orang yang berbuat baik, dan tinggalkan orang yang jahat, niscaya engkau selamat dari kejahatannya.

Melihat kedekatan pengawal dengan raja, ada orang yang iri dan berupaya menghasut raja. Orang ini pun berkata kepada sang raja: Wahai raja, pengawalmu telah menyebarkan isu di masyarakat bahwa engkau memiliki bau mulut yang tidak enak. Raja pun bertanya: Bagaimana aku bisa tahu hal itu? Orang yang iri itu berkata: Jika pengawal itu menghadap Paduka untuk membicarakan sesuatu, ia pasti akan menutup hidungnya.

Pergilah penghasut itu kepada pengawal untuk mengundangnya menghadiri jamuan makan yang telah ia persiapkan. Ia membuat sup dan menaruh bawang putih yang sangat banyak di dalamnya. Keesokan harinya, si pengawal datang dan raja memanggilnya mendekat untuk berbicara kepadanya tentang suatu hal. Pengawal pun menutup mulutnya dengan tangan. Karena termakan hasutan orang yang iri itu, sang raja berkata kepada pengawal: Menjauhlah. Lalu sang raja menulis surat serta menandatanganinya, kemudian berkata kepada pengawal itu: Pergilah dan bawa surat ini kepada Fulan, biasanya imbalannya berupa uang seratus ribu.

Ketika keluar, ternyata orang yang iri tadi menemui sang pengawal seraya berkata: Apa ini? Pengawal menjawab: Raja memberikan ini kepadaku. Lalu orang yang iri meminta surat itu. Tanpa berpikir panjang, pengawal lalu memberikan surat itu kepadanya. Orang yang iri itu bergegas mengambilnya dan membawanya ke orang yang dituju. Ketika orang-orang membuka surat itu, mereka pun memanggil beberapa algojo. Maka orang yang iri itu berkata: Bertakwalah kepada Allah wahai kaum, kalian menghukum orang yang salah, tanyakanlah kembali kepada raja. Mereka berkata: Kami tidak ada waktu untuk menanyakan kembali kepada raja.

Hadirin yang mulia,

Isi surat itu ternyata berbunyi: Jika datang orang yang membawa suratku ini maka potonglah kepalanya, lalu kelupaslah kulitnya dan isilah kulitnya dengan dedak (ampas padi), kemudian bawalah kepadaku. Para algojo itu pun memotong kepalanya, mengulitinya dan membawanya kepada sang raja. Saat sang raja melihatnya, ia merasa keheranan. Lalu raja berkata kepada pengawal Kemarilah, jawab dengan jujur, saat kau mendekatiku kenapa engkau memegang hidung dan menutup mulutmu? Si pengawal berkata: Wahai raja, orang yang iri ini mengundangku dan telah menyiapkan sup, tetapi ia perbanyak bawang putih di sup itu. Disuguhkanlah sup itu kepadaku, lalu saat Paduka memanggilku untuk mendekat, aku berkata dalam hati, jika aku mendekat kepada paduka, maka paduka akan mencium bau tidak sedap ini. Lalu sang raja berkata: Kembalilah ke tempatmu, dan sampaikan kepada rakyatku mengenai apa yang telah kau katakan tadi. Lalu raja menghadiahi si pengawal itu dengan harta yang melimpah.

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Sumber: NU Jatim
Oleh: Anggota Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur Ustaz Nur Rohmad

Khutbah Jumat Rabiul Akhir #3: Mensyukuri Bulan Rabiul Akhir dan Meningkatkan Amal Saleh

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِࣖ

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa adalah melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena dengan takwa hidup dan keimanan kita menjadi sempurna.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Kini kita berada di bulan Rabiul Akhir, bulan keempat dalam kalender Hijriah. Setiap pergantian bulan adalah tanda kekuasaan Allah dan peringatan bagi manusia agar mensyukuri nikmat umur yang masih diberikan. Tidak sedikit saudara kita yang tidak sampai kepada bulan ini, sementara kita masih diberi kesempatan hidup. Karena itu, sudah sepantasnya kita memperbanyak syukur kepada Allah.

Allah SWT berfirman dalam surah Ibrahim ayat 7:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ۝٧

Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras (QS Ibrahim: 7).

Ayat ini menegaskan bahwa syukur bukan hanya ucapan lisan, tetapi diwujudkan dalam amal nyata, ketaatan, dan peningkatan ibadah.

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Mensyukuri bulan Rabiul Akhir berarti kita memanfaatkan waktu yang masih Allah berikan dengan amal saleh. Bulan ini memang tidak memiliki keutamaan khusus sebagaimana Ramadan, Muharram, atau Rabiul Awal, namun justru di situlah letak hikmahnya. Allah memberi kita kesempatan untuk beramal tanpa terikat dengan kebiasaan-kebiasaan ritual tertentu. Amal saleh di bulan ini nilainya sama tinggi di sisi Allah, bahkan bisa lebih besar bila dilakukan dengan ikhlas dan istikamah.

Kita diuji, apakah kita tetap memperbanyak ibadah, meski di bulan yang tidak banyak disebut kemuliaannya oleh Allah dan Rasulullah. Apakah kita tetap setia dengan ketaatan dan takwa, atau justru kita terlena.

Rasulullah SAW bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya: Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta'ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit. Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya.

Maka, amal saleh yang sederhana tetapi rutin akan lebih bernilai daripada amal besar yang hanya sesekali.

Hadirin rahimakumullah,

Di bulan Rabiul Akhir ini kita bisa memperbanyak amal saleh. Dan jika sudah terbiasa, maka kita perlu mempertahankan dengan istikamah. Jika perlu lagi, terus ditambah dan terus selalu istikamah. Beberapa amal yang bisa kita perbanyak antara lain:

Pertama, mulai membiasakan shalat wajib berjamaah Shalat merupakan tiang agama, penghapus dosa, dan penentu amal seorang hamba. Rasulullah saw bersabda, "Shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat. Jika shalatnya baik, maka seluruh amalnya akan baik; jika shalatnya rusak, maka seluruh amalnya pun rusak" (HR Thabrani).

Shalat berjamaah akan mengokohkan keimanan, mengokohkan persatuan umat Islam dan mengokohkan agama itu sendiri.

Kedua, menambah berbagai shalat sunnah Shalat sunnah merupakan menjadi penyempurna dari shalat fardhu kita. Dengan menambah shalat sunnah, kita makin dekat kepada Allah. Mengerjakan shalat sunnah juga menjadi bukti bahwa kita mencintai Nabi Muhammad saw dengan mengikuti sunnah-sunnahnya.

Ketiga, membaca Al-Qur'an setiap hari meski hanya beberapa ayat Membaca Al-Qur'an merupakan amaliah umat Islam yang seharusnya tidak boleh ditinggalkan di setiap harinya, meski hanya membaca beberapa ayat saja. Bulan apapun adalah waktu terbaik untuk membaca dan merenungkan Al-Qur'an. Setiap huruf yang dibaca bernilai sepuluh kebaikan.

Keempat, membiasakan bersedekah Ibadah sedekah harus dimulai dari sekarang, jangan menunggu kaya, menunggu sehat, menunggu cerdas. Sesungguhnya bersedekah melatih mental kita untuk hidup sosial dan humanis. Sedekah tidak hanya berupa harta, tetapi bisa juga dengan tenaga, ilmu, dan senyum kebaikan. Bahkan Allah SWT menjanjikan pahala berlipat ganda bagi orang yang bersedekah dengan ikhlas.

Ingatlah firman Allah dalam surah Al-Munafiqun ayat 10 :

وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ ۝١٠

Artinya: Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antaramu. Dia lalu berkata (sambil menyesal), Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, aku akan dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh (QS Al-Munafiqun: 10).

Kelima, memperbanyak berzikir dan berdoa Hidup jangan sampai terlepas dari doa dan zikir. Rasulullah saw telah mengajarkan kepada kita untuk selalu mengingat Allah SWT, kapanpun, di manapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Maka dari itu, di dalam Islam, seluruh aktivitas memiliki doa, seperti bangun tidur, mandi, bercermin, memakai pakaian, sarapan, keluar rumah dan sebagainya.

Hadirin Jamaah Jumat yang berbahagia,

Bulan Rabiul Akhir adalah kesempatan emas untuk menata amal. Jangan menunggu datangnya bulan-bulan mulia baru kita bersemangat beribadah. Sebab kita tidak tahu apakah umur kita masih panjang.

Marilah kita jadikan bulan Rabiul Akhir ini sebagai sarana memperbanyak amal, memperkuat iman, meningkatkan ibadah, dan menebar kebaikan. Inilah wujud syukur kita kepada Allah yang telah memberi nikmat umur dan kesehatan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Sumber: NU Lampung
Oleh: Sekretaris MWCNU Kedaton Bandar Lampung Ustaz Yudi Prayoga



(alk/alk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads