Teks Anekdot: Pengertian, Struktur, hingga Contohnya

Teks Anekdot: Pengertian, Struktur, hingga Contohnya

Osmawanti Panggalo - detikSulsel
Rabu, 02 Sep 2026 21:00 WIB
Ilustrasi menulis kalimat dalam teks
Ilustrasi teks anekdot (Foto: Pixabay/annazuc)
Makassar -

Teks anekdot merupakan salah satu jenis teks yang kerap dijumpai dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, teks anekdot juga dapat ditemukan dalam berbagai cerita yang menghibur dan mengandung pesan atau sindiran tertentu.

Lantas, apa itu teks anekdot?

Nah, di bawah ini detikSulsel telah merangkum informasi lengkap mengenai teks anekdot, mulai dari pengertian, struktur, unsur kebahasaan, cara membuat teks anekdot hingga contoh-contohnya. Yuk, simak!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengertian Teks Anekdot

Teks anekdot merupakan cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan. Anekdot mengangkat cerita tentang orang penting (tokoh masyarakat) atau terkenal umumnya berdasarkan kejadian yang sebenarnya.

Kejadian nyata tersebut kemudian dijadikan dasar cerita lucu dengan menambahkan unsur rekaan. Seringkali, partisipan (pelaku cerita), tempat kejadian, dan waktu peristiwa dalam anekdot tersebut merupakan hasil rekaan.

ADVERTISEMENT

Meskipun begitu, ada juga kejadian yang tidak berasal dari kejadian nyata. Berikut pengertian teks anekdot menurut para ahli:

  1. Danandjaja: Anekdot sebagai kisah fiktif lucu mengenai pribadi seorang tokoh atau beberapa tokoh yang benar-benar ada.
  2. Wachidah: Teks anekdot pada umumnya terdiri dari lima bagian atau struktur. Lima bagian tersebut adalah abstrak, orientasi, krisis, reaksi, dan koda.
  3. Graham: Kata anekdot digunakan untuk memaknai kata "joke" dalam bahasa Inggris, yang memiliki makna suatu narasi atau percakapan yang lucu atau "humoris".
  4. Wijana: Teks anekdot merupakan teks atau wacana yang bermuatan humor untuk menyindir, bersenda gurau atau mengkritik secara tidak langsung segala macam kepincangan dan ketidakberesan yang tengah terjadi di kalangan masyarakat penciptanya. [1]

Tujuan Teks Anekdot

  1. Menghibur pembaca, tetapi tidak semata-mata dibuat sebagai lelucon untuk membangkitkan tawa.
  2. Menyampaikan suatu kebenaran atau gambaran umum melalui cerita singkat yang disajikan.
  3. Menggambarkan karakter atau perilaku seorang tokoh berdasarkan pandangan atau penilaian masyarakat.
  4. Menyampaikan sindiran terhadap suatu keadaan, perilaku, atau persoalan tertentu.
  5. Menyampaikan kritik secara tidak langsung melalui cerita yang ringan dan menghibur.
  6. Membuka pikiran pembaca agar dapat melihat atau memahami suatu persoalan dari sudut pandang tertentu. [1]

Struktur Teks Anekdot

Teks anekdot juga memiliki struktur-struktur dalam pembentukannya. Struktur teks anekdot antara lain abstraksi, orientasi, event, krisis, reaksi, koda, dan re-orientasi. Adapun struktur teks anekdot yang mesti diketahui, yaitu sebagai berikut.

  1. Abstraksi
    Bagian awal dari paragraf yang dapat memberikan suatu gambaran umum yang mengenai isi teks anekdot tersebut.
  2. Orientasi
    Suatu kondisi dimana kejadian berawal.
  3. Krisis
    Permasalahan yang utama terdapat dalam teks anekdot atau memunculkan masalah.
  4. Reaksi
    Memunculkan reaksi untuk dapat menyelesaikan masalah yang timbul dalam krisis.
  5. Koda / re-orientasi
    Terdapat pada bagian akhir dari teks anekdot. [1]

Kaidah Kebahasaan Teks Anekdot

Teks anekdot memiliki sejumlah kaida kebahasaan yang menjadi ciri khas dalam penyajiannya. Untuk lebih memahami ciri kebahasaan tersebut, berikut beberapa kaidah kebahasaan yang umum digunakan dalam teks anekdot:

  1. Teks anekdot bersifat humor atau lelucon, artinya teks anekdot berisikan kisah-kisah lucu atau bualan.
  2. Bersifat menggelitik, artinya teks anekdot akan membuat pembacanya merasa terhibur dengan kelucuan yang ada dalam teks.
  3. Bersifat menyindir.
  4. Bisa jadi mengenai orang penting.
  5. Memiliki tujuan tertentu.
  6. Kisah cerita yang disajikan hampir menyerupai dongeng.
  7. Menceritakan tentang karakter hewan dan manusia sering terhubung secara umum dan realistis.
  8. Menceritakan manusia pada umum secara realistis
  9. Biasanya mengenai orang-orang penting. [1]

Kaidah Kebahasaan Teks Anekdot

Teks anekdot juga memiliki kaidah kebahasaan tersendiri berbeda dari teks lainnya, yakni:

  1. Teks anekdot menggunakan waktu lampau, adapun contohnya yaitu saya tidak bisa tidur sampai semalaman
  2. Teks anekdot menggunakan pernyataan retoris, adapun contohnya yaitu apakah dia tahu?
  3. Teks anekdot menggunakan kata penghubung atau konjungsi, adapun contohnya yaitu: lalu, setelah itu, kemudian, dan lain-lain
  4. Teks anekdot menggunakan kata kerja, adapun contohnya: pergi, duduk, dan berdiri.
  5. Teks anekdot menggunakan kalimat perintah, adapun contohnya yaitu buanglah, ambillah dan lain-lain
  6. Teks anekdot menggunakan kalimat seru. [1]

Langkah-Langkah Menulis Teks Anekdot

Berikut adalah langkah-langkah menulis teks anekdot:

  1. Menentukan topik sebagai masalah yang akan disorot
  2. Menentukan tokoh terkait
  3. Menentukan peristiwa yang menjadi latar belakang
  4. Merinci peristiwa dalam alur anekdot yang meliputi abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda
  5. Mengembangkan kerangka anekdot menjadi sebuah cerita yang utuh
  6. Penyuntingan. [1]

Contoh Teks Anekdot

1. Nangka Impor

Seorang teman diplomat yang baru ditempatkan di Belanda bercerita, Saya pernah makan siang di sebuah restoran Indonesia sederhana di Amsterdam. Saya kaget, ternyata salah satu menunya ada masakan gudeg Yogya. Saya penasaran. Maka langsung saya pesan satu porsi. Setelah saya cicipi, percaya atau tidak, ternyata rasanya lebih enak daripada gudeg di Yogya yang asli! Karena penasaran, maka saya bertanya: "Mas, apa rahasianya kok gudeg di sini rasanya lebih enak dibandingkan dengan di tempat aslinya?" "Oh, itu karena nangkanya, Mas. Di Yogya kan pakai nangka lokal. Nah kalau kami di sini memakai nangka impor," jawabnya. "Emang nangkanya impor dari mana?" "Dari Yogya, Mas..."

2. Sebuah Mobil Ambulans

Sebuah mobil ambulans yang mengangkut beberapa orang pasien sakit jiwa terpaksa berhenti di tengah jalan karena bannya bocor. Ketika sedang mengganti ban, si Sopir tak sengaja menendang ke empat bautnya hingga masuk selokan. Dengan panik si Sopir berteriak, "Waduuuh, gimana gue bisa pasang ban kalau bautnya hilang?" Mendengar teriakan itu, salah seorang pasien gila nyeletuk, "Bang copotin aja tuh satu baut dari masing-masing tiga roda lainnya. Terus pasang ke bannya. Jadi, masing-masing ban dapat tiga baut. Ntar kalau ada toko baut, tinggal beli empat baut." Mendengar usul pasien gila tersebut, si Sopir langsung lega. "Pinter juga Lo tapi ... kenapa Lo masuk rumah sakit jiwa sih?" Pasien itu menjawab, "Helooooo... plis dech, kita ini cuma gila. Bukan bego kayak Lo." [1]

3. Tak Punya Latar Belakang Presiden

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memang unik. Dalam situasi genting dan sangat penting pun dia masih sering meluncurkan joke-joke yang mencerdaskan. Seperti yang dituturkan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD saat di-interview salah satu televisi swasta. "Waktu itu saya hampir menolak penunjukannya sebagai Menteri Pertahanan. Alasan saya, karena saya tidak memiliki latar belakang soal TNI/Polri atau pertahanan," ujar Pak Mahfud.

Tak disangka, jawaban Gus Dur waktu itu tidak kalah cerdiknya. "Pak Mahfud harus bisa. Saya saja menjadi Presiden tidak perlu memiliki latar belakang presiden kok," ujar Gus Dur santai.

Jelas saja Pak Mahfud MD pun tidak berkutik. "Gus Dur memang aneh. Kalau nggak aneh, pasti nggak akan memilih saya sebagai Menhan," kelakar Pak Mahfud.

4. Anak Artis

Pada suatu hari di salah satu warung tenda kawasan Kemang. Devano, anak salah satu artis terkenal memanggil pelayan untuk meminta nota pembayaran.
Devano : "Berapa semuanya?"
Pelayan : "Semuanya Rp 132.000,00, Kak."

Devano yang memang ngga punya uang lima puluh ribuan langsung saja menyodorkan dua lembar seratus ribu.
Pelayan : "Ini kak, kembaliannya."
Devano : "Sudah... simpan saja buat keluarga kamu."
Pelayan merasa senang karena menerima enam puluh delapan ribu rupiah dan langsung berterima kasih kepada Devano.

Setelah beberapa jam kemudian, Keisha yang juga anak artis terkenal memanggil pelayan untuk meminta nota pembayaran.
Keisya : "Berapa semuanya?"
Pelayan : "Semuanya Rp 127.000,00, Kak."
Keisya menyodorkan tiga lembar lima puluh ribu.
Pelayan : "Ini kak, kembaliannya."
Devano : "Sudah... simpan saja tip untuk kamu."
Pelayan langsung memasukkan kembalian itu ke kantongnya dan berterima kasih banyak ke Keisya.

Setelah beberapa jam Soimah pun memanggil pelayan untuk meminta nota pembayaran
Soimah : "Berapa?"
Pelayan : "Semuanya Rp 145.000."
Soimah menyodorkan tiga lembar lima puluh ribu dan menunggu beberapa menit, kemudian..
Soimah : "Loh, mana uang kembalian saya?'
Pelayan : "Ah, Kakak, masa uang lima ribu rupiah saja dikembalikan. Tadi Devano dan Keisya kembaliannya enam puluh delapan ribu rupiah dan dua puluh tiga ribu saja diberikan
ke saya, masa kakak yang artis terkenal, lima ribu saja minta dikembalikan?"
Soimah : "Tunggu dulu kamu tahu siapa Devano dan Keisya?"

Pelayan dengan cekatan menjawab:
"Yah tahu, Kak! Devano dan Keisya anak artis terkenal."
Soimah : "Pintar kamu, tahu mereka anak artis. Nah sedangkan saya, kan anak penjual ikan!! Sekarang, mana kembalian saya?"
Pelayan : "!%$%?"

5. Tidak Terlalu Dalam

Telah berulang kali Nasrudin mendatangi seorang hakim untuk mengurus suatu perjanjian. Hakim di desanya selalu mengatakan tidak punya waktu untuk menandatangani perjanjian itu. Keadaan ini selalu berulang sehingga Nasrudin menyimpulkan bahwa si hakim minta disogok.Tapi kita tahu menyogok itu diharamkan. Maka Nasrudin memutuskan untuk melemparkan keputusan ke si hakim sendiri.
Nasrudin menyiapkan sebuah gentong. Gentong itu diisinya dengan tahi sapi hingga hampir penuh. Kemudian di atasnya, Nasrudin mengoleskan mentega beberapa sentimeter tebalnya. Gentong itu dibawanya ke hadapan Pak Hakim. Saat itu juga Pak Hakim langsung tidak sibuk, dan punya waktu untuk membubuhi tanda tangan pada perjanjian Nasrudin.
Nasrudin kemudian bertanya, "Tuan, apakah pantas Tuan Hakim mengambil gentong mentega itu sebagai ganti tanda tangan Tuan?"
Hakim tersenyum lebar."Ah, kau jangan terlalu dalam memikirkannya."
Ia mencuil sedikit mentega dan mencicipinya. "Wah, enak benar mentega ini!"
"Yah," jawab Nasrudin, "Sesuai ucapan Tuan sendiri, jangan terlalu dalam!"
Dan berlalulah Nasrudin. [2]

Itulah informasi lengkap mengenai teks anekdot. Semoga menambah wawasan ya, detikers!

Sumber:

  1. Buku Bahan Ajar Bahasa Indonesia Materi Teks Anekdot oleh Kabul Prasetya dan Dedi Wujayanti
  2. Modul Pembelajaran Bahasa Indonesia oleh Indri Anatya Permatasari


(alk/alk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads