Curhat Pelaku Usaha di Makassar Omzet Turun 50% Imbas Antrean BBM Kian Parah

Curhat Pelaku Usaha di Makassar Omzet Turun 50% Imbas Antrean BBM Kian Parah

Tim detikSulsel - detikSulsel
Minggu, 13 Sep 2026 09:21 WIB
Kafe Peluk di Makassar sepi pengunjung imbas antrean BBM di SPBU.
Kafe Peluk di Makassar sepi pengunjung imbas antrean BBM di SPBU. Foto: (Fadli Ilham/detikSulsel)
Makassar -

Efek antrean bahan bakar minyak (BBM) di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), mulai dirasakan pelaku usaha. Omzet mereka turun drastis hingga 50 persen sejak antrean mulai mengular hingga belakangan kian parah.

Kondisi itu salah satunya dirasakan pemilik rumah makan di Makassar, Tiara Purnama. Dia mengaku langsung sepi orderan karena banyak pelanggannya yang ikut mengantre BBM maupun LPG 3 Kg.

"Selama ini omzet yang kita dapat per hari itu lumayan alhamdulillah, tapi sekarang ini berkurang. Karena mungkin bensin sulit, langka, orang terbatas, kemudian otomatis dagangan yang kita mau jual, gas langka," kata Tiara kepada detikSulsel, Sabtu (12/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menuturkan, biasanya omzet rumah makannya sudah bisa mencapai Rp 3 juta dalam setengah hari sejak pukul 09.00 hingga 14.00. Namun, beberapa hari terakhir terjadi penurunan drastis yang mencapai 50 persen lebih.

"Biasanya kita kalau normal dari pagi sampai jam 2 siang itu alhamdulillah dapat Rp 3 juta. Sekarang semenjak 5 hari kemarin itu kita hanya dapat Rp 1 jutaan," katanya.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, Tiara juga enggan menyesuaikan harga menu makanan lebih tinggi. Menurutnya, kondisi tersebut hanya dapat disiasati dengan mengurangi porsi makanan sambil menunggu situasi kondusif lagi.

"Harganya tetap normal kami kasi, kita tidak mungkin kasi naik tapi tetap kita sendiri yang jadi kendala, jadi disiasati saja," jelasnya.

Tiara juga menyebut orderan catering-nya turut kena imbas. Dia menyebut cukup banyak pesanan catering makanan dibatalkan akibat lamanya pengantaran karena kehabisan BBM.

"Jadi kejadian seperti ini sangat berdampak terhadap industri rumah tangga. Pertama banyak orderan jadi ter-cancel. Intinya itu sangat berdampak tidak sesuai dengan kinerja kami saat normal," ungkapnya.

Omzet Kafe Terjun Bebas

Tak hanya Tiara, kondisi yang sama juga dialami di Zul sebagai salah satu karyawan Kafe Peluk Space di Kecamatan Panakkukang, Makassar. Zul mengungkapkan sepinya pengunjung sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir.

"Sangat terdampak di sini. Di sini sudah 2 hari kurang sekali pengunjung, ini sampai siang baru 2 orang pengunjung, biasa tidak begini," katanya.

Omzet Kafe Peluk secara umum untuk malam hari biasa mencapai Rp 1 juta lebih. Kini, hanya bisa meraup keuntungan Rp500 ribu akibat sepi pengunjung.

"Tadi malam itu sampai tutup kasir hanya Rp 500 ribu di dapat, biasa di sini full apalagi kalau malam, kita bisa dapat Rp 1 juta lebih," ungkapnya.

Dirinya tak menampik kondisi seperti itu terjadi akibat antrean BBM yang sudah terjadi beberapa hari. Zul yang biasa ke tempat kerja menggunakan motor pribadinya, kini hanya harus naik grab karena tidak sempat mengantre BBM.

"Ini saja saya sama barista yang lain ke sini tempat kerja naik grab, habis bensin. Mau pergi mengantre pasti tidak sempat kerja," pungkasnya.

Pertamina Klaim Stok BBM Aman dan Mencukupi

Terkait kondisi ini, Pertamina menyebut stok BBM aman dan mencukupi. Hanya saja disebut sedang ada kepanikan dari masyarakat dalam membeli BBM alias panic buying.

"Kalau untuk stok sendiri di kami sampai saat ini dalam kondisi yang aman dan mencukupi," ujar Pjs Area Manager Communication, Relations dan CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Okky Aditya Wibowo kepada detikSulsel, Kamis (10/9).

Menurut Okky, ada kecenderungan masyarakat terpengaruh informasi dari media sosial terkait kelangkaan BBM. Walhasil, masyarakat berbondong-bondong membeli BBM meski harus mengantre di SPBU karena khawatir tidak kebagian.

"Iya, yang kami lihat seperti itu (panic buying) karena banyak akun media sosial (menyebut) BBM langka. Masyarakat kan mungkin melihat di SPBU ini antre, nanti saya tidak kebagian, jadi mereka panik. Karena kalau masyarakat panik, berapa pun yang akan kami stok di SPBU juga akan tetap kurang," papar Okky.

"Kalau orang panik yang tadinya mungkin Rp 100 ribu cukup, kalau diisi Rp 200-300 ribu juga nggak cukup, karena semua orang panik nih. Takutnya nanti kehabisan, jadi semuanya pada ngisi," imbuhnya.



(asm/asm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads