Apa itu Sampah Residu? Ini Jenis, Contoh, dan Cara Mengelolanya

Apa itu Sampah Residu? Ini Jenis, Contoh, dan Cara Mengelolanya

Iswandy Rusli - detikSulsel
Rabu, 29 Jul 2026 20:15 WIB
Pemulung memilah sampah di area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (5/1/2026). Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) membebaskan 20 bidang lahan warga seluas sekitar 2,8 hektare untuk penataan dan pelancaran akses keluar-masuk armada bongkar muat sampah dalam rangka perluasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang Tamangapa sebagai langkah strategis penanganan darurat sampah. ANTARA FOTO/Hasrul Said
Foto: ANTARA FOTO/Hasrul Said
Makassar -

Pengelolaan sampah yang tepat dimulai dari kemampuan mengenali jenis-jenis sampah yang dihasilkan setiap hari. Salah satu jenis sampah yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah sampah residu.

Sayangnya, masih banyak orang yang belum memahami apa saja yang termasuk sampah residu. Padahal, pemilahan yang tepat dapat membantu mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus mendukung pengelolaan sampah yang lebih efektif.

Apa itu Sampah Residu?

Sampah residu adalah jenis sampah yang sulit untuk didaur ulang dan diolah secara biologis karena alasan teknis maupun ekonomis. Dalam hierarki pengelolaan sampah modern, residu merupakan bagian yang benar-benar tidak bisa diapa-apakan lagi dan harus dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) atau diolah menggunakan teknologi termal suhu tinggi.[1]

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di kota-kota besar Indonesia, persentase residu terus meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin mengandalkan produk sekali pakai. Sampah residu biasanya menjadi beban terbesar bagi TPA karena tidak memiliki nilai ekonomi dan sulit dikelola.

Contoh Sampah Residu dalam Kehidupan Sehari-hari

Berikut beberapa contoh sampah residu yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari:

ADVERTISEMENT

Sampah Residu Rumah Tangga

  • Popok sekali pakai bekas;
  • Pembalut bekas;
  • Tisu bekas yang terkena minyak, makanan, atau cairan tubuh;
  • Masker sekali pakai bekas;
  • Kapas dan cotton bud bekas;
  • Puntung rokok dan abu rokok;
  • Debu dari sapu atau vacuum cleaner;
  • Styrofoam bekas makanan yang kotor;
  • Karet gelang atau karet yang sudah rusak;
  • Pecahan kaca kecil yang tidak dapat didaur ulang karena terkontaminasi;
  • Isolasi, lakban, dan stiker bekas;
  • Bulu hewan peliharaan serta rambut hasil potong.

Sampah Kemasan Berlapisan Komposit

Sampah kemasan berlapis komposit adalah kemasan yang tersusun dari dua atau lebih jenis bahan, misalnya plastik, aluminium, dan kertas yang direkatkan menjadi satu. Karena lapisannya sulit dipisahkan, kemasan ini umumnya tergolong sampah residu.

Contohnya antara lain:

  • Bungkus kopi sachet (misalnya kopi instan 3-in-1);
  • Bungkus mi instan;
  • Bungkus snack atau keripik dengan lapisan aluminium foil di bagian dalam;
  • Kemasan biskuit berlapis metalized;
  • Kemasan cokelat atau permen yang terdiri dari plastik dan aluminium;
  • Kemasan susu bubuk refill;
  • Kemasan makanan instan (bubur instan, sereal instan) yang menggunakan lapisan plastik dan aluminium;
  • Kemasan minuman sachet (kopi, teh, cokelat, minuman serbuk);
  • Kemasan detergen sachet;
  • Kemasan sampo atau sabun cair sachet.

Sampah Pecahan dan Bahan Rusak

Sampah pecahan dan bahan rusak adalah sampah yang berasal dari benda yang pecah, retak, robek, atau rusak sehingga tidak dapat digunakan kembali dan umumnya sulit didaur ulang.

Contohnya antara lain:

  • Pecahan keramik (ubin, piring, mangkuk, gelas keramik);
  • Pecahan porselen;
  • Cermin pecah;
  • Kaca jendela yang pecah atau retak;
  • Bohlam lampu pijar yang pecah (bukan lampu neon/CFL kare termasuk limbah B3);
  • Mainan plastik yang rusak parah;
  • Ember atau baskom plastik yang pecah;
  • Gantungan baju plastik yang patah;
  • Sikat gigi bekas;
  • Sisir yang patah;
  • Spons cuci piring yang sudah rusak;
  • Payung yang rusak dan tidak dapat diperbaiki;
  • Sepatu atau sandal yang rusak berat;
  • Tas yang sobek parah dan tidak layak pakai;
  • Peralatan rumah tangga berbahan plastik atau karet yang rusak, seperti gayung atau tempat sabun.

Dampak Penumpukan Sampah Residu bagi Lingkungan

Dampak penumpukan sampah residu tidak sebatas memenuhi TPA, melainkan masalah kompleks. Sejumlah besar sampah residu berakhir di TPA tanpa melalui proses pengolahan yang memadai, akibatnya volume sampah terus meningkat dan pada gilirannya dapat menyebabkan pencemaran tanah dan air.

Berikut beberapa dampak dari penumpukan sampah residu baik bagi lingkungan dan kesehatan:

  • Membebani TPA
    Ini adalah dampak paling jelas. Laporan dari World Bank, "What a Waste 2.0", memproyeksikan timbulan sampah global akan terus meningkat. Sampah residu adalah penyumbang utama yang mempercepat penuhnya kapasitas TPA dan memaksa pembukaan lahan baru.
  • Hilangnya Sumber Daya Berharga
    Setiap sachet sebenarnya mengandung material seperti plastik dan aluminium yang diekstraksi dari alam dengan biaya besar. Ketika menjadi residu, sumber daya tersebut hilang selamanya dari siklus ekonomi.
  • Ancaman Polusi Mikroplastik
    Banyak sampah residu, seperti popok atau sachet, sangat rentan terfragmentasi menjadi mikroplastik ketika bocor ke lingkungan. Menurut laporan UNEP, polusi plastik adalah ancaman serius bagi keanekaragaman hayati laut dan bahkan kesehatan manusia.[2]
  • Potensi Penyebaran Penyakit
    Sampah residu juga bisa menjadi sumber penyakit jika dibiarkan menumpuk. Hal ini lantaran membawa material yang mengandung liur, kotoran, atau darah yang menjadi sumber penyebaran penyakit.
  • Kualitas Produk Minimum
    Hasil daur ulang sampah residu kemungkinan besar tidak memenuhi standar kualitas yang baik, sehingga sulit dijual dan nilai ekonomi nya rendah.[3]

Bagaimana Cara Mengelola dan Mengurangi Sampah Residu?

Sampah residu biasanya menjadi beban terbesar bagi TPA karena tidak memiliki nilai ekonomi dan sulit dikelola. Strategi pengelolaan residu harus dilakukan dari hulu ke hilir, diawali dengan mengurangi timbunan sampah di sumber melalui edukasi minimisasi sampah serta menyediakan tempat penampungan sementara sebelum sampah diangkut ke TPA.

Kemudian menggunakan inovasi seperti penggunaan teknologi RDF (Refuse Derived Fuel) atau upaya konversi menjadi energi sebagai alternatif dalam jangka panjang.[4]

Secara umum, terdapat cara pengelolaan sampah residu, yakni:

  1. Insinerasi: Pembakaran sampah residu pada suhu tinggi untuk mengurangi volume sampah.
  2. Penguburan: Penguburan sampah residu di tempat pembuangan akhir (TPA) yang dirancang khusus untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
  3. Pengolahan khusus: Pengolahan sampah residu dengan cara khusus seperti pengolahan kimia atau fisik untuk mengurangi dampak negatifnya.[5]

FAQ Tentang Sampah Residu

  • Q: Apakah sampah residu bisa didaur ulang?
    A: Umumnya tidak, karena sulit atau tidak memungkinkan untuk didaur ulang.
  • Q: Mengapa bungkus saset masuk ke dalam kategori sampah residu?
    A: Karena terbuat dari beberapa lapisan bahan yang sulit dipisahkan untuk didaur ulang.
  • Q: Ke mana sampah residu harus dibuang?
    A: Ke tempat sampah residu atau sesuai sistem pengelolaan sampah yang berlaku di daerah setempat.

Daftar referensi:

[1] Buku Pengetahuan Lingkungan: Integrasi Teori Sains dan Inovasi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
[2] Laman Plastic Smart Cities "Mengenal Sampah Residu: Kenapa Jadi Masalah Besar untuk Daur Ulang?"
[3] Instagram Dinas Lingkungan Hidup Semarang "Kenali Sampah Residu: Bahayanya Nyata, Dampaknya Ngeri"
[4] Buku Pengelolaan dan manajemen operasional bank sampah
[5] Facebook Dinas Lingkungan Hidup Kota Binjai



(alk/alk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads