ASDP Buka-Tutup Pelayaran Pelabuhan Bira Imbas Cuaca Buruk

ASDP Buka-Tutup Pelayaran Pelabuhan Bira Imbas Cuaca Buruk

Sahrul Alim - detikSulsel
Jumat, 21 Agu 2026 17:10 WIB
Kapal feri saat sandar di Pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukumba.
Foto: dok. ASDP Cabang Selayar
Bulukumba -

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Selayar menerapkan sistem buka-tutup pelayaran di Pelabuhan Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel). Kebijakan itu dilakukan menyusul cuaca buruk yang dipengaruhi angin timur dan kondisi gelombang yang dinilai tidak kondusif untuk pelayaran.

General Manager (GM) PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Selayar Fauzi mengatakan penundaan keberangkatan dilakukan berdasarkan kondisi cuaca dan hasil pemantauan BMKG. Keputusan pelayaran juga dikoordinasikan dengan syahbandar dengan mengutamakan keselamatan pengguna jasa dan awak kapal.

"Jadi memang kami dari ASDP mengutamakan keselamatan. Terlebih memang dalam beberapa hari ini sesuai dengan laporan yang kami terima dari BMKG. Khususnya nakhoda, jadi nakhoda mengambil keputusan untuk menunda keberangkatan karena faktor cuaca sampai dengan cuaca kembali normal atau atau kondusif dan tentunya keputusan ini sudah dikoordinasikan dengan syahbandar terkait," ujar Fauzi kepada detikSulsel, Jumat (21/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menjelaskan penutupan pelabuhan tidak dilakukan sepanjang hari maupun berhari-hari. Pelayaran dapat kembali dibuka apabila kondisi cuaca dinilai aman, namun kembali dihentikan jika cuaca memburuk.

"Memang kondisional, ini beberapa jam, setelah itu akan kita buka lagi. Jadi tidak hitungan berhari-hari. Kadang pagi, trip pertama jalan, tapi ketika mau masuk trip kedua karena cuaca, kita off," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Menurut Fauzi, kondisi angin timur juga berdampak terhadap sejumlah lintasan perintis. Beberapa pelayaran bahkan ditunda hingga malam karena kondisi cuaca belum memungkinkan.

"Termasuk juga di lintasan perintis, kayak sampai malam ini ditunda karena memang kita tidak bisa memastikan karena masih angin timur. Jadi secara cuaca sangat mempengaruhi terkait pelayaran," tuturnya.

Fauzi menegaskan pola buka-tutup pelayaran tersebut bukan kebijakan baru. Kapal akan tetap beroperasi ketika kondisi cuaca memungkinkan dan dihentikan sementara jika dinilai tidak layak berlayar.

"Iya buka tutup, Itu sudah dari dulu memang seperti itu termasuk di lintasan yang padat ketika memang cuacanya memburuk, tidak kondusif di off kan. Ketika cuaca sudah oke dia akan dibuka kembali dan tentunya kalau pas cuacanya tidak memungkinkan, tidak layak untuk berlayar kita akan berikan pengumuman. Ketika sudah oke, kita akan sampaikan kembali," jelasnya.

Dia menyebut kondisi cuaca buruk ini sudah menyebabkan lintasan ASDP juga terdampak dalam sepekan terakhir. Di antaranya lintasan Bira-Pamatata serta lintasan perintis Bira-Jampea dan Jampea-Labuan Bajo.

"Dari KMP 1 Pallangga dari lintasan Bira, kemudian Jampea ke Labuan Bajo, itu sempat mengalami penundaan, bahkan kapalnya sudah berlayar kemudian kapalnya kembali lagi ke Labuan Bajo," katanya.

"Seperti itu termasuk juga kemarin di lintasan Bira-Pamatata itu kapal kami tunda atau tidak jadi berangkat karena faktor cuaca. Yang jelas memang cuaca sangat dinamis walau pun kami juga sudah mendapatkan prediksinya dalam beberapa hari ke depan, itu kita terus pantau terkait dengan kondisi cuaca," sambung Fauzi.

Pihaknya mengaku tidak dapat memastikan jumlah perjalanan yang akan dilakukan setiap hari karena kondisi cuaca dapat berubah sewaktu-waktu. Menurutnya, keselamatan menjadi pertimbangan utama sebelum kapal diberangkatkan.

"Jadi memang kita tidak bisa menginformasikan berapa trip akan terjadi sampai kapan, pastinya kita tetap mengutamakan keselamatan," ujarnya.

Fauzi menuturkan dalam kondisi cuaca buruk, penundaan biasanya hanya menyebabkan perubahan jadwal perjalanan. Jika trip terakhir tidak dapat dilakukan, pelayaran akan digeser ke hari berikutnya.

"Kalau sampai hitungan hari nggak, biasanya tren yang kami alami, dalam satu hari itu biasanya kita rencanakan 3 truk, biasanya di trip kedua sudah mulai off, tidak sampai ke hitungan hari," katanya.

"Cuma bergeser jam. Atau paling tidak trip terakhir berganti besok," lanjutnya.

Fauzi mengatakan, angin timur memang menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai dalam pelayaran. Selain angin, kondisi gelombang juga terus dipantau oleh pihak ASDP bersama sejumlah stakeholder.

"Tentunya alam itu sudah mempunyai siklus, munson itu badai yah, istilahnya saja. Mudahnya angin barat, angin timur. Sekarang memang periodenya angin timur, tentunya ini sangat berdampak terkait dengan pelayaran. Termasuk gelombang, angin, menjadi catatan, makanya kami tetap melakukan monitor, memastikan alat di kapal," pungkasnya.



(asm/ata)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads