Bentrok Ortu Siswa SPIDI Vs Massa Ponpes Maros Dipicu Sengketa Lahan Keluarga

Bentrok Ortu Siswa SPIDI Vs Massa Ponpes Maros Dipicu Sengketa Lahan Keluarga

Muhammad Subhan - detikSulsel
Kamis, 10 Sep 2026 16:15 WIB
Keributan terjadi diduga melibatkan orang tua santri Sekolah Putri Darul Istiqomah (SPIDI) bersama pihak sekolah dengan massa Ponpes Darul Istiqomah di Kabupaten Maros.
Foto: Keributan terjadi diduga melibatkan orang tua siswa Sekolah Putri Darul Istiqomah (SPIDI) bersama pihak sekolah dengan massa Ponpes Darul Istiqomah di Kabupaten Maros. (Reindhard Soplantila/detikSulsel)
Maros -

Bentrokan antara orang tua (ortu) siswi Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) dengan massa Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Istiqamah di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), dipicu sengketa lahan keluarga antarsaudara. Konflik lahan ini membuat ortu siswi protes karena dianggap mengganggu proses belajar mengajar sekolah.

"Akar masalahnya ini perselisihan internal keluarga. Konflik sengketa lahan ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa titik temu," kata Tim Markom SPIDI Maros, Minar kepada detikSulsel, Kamis (10/9/2026).

Minar belum merinci sejak kapan sengketa lahan itu dimulai. Kendati begitu, perselisihan menahun ini melibatkan sesama saudara selaku pengelola SPIDI dan pengelola pesantren.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

SPIDI di bawah naungan ustaz Muzayyin Arief dan Direktur Nurlisa Arief. Pihak SPIDI mengklaim mengantongi izin operasional serta berbadan hukum resmi.

Sementara pihak Pesantren Darul Istiqamah diampu oleh saudara kandung Muzayyin, yaitu Ustaz Mufassir, Muallim, dan Muzakkir. Pihak ponpes juga berdalih memiliki hak atas tanah yang ditempati SPIDI.

ADVERTISEMENT

"Sebenarnya ini konflik internal keluarga. Pihak pesantren mengklaim lahan ini dengan dua alasan, kadang mengatasnamakan warisan, kadang menyebut sebagai tanah wakaf. Namun kedua klaim tersebut tidak memiliki bukti," ujarnya

Menurut Minar, orang tua dari kedua pengelola SPIDI maupun Ponpes Darul Istiqamah Maros sedianya sudah pernah melakukan mediasi. Kendati begitu, mediasi gagal lantaran pihak ponpes tidak hadir.

"SPIDI dan Pesantren Darul Istiqamah itu dua lembaga berbeda. Mediasi kekeluargaan sebenarnya sudah pernah diupayakan, tetapi pihak pesantren tidak hadir," beber Minar.

Seiring berjalannya waktu, pihak ponpes disebut kerap berupaya mengambil alih lahan yang ditempati SPIDI. Konflik sengketa lahan lalu kembali memasuki puncaknya saat pihak ponpes dianggap menerobos masuk ke kawasan SPIDI sejak Jumat (4/9).

"Mereka masuk dan menduduki secara paksa lingkungan sekolah, melakukan aktivitas seperti memasang tenda, menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada di dalam kelas, bahkan ada yang memasak sampai bermain bulu tangkis di sana," ungkapnya.

Upaya menduduki lahan yang berlangsung selama beberapa hari pun memanas setelah ada pemasangan garis polisi (police line) di depan area portal sekolah. Hal ini diduga memicu kemarahan pihak Pesantren Darul Istiqamah.

"Awal masalahnya itu dari adanya pemasangan police line di depan portal. Pihak Darul Istiqamah ini marah karena dipasangkan police line di situ," tuturnya.

Kondisi itu membuat kawasan SPIDI didatangi sekelompok orang yang diduga dari massa ponpes pada Selasa (8/9) pagi. Kedatangan massa memicu protes dari orang tua siswa SPIDI karena dianggap mengganggu proses pembelajaran.

"Orang tua siswa protes karena mereka mengkhawatirkan ada intimidasi. Anak-anak jadi tidak bisa belajar dengan aman di sekolah," tambah Minar.

Ortu siswa SPIDI terlibat adu mulut dengan massa dari ponpes. Polisi yang menerima informasi pun turun memisahkan kedua kelompok agar keributan tidak kembali meluas.

"Kami sudah berusaha menyuruh mereka pergi dari lingkungan sekolah. Pihak SPIDI sudah menyatakan, kalau ingin menyelesaikan masalah ini, ayo kita selesaikan secara hukum. Tapi sampai sekarang mereka masih ada di lingkungan sekolah," imbuh Minar.

Sementara itu, Kabag Ops Polres Maros Kompol Syarifuddin mengakui keributan dipicu sengketa lahan meski tidak dirinci perkembangan perkara tersebut. Dia berharap kedua belah pihak yang berselisih bisa saling menahan diri.

"Kita kurang mendalami, tapi informasi bahwa (sengketa kepemilikan lahan antara dua yayasan) ini sudah berjalan beberapa tahun," ujar Kabag Ops Polres Maros Kompol Syarifuddin kepada wartawan di lokasi, Selasa (8/9).

Di satu sisi, wartawan detikSulsel telah berupaya menghubungi Pengelola Pesantren Darul Istiqamah Maros, Ustaz Muallim Arif terkait perkara tersebut. Kendari begitu, Ustaz Muallim belum memberikan tanggapan.



(sar/ata)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads