BMKG Jelaskan Penyebab Hujan di Luwu Meski Kemarau Panjang

BMKG Jelaskan Penyebab Hujan di Luwu Meski Kemarau Panjang

Tim detikSulsel - detikSulsel
Sabtu, 05 Sep 2026 17:00 WIB
Hujan perdana di Luwu usai 2 bulan kekeringan.
Hujan perdana di Luwu usai 2 bulan kekeringan. Foto: (dok. istimewa)
Makassar -

Hujan mengguyur wilayah Belopa di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel), meski masih kemarau panjang. BMKG menjelaskan, wilayah Luwu dan sekitarnya memang memiliki karakteristik yang berbeda saat memasuki musim kemarau.

"Pagi ini ada hujan di sebagian wilayah Luwu, Luwu Utara," ujar Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar Amhar Ulfiana kepada detikSulsel, Sabtu (5/9/2026).

Amhar mengatakan hujan juga sempat mengguyur wilayah lain di Luwu Raya pada Jumat (4/9). Namun hujan disebut tidak merata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Masih ada beberapa wilayah yang ada hujan, walaupun hujannya tidak merata. Misalnya kemarin (4 September) ada hujan di wilayah Luwu Utara, Luwu Timur," ungkapnya.

Dia menjelaskan, secara umum Sulsel memiliki tipe musim yang berbeda-beda. BMKG membaginya menjadi 24 zona musim.

ADVERTISEMENT

"Di Sulsel ada 24 zona musim. Wilayah-wilayah ini memiliki awal musim, puncak musim, durasi musim, sampai sifat hujan yang bervariasi. Perbedaan ini dikarenakan beberapa faktor, termasuk salah satunya faktor lokal, kondisi topografi Sulsel yang unik," paparnya.

"Khusus wilayah utara, kebanyakan wilayah mulai musim kemaraunya di semester 2. Dan itu pun masih ada hujan. Sama-sama kemarau, namun wilayah utara hujannya masih lebih tinggi dibanding wilayah barat pada bulan yang sama," imbuhnya.

Di sisi lain, penyebab hujan di wilayah utara Sulsel turut dipicu adanya Gelombang Rossby dan Kelvin. Dia menyebut kondisi itu terjadi sejak dua hari lalu.

"Meskipun saat ini ada kondisi El Nino sangat kuat yang berpengaruh pada penurunan curah hujan, namun 2 hari yang lalu dan hari ini ada Gelombang Rossby dan Kelvin yang sedang aktif di Sulsel yang mendukung terjadinya hujan di sebagian wilayah Sulsel," katanya.

Diberitakan sebelumnya, hujan mengguyur wilayah Belopa pada Sabtu (5/9) sekitar pukul 12.00-14.00 Wita. Selain Belopa, hujan dilaporkan juga mengguyur Kecamatan Suli.

"Kalau di Belopa deras, saya tidak tahu kalau di Suli, cuma na bilang juga temanku hujan juga," kata seorang warga bernama Pika kepada detikSulsel, Sabtu (5/9).

Warga menyambut positif hujan ini. Menurut Pika, kemarau panjang menjadikan beberapa tanaman kering dan mati.

"Bagus mi ini kodong, itu kemarin kering kerontang mi itu sawah," ucap Pika.

Dampak kekeringan saat kemarau sangat dirasakan petani. Hasil komoditas pangan banyak yang mati. Situasi ini juga membuat harga pangan naik.

"Itu lombok sampai mi Rp 95 ribu satu kilo, karena na bilang petani banyak sekali mati lomboknya," jelasnya.



(asm/sar)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads