100 Hektare Lahan di Maluku Tengah Terbakar, Api Sudah 21 Hari Belum Padam

100 Hektare Lahan di Maluku Tengah Terbakar, Api Sudah 21 Hari Belum Padam

Muhammad Jaya Barends - detikSulsel
Minggu, 06 Sep 2026 15:10 WIB
Kebakaran hutan di Desa Wailulu, telah berlangsung lebih dari 21 hari, menghanguskan 100 hektar lahan.
Kebakaran hutan di Desa Wailulu, telah berlangsung lebih dari 21 hari, menghanguskan 100 hektar lahan. Foto: dok istimewa
Maluku Tengah -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Wailulu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, sudah lebih dari 21 hari belum padam. Lahan yang terbakar diperkirakan sudah mencapai 100 hectare.

"Karhutla sudah terjadi 21 hari lebih di hutan desa dan api belum berhasil dipadamkan. Area yang terbakar diperkirakan mencapai 100 hektar lebih," kata Kepala Pemerintah Negeri atau Desa Wailulu, Muslim Tounussa kepada detikcom, Minggu (6/9/2026).

Muslim mengatakan karhutla di Desa Wailulu telah terjadi sebelum tanggal 17 Agustus 2026. Lahan yang terbakar merupakan kebun warga yang ditanami pala, cengkih hingga durian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karhutla masih terjadi hingga mengakibatkan pohon pala, cengkih, kelapa dan durian juga ikut terbakar," bebernya.

ADVERTISEMENT

Pihak Pemerintah Daerah Maluku Tengah telah melakukan peninjauan. Namun hingga kini belum ada langkah penanganan agar api padam.

"Pihak pemerintah daerah sudah melakukan peninjauan tetapi belum melakukan penanganan terkait karhutla," ucapnya.

Muslim mengungkapkan hingga Minggu (6/9) pukul 16.11 WIT, kebakaran hutan masih terjadi. Warga desa pun melakukan pemadaman dengan alat seadanya.

"Yah, kita melakukan pemadaman dengan alat seadanya saja. Bahkan ada warga juga terpaksa tinggal di hutan agar menjaga api tidak menjalar ke kebun," jelasnya.

Selain api yang belum berhasil dipadamkan, warga desa juga mulai kekurangan makanan. Dia berharap pemerintah terkait turun membantu warga untuk memadamkan api.

"Kalau tidak ada penanganan karhutla, minimal berikan bantuan berupa makanan karena stoknya sudah mulai menipis. Setiap saat warga selalu disibukan dengan karhutla, bagaimana mereka mau bekerja," imbuhnya.



(hsr/sar)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads