Musim Hujan Tak Datang Bersamaan Tiap Daerah, Ini Prediksi BMKG

Musim Hujan Tak Datang Bersamaan Tiap Daerah, Ini Prediksi BMKG

Tim detikSulsel - detikSulsel
Kamis, 24 Sep 2026 10:33 WIB
Konferensi pers BMKG soal perkiraan musim hujan 2026.
Foto: Konferensi pers BMKG soal perkiraan musim hujan 2026. (dok. istimewa/BMKG)
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan 2026 di Indonesia akan mengalami kemunduran imbas fenomena El Nino. Awal musim hujan hingga memasuki masa puncak pun ternyata akan berbeda di tiap wilayah.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan membenarkan, awal musim hujan di Indonesia tidak akan terjadi secara bersamaan. Sebagian besar wilayah baru akan mengawali musim hujan mulai November tetapi adapula yang mulai pada Desember 2026.

"Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim hujan pada periode November 2026, yaitu sebanyak 185 zona musim atau 24,66% luas daratan Indonesia, kemudian masuknya musim hujan itu pada periode Desember 2026 yaitu sebanyak 266 zona musim atau 17,31% luas daratan Indonesia," kata Ardhasena saat konferensi pers terkait prediksi musim hujan, Selasa (22/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adapun cakupan wilayah yang mengalami awal musim hujan yang dimulai November 2026, di antaranya yaitu sebagian Sumatera, sebagian Jawa, sebagian Kalimantan, sebagian Bali, sebagian NTB, sebagian kecil NTT, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, Papua Barat bagian utara, dan sebagian Papua Selatan.

Sementara wilayah yang mengalami musim hujan mula Desember 2026 dialami sebagian Lampung, sebagian besar Jawa, sebagian Kalimantan Selatan (Kalsel), sebagian besar Bali, sebagian besar NTB, sebagian besar NTT, sebagian besar Sulawesi, sebagian Malut, sebagian Maluku, dan Papua Selatan bagian selatan.

ADVERTISEMENT

"Awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih lambat atau mundur yaitu 529 zona musim atau 61,08% luas daratan Indonesia," ungkap Ardhasena.

Di sisi lain, BMKG juga memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami puncak musim hujan 2026/2027 pada bulan Desember 2026 yaitu sebanyak 155 ZOM atau 36,94% luas daratan Indonesia. Sementara pada Januari 2027 yaitu sebanyak 162 ZOM atau 25,68% luas daratan Indonesia), dan pada Februari 2027 yaitu sebanyak 190 ZOM atau 16,79% luas daratan Indonesia.

"Sebagian besar wilayah Indonesia di 482 zona musim atau 51,90% luas daratan Indonesia diprediksi mengalami musim hujan 2026-2027 yang lebih pendek dari normalnya," beber Ardhasena.

Adapun wilayah yang diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Desember 2026 adalah sebagian besar Sumatera, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi Utara, pesisir selatan Gorontalo, sebagian kecil Sulawesi Tengah, sebagian besar Sulawesi Barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian barat, sebagian kecil Papua Barat, Papua bagian utara, Papua Tengah bagian timur, dan Papua Selatan bagian barat.

Sementara itu wilayah yang diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Januari 2027 adalah Riau bagian selatan, Kepulauan Riau bagian tengah, sebagian kecil Jambi, Bengkulu bagian utara, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan bagian barat, Lampung bagian utara, sebagian Jawa, Bali bagian tengah, NTB bagian barat, sebagian NTT, sebagian Kalimantan Barat, sebagian besar Kalimantan Tengah, sebagian kecil Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian Sulawesi, sebagian kecil Maluku Utara, Maluku bagian barat, dan sebagian Pulau Papua

Adapun wilayah yang diprediksi mengalami puncak musim hujan pada bulan Februari 2027 adalah Lampung bagian tengah, sebagian besar Jawa, sebagian besar Bali, sebagian NTB, sebagian besar NTT, Sulawesi Barat bagian selatan, sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, sebagian Maluku, dan sebagian besar Pulau Papua.

"Jika dibandingkan dengan normalnya, durasi musim hujan 2026/2027 di wilayah Indonesia diprediksi lebih pendek dari normalnya pada 482 ZOM yang mencakup 51,90% luas daratan Indonesia, lebih panjang dari normalnya pada 60 ZOM yang mencakup 8,58% luas daratan Indonesia, dan sama dengan normalnya pada 40 ZOM yang mencakup 5,06% luas daratan Indonesia," ujar Ardhasena.

Musim Kemarau Kian Panjang

Diketahui, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan musim hujan datang lebih lambat akibat fenomena El Nino menyebabkan kekeringan berkepanjangan. Hal ini juga diperparah Indian Ocean Dipole (IOD) yang terjadi bersamaan.

"Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat," ujar Faisal kepada wartawan.

BMKG memprediksi di 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08% luas daratan di Indonesia awal musim hujan periode 2026-2027 akan datang lebih lambat atau mundur. Teuku menyebut, El Niño dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) di samudera sekitar Indonesia berdampak berkurangnya curah hujan.

"Awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih lambat atau mundur, yaitu di 529 zona musim (ZOM) atau 61,08% luas daratan Indonesia," ungkap Faisal.



(sar/hsr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads