Renungan Harian Katolik Kamis 17 September 2026 dapat menjadi kesempatan bagi umat untuk sejenak berhenti dari berbagai kesibukan dan kembali mengarahkan hati kepada Tuhan. Melalui Sabda-Nya, umat diajak menemukan kekuatan, penghiburan, dan tuntunan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Setiap perjalanan hidup menghadirkan pengalaman yang beragam. Karena itu, merenungkan Sabda Tuhan dapat membantu umat melihat setiap peristiwa dengan iman serta semakin menyadari penyertaan-Nya.
Berikut Renungan Harian Katolik Kamis, 17 September 2026 selengkapnya, lengkap dengan bacaan Kitab Suci dan refleksi yang dapat direnungkan secara pribadi maupun bersama keluarga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bacaan Harian Katolik Hari Ini 17 September 2026
Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:
Bacaan I: 1 Kor 15:1-11
Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri.
Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu?kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.
Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,
bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;
bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.
Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.
Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul.
Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.
Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.
Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.
Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.
Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1-2.16ab-17.28
Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
Biarlah Israel berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!"
tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!"
Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN.
Allahku Engkau, aku hendak bersyukur kepada-Mu, Allahku, aku hendak meninggikan Engkau.
Bacaan Injil: Luk 7:36-50
Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan.
Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi.
Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.
Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa."
Lalu Yesus berkata kepadanya: "Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu." Sahut Simon: "Katakanlah, Guru."
"Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh.
Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?"
Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu."
Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.
Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku.
Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.
Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih."
Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni."
Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: "Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?"
Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"
Renungan Hari Ini 17 September 2026: Membasuh Luka Bumi
"Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab itu ia telah banyak mengasihi. Namun, orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi." (Luk. 7:47)
Setiap sore, di sebuah gedung perkantoran megah, seorang pria selalu terlihat membawa tas kain lusuh berisi wadah-wadah kosong bekas makan siangnya. Di antara rekan-rekannya yang terbiasa dengan kepraktisan menggunakan bungkus plastik sekali pakai, ia tampak 'merepotkan' diri sendiri.
Di tengah kesibukannya, ia rela menyisihkan waktu untuk mencuci dan membawa kembali sampahnya ke rumah demi tidak menambah beban di pembuangan akhir. Ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan ungkapan syukur yang sunyi, sebuah bentuk kasih yang tak terlihat, serupa dengan perempuan dengan buli-buli pualam dalam Injil hari ini.
Terlihat kontras yang tajam terjadi antara Simon si Farisi dan perempuan yang dianggap berdosa. Simon memberikan perjamuan yang formal namun dingin, tanpa memedulikan kebutuhan paling dasar tamunya: air untuk membasuh kaki.
Sebaliknya, perempuan itu membasahi kaki Yesus dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya sendiri. Yesus menegaskan, "Dosanya yang banyak telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih."
Kasih yang meluap-luap ini muncul karena ia tahu betapa besar beban masa lalunya yang dihapuskan. Yesus memberikan perumpamaan tentang dua orang yang berhutang.
Siapakah yang lebih mengasihi? Tentu dia yang hutangnya lebih besar dihapuskan.
Ketaatan perempuan itu tidak lahir dari kewajiban agama yang kaku, melainkan dari kedalaman rasa syukur. Baginya, memberikan yang terbaik untuk Kristus adalah satu-satunya respons atas ampunan yang ia terima.
Sering kali aku bersikap seperti Simon terhadap alam; merasa sudah cukup hanya dengan menjadi 'orang baik' yang tidak merusaknya, namun aku abai memberikan kasih yang tulus untuk memulihkannya.
Aku telah berhutang banyak pada bumi yang menyediakan udara dan air bagiku, namun sering kali aku terlalu 'dingin' untuk memikirkan luka-luka lingkungan yang diakibatkan oleh kenyamananku.
Mari kita mulai mencintai alam sebagai respons atas syukur kita kepada Tuhan. Kita mulai dari tindakan yang mungkin terlihat 'merepotkan' atau 'tidak praktis' bagi orang lain, seperti menolak plastik sekali pakai atau memilah sampah di meja kantor, sebagai cara kita membasuh kaki Sang Pencipta melalui ciptaan-Nya.
Sumber: Buku Renungan Tiga Titik
Oleh: Yoseph Deddy Kurniawan
Doa
Ya Tuhan, ampunilah kami yang sering memilih kenyamanan diri di atas kelestarian karya tangan-Mu. Biarlah syukur kami atas pengampunan-Mu tercermin melalui kesediaan kami untuk berkorban bagi keutuhan alam, sebagai bukti bahwa kami mengasihi-Mu dengan segenap keberadaan kami. Amin.
Itulah renungan harian Katolik Kamis, 17 September 2026 lengkap dengan bacaannya. Tuhan Yesus memberkati!
