Potensi terjadinya gempa bumi megathrust kembali ramai diperbincangkan di tengah masyarakat. Beberapa informasi yang beredar membuat sebagian masyarakat khawatir akan terjadinya gempa besar dalam waktu dekat.
Melansir laman resminya, BMKG pernah menjelaskan potensi gempa di zona megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut pada 2024 lalu. BMKG menegaskan bahwa informasi mengenai potensi tersebut bukan merupakan peringatan dini (warning) yang menandakan gempa akan terjadi dalam waktu dekat.
Pembahasan mengenai potensi gempa bumi megathrust di Indonesia sebenarnya bukan hal yang baru. BMKG menyebut pembahasan tentang potensi gempa di zona megathrust bahkan telah ada sebelum bencana gempa dan tsunami Aceh pada 2004.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belakangan, informasi yang menyebut gempa bumi megathrust akan terjadi pada 2026 kembali muncul, menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui laman resminya menyatakan bahwa BMKG tidak pernah mengeluarkan peringatan mengenai gempa besar yang akan terjadi di seluruh wilayah Indonesia pada tahun 2026.
Hingga saat ini, belum ada teknologi yang mampu memprediksi gempa bumi secara akurat berdasarkan waktu, lokasi, dan kekuatannya. Meski waktu terjadinya tidak dapat dipastikan, pemahaman mengenai gempa megathrust dan langkah mitigasinya tetap penting dipahami untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Apa Itu Gempa Bumi Megathrust?
Indonesia terletak di zona pertemuan tiga lempeng utama dunia yang aktif, yakni lempeng Indo-Australia, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia. Pertemuan dan pergerakan lempeng tersebut membuat Indonesia menjadi wilayah yang rentan mengalami bencana alam, termasuk gempa bumi.[1]
Megathrust adalah istilah yang menyebutkan zona subduksi lempeng yang sangat luas, yang membentang dari sebelah utara Sumatera hingga ke selatan Pulau Jawa, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Laut Banda.
Kata "mega" digunakan untuk menggambarkan ukuran zona subduksi yang panjang dan luas. Meski membentang dalam wilayah yang sangat luas, zona megathrust terbagi menjadi sejumlah segmen yang aktif bergerak dengan kecepatan 60-70 milimeter per tahun.
Pergerakan pada segmen-segmen tersebut dapat memicu terjadinya guncangan atau gempa bumi. Gempa yang terjadi akibat pergerakan segmen di zona megathrust kemudian disebut sebagai gempa bumi megathrust.
Subduksi megathrust juga memiliki potensi membangkitkan gempa besar. Berdasarkan sejarah dan hasil penelitian, sedikitnya terdapat empat gempa besar yang pernah terjadi di bagian selatan Jawa, yakni pada 1780 dengan magnitudo 8,5, tahun 1903 di selatan Banten dengan magnitudo 8,1, tahun 1994 di Banyuwangi dengan magnitudo 7,6, serta 2006 di Pangandaran dengan magnitudo 7,8.[2]
14 Zona Gempa Megathrust di Indonesia
Menurut Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2024, berikut 14 zona gempa megathrust di Indonesia:
- Zona Megathrust Aceh-Andaman berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 9,2.
- Zona Megathrust Nias-Simelue berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,7.
- Zona Megathrust Batu berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 7,8.
- Zona Megathrust Mentawai-Siberut berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,9.
- Zona Megathrust Mentawai-Pagai berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,9.
- Zona Megathrust Enggano berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,9.
- Zona Megathrust Jawa berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 9,1.
- Zona Megathrust Jawa bagian barat berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,9.
- Zona Megathrust Jawa bagian timur berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,9.
- Zona Megathrust Sumba berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,9.
- Zona Megathrust Sulawesi Utara berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,5.
- Zona Megathrust Palung Cotobato berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,3.
- Zona Megathrust Filipina Selatan berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,2.
- Zona Megathrust Filipina Tengah berpotensi mengeluarkan gempa dengan magnitudo maksimal 8,1.[3]
Langkah Mitigasi Hadapi Gempa Bumi Megathrust
Kesiapsiagaan dan mitigasi perlu dilakukan untuk menghadapi risiko gempa bumi megathrust, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir. Jika gempa terjadi dan BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami, masyarakat di wilayah yang berisiko perlu segera menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi.
Selain mengikuti informasi dan arahan resmi, masyarakat dapat memanfaatkan aplikasi InaRisk yang dikelola oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Aplikasi ini dapat digunakan untuk mengetahui potensi bahaya dan risiko bencana di suatu wilayah sehingga dapat mempersiapkan langkah keselamatan dan mitigasi sebelum bencana terjadi.
Persiapan juga perlu dilakukan jauh sebelum bencana, salah satunya dengan menyiapkan tas siaga bencana.[4] Tas tersebut berisi berbagai kebutuhan penting yang dapat langsung dibawa ketika masyarakat harus meninggalkan rumah dalam keadaan darurat.
Tas siaga bencana penting disiapkan karena gempa bumi dapat terjadi secara tiba-tiba sehingga waktu untuk menyelamatkan diri dan mengumpulkan barang-barang penting bisa sangat terbatas. Dengan menyiapkan kebutuhan sejak awal, masyarakat dapat langsung membawa tas tersebut saat harus melakukan evakuasi.
Selain itu, tas siaga juga dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar ketika akses terhadap bantuan atau fasilitas umum terhambat setelah bencana. Karena itu, isi tas sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anggota keluarga dan disiapkan untuk digunakan selama beberapa hari.
Adapun beberapa barang yang dapat disiapkan dalam tas siaga bencana antara lain:
- Dokumen dan surat berharga
- Uang tunai secukupnya
- Perlengkapan mandi
- Air mineral
- P3K dan obat-obatan
- Alat penerangan seperti senter
- Pakaian ganti untuk tiga hari
- Peluit
- Masker
- Makanan ringan yang tahan lama
- Ponsel dan power bank[5]
Sumber:
1. Jurnal berjudul "Sosialisasi Megathrust dan Simulasi Bencana Alam Gempa Bumi di SMP Negeri 1 Buluspesantren" oleh Dwi Retno Astutik dkk.
2. Laman BMKG, "Komisi V Siap Dukung BMKG Hadapi Megathrust di Indonesia".
3. Laman detikEdu, "BRIN Bongkar Persiapan Hadapi Ancaman Gempa Megathrust".
4. Laman BPBD Provinsi Jogja, "Megathrust Bagaimana Kita Menyikapinya".
5. Laman BPBD Klaten, "Kamu Harus Tahu. Yuk Kenali Isi Tas Siaga Bencana!".
