Renungan Harian Katolik Sabtu 19 September 2026: Tanah yang Baik

Renungan Harian Katolik Sabtu 19 September 2026: Tanah yang Baik

Osmawanti Panggalo - detikSulsel
Sabtu, 19 Sep 2026 06:30 WIB
Renungan Harian Katolik
Ilustrasi renungan Katolik (Foto: Pixabay)
Makassar -

Mengawali hari dengan membaca dan merenungkan sabda Tuhan dapat menjadi kesempatan bagi umat Katolik untuk menenangkan hati serta memperkuat iman. Melalui permenungan, umat diajak untuk melihat berbagai pengalaman dalam kehidupan dengan sikap yang lebih terbuka terhadap kehendak Tuhan.

Sabda Tuhan juga dapat menjadi pedoman dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Pesan yang terkandung dalam bacaan Kitab Suci membantu umat untuk terus bertumbuh dalam iman dan menerapkannya melalui sikap serta tindakan terhadap sesama.

Berikut Renungan Harian Katolik Sabtu 19 September 2026 lengkap dengan bacaan Kitab Suci dan doa yang dapat direnungkan untuk mengawali aktivitas. Yuk, simak!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bacaan Harian Katolik Hari Ini 19 September 2026

Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:

Bacaan I: 1 koR 15:35-37.42-49

Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: "Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?"

ADVERTISEMENT

Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu.

Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain.

Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan.

Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan.

Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah.

Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.

Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah.

Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga.

Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga.

Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi.

Mazmur Tanggapan: Mzm 56:10.11-12.13-14

Kepada Allah, firman-Nya kupuji, kepada TUHAN, firman-Nya kupuji,

kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?

Nazarku kepada-Mu, ya Allah, akan kulaksanakan, dan korban syukur akan kubayar kepada-Mu.

Sebab Engkau telah meluputkan aku dari pada maut, bahkan menjaga kakiku, sehingga tidak tersandung; maka aku boleh berjalan di hadapan Allah dalam cahaya kehidupan.

Bacaan Injil: Luk 8:4-15

Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan:

"Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis.

Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air.

Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati.

Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat." Setelah berkata demikian Yesus berseru: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu.

Lalu Ia menjawab: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.

Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah.

Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.

Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.

Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.

Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."

Renungan Hari Ini 19 September 2026: Tanah yang Baik Bagi Benih yang Baik

"Yang di tanah yang baik artinya orang-orang mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik, dan mengeluarkan buah dalam ketekunan." (Luk. 8: 15)

Kepada para murid dan orang banyak, Yesus telah menjelaskan arti perumpamaan tentang seorang penabur yang menebarkan benih ke tanah. Disebutkan ada empat tipe tanah, yang menggambarkan hati orang-orang dalam menanggapi firman Allah yang digambarkan sebagai benih yang ditabur.

Tanah di pinggir jalan, yaitu mereka yang mendengar firman itu namun bertegar hati, tidak membuka hati, tidak percaya, dan tidak menyimpan benih itu; terinjak injak dan dibiarkan lenyap.

Tanah yang berbatu-batu membuat benih tidak berakar, tanahnya pun tidak cukup terairi. Mereka mendengar, gembira menerima firman namun sebentar saja, begitu mengalami cobaan mereka murtad.

Tanah yang ada semak durinya ialah orang yang telah mendengar firman Allah, namun mereka terhimpit oleh kekuatiran, kekayaan, dan kenikmatan hidup; sehingga mereka tidak dapat menghasilkan buah yang matang.

Mereka tetap memilih kekayaan dan kenikmatan hidup. Tanah yang baik ialah orang yang setelah mendengar firman Allah, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.

Mereka memilih untuk tekun, terus menerus berbuah hal-hal yang baik. Renungan hari ini mengajak saya untuk introspeksi batin.

Suasana hati saya lebih sering seperti tanah yang ingin menumbuhkan benih baik bersama dengan semak duri. Sulit melepaskan diri dari kekuatiran, akan hal hal duniawi, kekayaan, dan kenikmatan hidup.

Bekerja lebih keras untuk semua hal tersebut dan demi menaikkan status sosial. Akhirnya benih baik itu tidak dapat berkembang secepat berkembangnya kekuatiran dan cinta duniawi, yaitu semak duri dalam hati.

Benih baik tertinggal, tak mampu bertumbuh lebih jauh. Hati yang baik, seperti tanah yang baik.

Di dalamnya benih itu akan bertumbuh, lalu berbuah. Terus menerus berbuah mewartakan kebaikan, lemah lembut, murah hati, sabar, menguasai diri, penuh kasih setia, sukacita, dan damai sejahtera.

Semoga Tuhan mengubah saya dan Anda supaya selalu dapat menjadi tempat yang baik bagi firman-Nya untuk bertumbuh dalam hati, tekun berbuah dalam perbuatan kasih dan karya pelayanan.

Sumber: Buku Renungan Tiga Titik
Oleh: Thomas Eko

Doa

Ya Bapa, puji dan syukur kami haturkan kepada-Mu karena kasih-Mu yang besar kepada kami, yang masih tidak sempurna mengikuti-Mu. Mohon kiranya Engkau berkenan, agar Roh Kudus-Mu membuka hati anak-anak-Mu ini, supaya dapat menumbuhkan benih firman-Mu dalam rupa-rupa pelayanan dan perbuatan kasih demi kemuliaan nama-Mu. Amin.

Itulah renungan harian Katolik Sabtu, 19 September 2026 lengkap dengan bacaannya. Tuhan Yesus memberkati!



(alk/alk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads